Ketika “Tiki-taka” La Barca Berakhir?

Penulis: Darmansyah

Kamis, 19 September 2013 | 17:59 WIB

Dibaca: 0 kali

Itulah pertanyaan yang menggumpal usai Barcelona memereteli Ayax di Nou Camp dengan gol fantastis. Empat nol tanpa balas. Sebuah klimaks dari terpentalnya ramalan pengamat yang memberikan “nilai plus” bagi pertemuan kedua tim di laga pertama fase grup Champions League.

Sebuah pertanyaan yang menggelitik publik sepak bola dunia, ketika Barca “menurunkan” intensitas tiki-taka-nya untuk mengejar kemenangan besar di Cam Nou kala mengalah “saudara” seperguruan di pentas sepak bola yang mengajarkan serangan lewat umpan pendek yang sangat cepat dengan kesplorasi pola 4-3-3.

Sebagai “dalang” dari terdegradasinya pola umpan pendek yang membentuk segitiga lancip, yang sering dinamakan “wall pass” itu, adalah Gerrardo “Tata” Martino. Pelatih asal Argentina yang terbiasa dengan perpaduan umpan panjang dengan sayap permanen itu memang terlihat kagok ketika menerapkan “offensiveshort passing” di babak pertama laga dengan Ayax, terutama di laga awal.

Tahukah Martino dengan “tiki-taka” Pep Guardiola hasil adaptir “total football” Johan Cruyff yang memberi polesan sayap gantung dengan konsentrasi serangan dari tiga perempat pertahanan lawan? So, pasti Martino memahaminya.

Toh Martino sedikit mengabaikannya dengan mendorong Messi lebih “keluar” dan memosisikan Neymar sebagai pendobrak. Hasilnya, Barca tertatih-taih di permainan awal. Untuk itu kritik dilancarkan dengan Martino. Bukan pujian atas kemenangannya.

Barca hanya unggul 1-0 di 45 pertama lewat tendangan bebas Messi. Meski didukung penuh publik Camp Nou, tuan rumah justru lebih banyak ditekan oleh Ajax.

“Kami masih banyak melakukan kesalahan. Tapi, kami akan terus memperbaiki diri dari satu laga ke laga lain,” kata Martino mengakui ada yang tidak beres dari permainan Barca.

Terkait penilaian bahwa gaya bermain Barca yang sudah tak lagi kental aroma tiki-taka, Martino membantahnya. “Orang-orang berkata gaya main kami telah berubah. Namun, itu tidak benar. Kami hanya mencoba mencari alternatif,” tegas Martino.

Rasanya agak lucu jika Martino beralasan dengan elternatif pola. Sebab akar permainan Barca adalah umpan pendek dengan membikin kotak sudut lancip untuk menggertak lawan.

Frank de Boer, pelatih Ayax, tak kecewa dengan kekalahan tim Amsterdam itu. Ia menggambarkan bahwa kunjungan Ajax ke Camp Nou adalah “study tour” anak-anak sekolah. Sebab, bukankah Barcelona sedikit-banyak “belajar” dari De Amsterdammers?

Sehari menjelang laga dengan Barcelona, De Boer sudah memperingatkan supaya para pemainnya tidak bersikap norak apalagi terkesima dengan Barca. Dia melarang Niklas Moisander untuk berfoto bersama dengan pemain-pemain Baca. “Ini bukan kunjungan anak sekolahan,” katanya.

Bisa dimaklumi jika De Boer mengatakan demikian. Secara kasat mata, Barca memang relatif lebih diunggulkan. Ditambah kenyataan bahwa tim Barca saat ini masih berintikan pemain-pemain yang memberi mereka kesuksesan di Eropa beberapa musim silam, skuat Ajax yang penuh dengan pemain muda dan produk yang baru lulus dari akademi memang jadi terlihat seperti anak sekolahan.

Ketika mengalahkan Zwolle akhir pekan lalu, Ajax mengandalkan Viktor Fischer, Thulani Serero, dan Tobias Sana di lini depan. Berapa usia Fischer? 19 tahun. Berapa usia Serero? 23 tahun. Berapa usia Sana?

24 tahun. Dua di antara ketiganya masih relatif muda dan jangan bandingkan dengan trio lini depan Barca yang bisa berisi di antara salah satu nama berikut: Lionel Messi, Alexis Sanchez, Neymar, atau Pedro Rodriguez. Jelas kalah mentereng.

