Jorge, Sang Ayah: Messi Tersiksa Di Allianz

Penulis: Darmansyah

Kamis, 25 April 2013 | 12:34 WIB

Dibaca: 5 kali

“Kontroversi Lionel Messi,” tulis tabloid harian sepakbola “AS” dalam judul tajuknya edisi Kamis. “AS” masih memendam kemarahan kepada tim Barcelona yang ber”judi” dengan memaksa Messi bermain ketika “Blaugrana” menghadapi Bayern Muenchen di Allianz Arena dua hari lalu.

Menghardik dengan bocoran yang mereka dapat dari tim medis, yang “dipaksa” menuliskan “clear” pada lembaran “nota” pengantarnya, surat kabar “AS” mengatakan dengan tajam,”Pengurus Barcelona ingin membunuh Messi hanya untuk sebuah harga gengsi pertandingan semifinal Champions. Ini ceroboh,” tulis “AS” setengah berteriak di “lead” tulisannya.

Mengutip  agen pemain, Josep Maroa Minguella, yang mengasuh Messi dalam manejerialnya, “AS” menuliskan dengan garang bahwa  ayah Messi telah bercerita dengan rinci  kepadanya tentang sang  anak yang  belum fit 100 persen ketika di”paksa”  bermain.

“Ayahnya mengatakan kepada saya, ketika makan siang, bahwa ia (Messi) sebenarnya belum mampu bermain,” kata Minguella. Pada laga itu, Messi memang tak bermain seperti biasanya. Barcelona pun dengan mudah dihajar Bayern Muenchen  0-4 di Allianz Arena Stadion.

Messi cedera otot saat membela Bayern melawan Paris Saint-Germain  di leg pertama perempat final Liga Champions. Pada leg kedua, ia dicadangkan. Namun, karena Barca tertinggal 0-1, Messi akhirnya diturunkan dan memberi inspirasi gol penyama kedudukan. Hasil imbang 1-1 membuat Barca melangkah ke semifinal.

Jorge Messi, ayah pesepak bola Barcelona Lionel “Leo” Messi, mengungkapkan ia tidak bisa  melakukan tindakan apa pun saat sang Barcelona memasukan nama sang anak dalam “starter line up” dua jam sebelum pertandingan di mulai. Mereka “memiliki” Messi. “Saya hanya bisa menyaksikan dari kejauhan ia memelas ketika turun kelapangan. Ini sebuah penyiksaan,” katanya seperti dikutip “AS.”

Jorge Messi juga mengungkapkan, ia menelepon istrinya dan mengatakan, Leo tidak akan mampu memberi kontribusi kepada timnya. Ia hanya ingin memuaskan klub tanpa bisa menolak. “Ia memang personifikasi dari anak yang tak mau mengecewakan orang,” ujar sang ayah.

Dalam wawancaranya dengan media Jerman, Kicker,  sebelum pertandingan, Jorge mengatakan, “Saya dan istri  membahas tentang spekulasi Leo dalam laga semifinal Champions. Kami mengobrol santai, dan istri saya mengatakan biarlah dia yang menentukan,” kata Jorge.

“Saya katakan kepada istri,  Leo nampaknya terpaksa bermain. Saya tak menontonnya karena takut tersiksa,” sambung Jorge. “Saya menyukai segala hal tentang sepak bola dan selalu  membayangkan Leo  bermain dengan hati. Dan malam itu mengejutkan, Leo bermain setengah hati. Saya enggan membayangkannya,” timpalnya.

Jorge dalam lanjutan wawancara dengan “Kicker”  juga bercerita tentang  karier sang putranya  di Barcelona. Salah satu alasan lelaki berusia 25 tahun itu memilih berkostum raksasa Catalan ialah karena klub itu bersedia membiayai terapi hormon pertumbuhan yang dibutuhkan Messi.

“Saya tak tahu, apakah Leo akan tetap memilih Barcelona jika bukan karena perawatan (medis) itu. Yang pasti, kalau dia tak membutuhkan terapi hormon tersebut, kami tak akan terdesak mencari klub yang mau membiayainya. Desakan itulah yang dulu membawa kami ke Barcelona,” tutur Jorge.

“Namun, kami sudah membuat keputusan. Saya ingat ketika kami sekeluarga duduk dan memutuskan bersama untuk pindah,” ujarnya.

Memang, tanpa suntikan hormon, bisa jadi Lionel Messi tidak akan menjadi bintang seperti saat ini, karena diperkirakan tingginya hanya bisa mencapai sekitar 140 sentimeter.

Messi yang lahir 24 Juni 1987 di Rosario, Argentina, memiliki masalah kekurangan hormon pertumbuhan. Sejak kecil, ia tidak tumbuh sebesar teman-teman sebayanya. Itulah sebabnya ia dijuluki “si kutu”.

Namun meski tubuhnya kecil, ketrampilannya bermain bola jauh melebihi kawan-kawannya. Oleh Jorge, ayahnya, ia dimasukkan ke klub lokal, Grandoli, sejak berusia lima tahun. Pada usia tujuh tahun, ia ditarik klub lebih top Argentina, Newell’s Old Boys.

Pada 1997, dalam usia 10 tahun, Messi masih terlihat seperti anak delapan tahun. Dokter klub yang memeriksanya menemukan bahwa “si kutu” kekurangan hormon pertumbuhan dan mesti mendapat suntikan hormon.

Bagi Jorge, biaya terapi hormon tersebut sangat mahal. Maka ia mencari klub yang mau membiayainya. Kebetulan ia bertemu Charles Rexach, pencari bakat Barcelona. Rexach yang sudah mendengar mengenai Messi, membawa bocah itu ke Barcelona untuk menjalani berbagai tes.

Walau awalnya diragukan karena posturnya yang kecil, namun Barcelona kemudian bersedia membayari terapi hormon saat melihat aksi Messi di lapangan.

Messi kini memiliki tinggi 169 sentimeter. Untuk ukuran orang Indonesia, Messi masih terbilang lumayan tinggi. Tapi untuk ukuran pemain bola dunia yang rata-rata 180 cm, tentu saja Messi terlihat mungil. Namun semua orang mengakui kehebatan Messi di lapangan bola.

Komentar