Leicester Bangkit dan Hancurkan Liverpool

Penulis: Darmansyah

Selasa, 28 Februari 2017 | 08:31 WIB

Dibaca: 0 kali

Sepekan usai ditinggal pergi sang pelatih Claudio Ranieri, Leicester City, Selasa dinihari WIB,  mengamuk dan bangkit dari keterpurukannya dengan melibas klub elitis, Liverpool, tiga gol berbanding satu  pada laga lanjutan Liga Primer.

Manajer sementara Leicester City, Craig Shakespeare, menggambarkan “kehebatan” Leicester City ini sebagai jawaban atas ejekan yang mereka terima sebagai tim kelas bawah.

“Sinyal kemenangan sudah mencuat sejak sesi pemanasan jelang pertandingan,” kata Craig.

Keputusan manajemen untuk memecat Claudio Ranieri yang musim lalu mempersembahkan titel Liga Inggris bagi The Foxes sempat mengundang reaksi negatif banyak pihak.

Namun, ketiadaan Ranieri justru melecut motivasi Jamie Vardy dan kawan=kawank untuk segera bangkit dari keterpurukan.

Mereka justru tampil menggila ketika menjamu The Reds dalam lanjutan Liga Inggris di Stadion King Power.

“Saya bisa melihat dari mata pemain bahwa mereka telah bangkit dan siap bertarung sejak pemanasan,” kata Shakespeare kepada BBC.

Pernyataan Shakespeare cukup beralasan. Pasukan Si Rubah sukses mengakhiri babak pertama dengan keunggulan dua gol lewat aksi Vardy dan Danny Drinkwater.

Memasuki babak kedua, Leicester justru makin menjadi-jadi. Mereka sukses memperbesar keunggulan jadi tiga gol di babak kedua  lewat gol kedua Vardy.

Sementara itu, Liverpool hanya mampu memperkecil ketinggalan  lewat gol Philippe Coutinho. Keunggulan Leicester tiga gol berbanding satu bertahan hingga laga usai.

“Profesionalisme pemain tak pernah saya pertanyakan. Setelah menjalani latihan bersama mereka, saya tahu kritik dari luar amat menyakitkan dan mungkin menyisakan api kecil di dalam diri mereka.”

“Mereka tahu telah bersalah terhadap performa buruk sebelumnya, namun ini hanya hasil awal dan kami harus terus membangun tim lebih baik lagi,” ujar Shakespeare.

Tambahan tiga poin dari duel lawan Liverpool membuat koleksi poin Leicester kini jadi dua puluh empat angka dan berhak menghuni peringkat kelima belas, berjarak tiga tingkat dari zona degradasi.

Leicester City sendiri hingga usai menjalani laga dengan Liverpool masih  mengalami kesulitan mencari manajer baru pengganti Claudio Ranieri.

Sejumlah langkah yang dilakukan manajemen Leicester menemui jalan buntu.

Kabar teranyar Leicester berusaha merekrut pelatih Nantes, Sergio Conceicao. Namun, presiden Nantes Waldemar Kita memastikan pihaknya tidak akan melepas legenda timnas Portugal tersebut.

“Conceicao masih punya kontrak. Bagi saya jika Juventus atau Inter Milan menghubungi, saya bisa memahami jika dia pergi. Tapi tidak Leicester, yang sedang berjuang lolos degradasi. Conceicao bisa melatih klub besar dalam dua atau tiga tahun ke depan,” ujar Kita kepada L’Equipe

Conceicao direkrut Nantes pada Desember lalu sebagai pengganti Rene Girard.

Mantan pemain Lazio itu berhasil mengangkat Nantes dari zona degradasi Ligue 1 berkat enam kemenangan dalam sepuluh pertandingan terakhir.

Pelatih lain yang menolak menangani Leicester adalah Martin O’Neill. Pelatih asal Irlandia Utara yang pernah melatih Leicester selama lima tahunitu mengaku kecewa dengan keputusan memecat Ranieri.

Usaha Leicester untuk merekrut kembali Nigel Pearson hampir pasti gagal.

Dikutip dari The Guardian, Pearson masih kesal dengan keputusan manajemen Leicester yang memecatnya meski berhasil membawa The Foxes lolos jurang degradasi pada dua tahun lalu.

Terakhir, Leicester dikabarkan berusaha meyakinkan Guus Hiddink yang pernah dua kali menjadi pelatih interim bersama Chelsea.

Hiddink juga hampir dipastikan menolak tawaran Leicester karena ingin pensiun.

Dengan sulitnya mencari pengganti Ranieri, Leicester berpeluang mempermanenkan status Craig Shakespeare yang saat ini menjadi manajer interim.

Shakespeare akan melakoni debut sebagai manajer interim Leicester saat menghadapi Liverpool di Stadion King Power dini hari nanti

Sementara itu, Jamie Vardy membantah punya andil dalam pemecatan Claudio Ranieri sebagai manajer Leicester City. Vardy juga menyatakan bahwa ia memiliki rasa hormat tinggi untuk Ranieri dan untuk pencapaiannya.

“Ada spekulasi bahwa saya terlibat dalam pemecatannya dan hal ini sama sekali tidak benar, tak bisa dibuktikan, dan sangat menyakiti saya,” kata Vardy lewat akun Instagramnya.

“Satu-satunya hal yang membuat kami bersalah adalah kami tak bisa mengeluarkan kemampuan terbaik sebagai tim, dan kami semua telah mengakui hal ini baik di ruang ganti maupun di depan publik.”

Nama Vardy mencuat dalam isu ini setelah media Inggris mengungkapkan bahwa para pemain senior bertemu dengan pemilik klub, satu malam sebelum Ranieri dipecat. Dalam pertemuan yang digelar di Sevilla, Spanyol, itu para pemain menyatakan kecemasan atas beberapa keputusan Ranieri.

Lewat akun Instagram, Vardy menyatakan bahwa isu itu tidak benar dan bahwa dia berutang pada Ranieri atas pencapaian musim lalu, ketika Leicester City juara Liga Primer Inggris dan Vardy menjadi pemain tersubur.

“Saya harus menulis dan menghapus kata-kata saya di unggahan ini dalam jumlah yang sangat banyak sekali! Saya berutang pada Claudio untuk menggunakan kata-kata yang tepat!” ucap Vardy

“Claudio akan selalu memilki rasa hormat dari saya! Yang kami capai bersama dan sebagai tim adalah yang mustahil! Ia percaya kepada saya ketika banyak orang tidak bisa, dan untuk hal itu saya berutang rasa terima kasih selama-lamanya.”

Komentar