Dengan mengandalkan ketiganya, Ajax tampil cukup eksplosif ketika menghadapi Zwolle. Tapi, tanpa Christian Eriksen yang sudah hijrah ke Tottenham Hotspur, mereka seperti kehabisan ide untuk membongkar pertahanan lawan. Pertandingan baru berjalan lancar ketika De Boer memainkan dua jagoan mereka, Siem De Jong dan Kolbeinn Sigthorsson, di babak kedua. Ajax akhirnya memenangi laga itu 2-1.

Jarak antara kekuatan Ajax dan Barca memang terlihat mencolok. Tapi, De Boer benar ketika dia meminta timnya untuk tidak inferior –apalagi bersikap seperti anak sekolahan. De Boer seperti mengingatkan bahwa faktanya, Barca yang sekarang bisa jadi tidak akan ada jika bukan karena Ajax.

Tentu sudah bukan rahasia bahwa Ajax dan Barca punya koneksi yang unik, dan koneksi itu berasal dari satu orang: Johan Cruyff.

Pada akhir tahun 70-an, Cruyff — yang pernah bermain untuk kedua klub tersebut — mengusulkan untuk membentuk sebuah akademi di Barcelona yang idenya dia ambil dari akademi sepakbola Ajax. Kelak, seperti yang kita ketahui, akademi Barcelona itu akan menghasilkan pemain-pemain seperti Pep Guardiola, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, hingga Lionel Messi dan Cesc Fabregas.

Sama seperti Ajax, Barca juga bermain dengan pola yang sama dari level akademi sampai tim senior. Kelak, dari ide Cryuff ini juga, total football menemukan bentuk barunya: tiki-taka. Tiki-taka-lah yang selama ini dikenal banyak orang membawa Barca(dan juga timnas Spanyol sukses mendominasi sepakbola.

Tiki-taka jugalah yang mengantarkan Spanyol merebut Piala Dunia 2010 yang, ironisnya, diraih dengan mengalahkan Belanda, si pemilik total football. Yang patut disayangkan, Belanda-nya Bert Van Marwijk di Piala Dunia tersebut cenderung bermain pragmatis. Cruyff pun menyebut bahwa permainan De Oranje di final jeleknya minta ampun.

Saat menjadi pemain, Cruyff mempersembahkan tiga gelar Liga Champions bagi Ajax sebelum memutuskan hijrah ke Barca pada 1973. Cruyff bermain untuk Barcelona selama lima tahun dan ikut mempersembahkan gelar La Liga dan trofi Copa del Rey.

Sebagai pelatih, Cruyff membawa Ajax meraih dua gelar Liga Belanda dan satu trofi Copa del Rey pada periode. Sementara selama melatih Barcelona , Cruyff membawa klub itu meraih sebelas trofi, termasuk trofi Liga Champions yang merupakan trofi Liga Champions pertama Barcelona.

Salah satu kunci sukses Barcelona pada era Cruyff adalah sistem total football yang bermetamorfosis menjadi tiki-taka. Sistem itu berakar pada semangat yang sama: menyerang.

Dengan begitu, pertandingan antara Barcelona dan Ajax, yang dimenangkan Blaugrana, pantas disambut kecewa oleh public sepak bola dunia karena tidak menampilkan laga yang seru, selain karena kedua kubu sama-sama tahu kekuatan lawan juga karena mereka sama-sama bertekad meraih kemenangan.

“Selalu ada prioritas dalam turnamen yang diikuti. Saya merasa Barcelona harus memenangkan kompetisi ini. Kami bermain di tiga kompetisi dan kami harus mencapai final di semua kompetisi,” ujar pelatih Barcelona Gerardo “Tata” Martino.

Johan Cruyff adalah pribadi luar biasa dan sangat terkenal di Barcelona. Orang-orang mencintainya. Ajax dan Barcelona memiliki filosofi yang sama: menyerang. Tidak banyak perbedaan, kecuali soal anggaran. Kami sangat bahagia akan filosofi Johan. Barcelona merasakan pengaruhnya, sama halnya dengan kami.

Analisis Wartawan Senior Darmansyah dari Laga Barca Vs Ayax

Komentar