Brasil Selesai!!!

Penulis: Darmansyah

Minggu, 13 Juli 2014 | 12:50 WIB

Dibaca: 0 kali

“Brasil Selesai!!” Itu yang menjadi kepala berita dihalaman utama surat kabar Sao Paulo, “O’Globo,” edisi Sabtu pagi. Dua kata yang menggambarkan betapa tragisnya nasib “Selecao” yang dipermalukan lewat kekalahan “bonyok” dari Jerman tujuh gol banding satu di semi final, dan dihenyakkan Belanda tiga gol tanpa balas oleh Belanda di laga perebutan tempat ketiga.

“Brasil Mengakhiri Fiesta dengan Kutukan.” Itu pula yang ditulis oleh “Globo Brazillia,” surat kabar terbitan Rio de Janeiro dengan nada getir tentang kekalahan besar Brasil di dua laga terkahir, semi final dan perebutan posisi tiga, dari Jerman dan Belanda.

Dengan nada yang sama, kedua surat kabar bertiras besar di Brasil itu, berbicara tentang perasaan miris yang dirasakan oleh publik “samba.” Perasaan, yang ditulis dengan pilu oleh “O’Globo,” sebagai akhir dari sebuah tragedi nyilu dari sebuah harapan yang terlalu wah. Harapan Brasil juara dunia!!

Dan ketika Brasil tersungkur, tulis “Globo Brazillian,” tim yang kandas tanpa neymar da Silva itu menjadi sampah jalanan yang tak punya harga diri di kontes akbar sebuah karnaval.

Makanya, ketika kapten tim nasional Brasil, Tiago Silva, meminta maaf kepada fans atas penampilan buruk timnya dalam dua laga terakhir Piala Dunia 2014, semua orang memalingkan kepala dan menutup muka sebagai protes atas tragedi pilu yang merusak kehebatan sebuah tim yang nyaris sempurna selama enam dekade terkahir.

Silva memang menyadari , Brasil tidak pantas mendapatkan hasil tersebut.

“Kami frustasi. Saya hampir tidak bisa tidur semalam dan untuk mengakhiri seperti ini… Kami tidak layak mendapatkan akhir seperti ini. Sayangnya, inilah sepak bola,” ungkap Silva seusai pertandingan timnya melawan Belanda, Sabtu dinihari WIB, 2014.

“Kami harus meminta maaf kepada fans yang mendukung kami saat melawan Jerman dan Belanda. Mereka mencemooh kami saat akhir pertandingan, tetapi itu normal karena mereka juga mempunyai perasaan.”

“Ini adalah kekecewaan besar untuk menuju rumah dan memberitahu keluarga Anda bahwa Anda tidak berhasil,” tambahnya.

Pada pertandingan ini, Thiago Silva yang pada semifinal harus absen karena akumulasi kartu kuning kembali bermain..

Namun, kehadiran Silva tidak berarti banyak bagi permainan Brasil. Maklum, saat laga baru berjalan dua menit, Silva justru melakukan pelanggaran terhadap Arjen Robben yang berujung penalti untuk Belanda.

Banyak faktor yang menjadi biang kegagalan Brasil di Piala Dunia 2014. Salah satunya adalah daya jelajah yang minim dari para pemain ”Selecao”. Dari statistik yang dirilis FIFA, tak ada satu pun pemain tim ”Samba” yang masuk sepuluh besar pemain paling rajin. Ternyata, tim Brasil ”malas” berlari.

Tak berlebihan jika belakangan masyarakat Brasil tidak menyukai Fred dan Hulk. Dalam dua laga terakhir, kedua penyerang tim Samba itu selalu dicemooh akibat penampilan di bawah standar. Selain kurang tajam, mereka kurang berkontribusi membantu pertahanan, terutama saat tim kehilangan bola dan mendapat tekanan lawan.

Daya jelajah kedua pemain tersebut selama Piala Dunia 2014 tergolong yang paling rendah di antara pemain Brasil lain. Sementara daya jelajah Hulk lebih Padahal, skema permainan 4-3-3 yang dikembangkan pelatih Brasil Luiz Felipe Scolari membutuhkan pergerakan yang dinamis. Pada pola menyerang itu, tiga penyerang bertugas menjadi tembok pertahanan pertama.

”Mereka harus lebih agresif merebut bola dari kaki lawan dan ikut turun ke lini tengah saat tim ditekan lawan. Namun, itu tidak terjadi karena Fred dan Hulk malas berlari,” ungkap mantan penyerang Brasil, Romario.

Minimnya daya jelajah itu juga dipengaruhi perubahan gaya bermain pada tim Samba. Tim asuhan Scolari tak lagi memainkan bola dari kaki ke kaki, seperti Brasil pada masa jayanya dulu, tetapi lebih pragmatis. Bola langsung dikirim dari lini belakang ke depan lewat umpan panjang, mirip tim Eropa.

Gaya itu tak saja mengurangi daya jelajah pemain, tetapi juga membuat permainan Brasil mudah dibaca. Apalagi, secara teknik, tim Samba saat ini tak sebaik dengan tim Brasil terdahulu.

Setelah pertandingan babak enam belas besar melawan Cile, Tostao, berkata, ”Tidak ada lini tengah. Itu karena tak memiliki pengatur serangan dan ada celah yang terlalu lebar antara lini belakang dan depan.

Salah satu pahlawan Brasil di Piala Dunia itu melanjutkan, ”Luiz Gustavo terlalu dekat dengan bek, Neymar terlalu dekat dengan Fred dan Oscar, sedangkan Hulk bermain terlalu melebar. Itu membuat Fernandinho terisolasi seorang diri di lini tengah dan dipaksa melihat bola lalu lalang melewati dirinya.”

Andre Kfouri, kolumnis sepak bola di Brasil, menyoroti buruknya lini tengah Selecao. ”Sektor yang semestinya membuat harmonisasi di tim justru tak berjalan baik. Lini tengah Brasil seperti terbagi dalam dua unit yang berbeda bahasa dan bekerja tanpa adanya penerjemah,” deskripsi Kfouri dalam analisisnya di media cetak Brasil, O Globo.

Celakanya, menurut mantan gelandang Brasil, Zico, tim asuhan Scolari tak memiliki alternatif ketika menemui jalan buntu.

”Mereka, Scolari dan Direktur Teknik Carlos Alberto Parreira, terus terfokus pada kesuksesan di Piala Konfederasi 2013. Mereka terus menerapkan formasi sama dan tim yang sama. Semua tim punya waktu setahun untuk berlatih menghadapi Brasil,” ujar pilar Selecao di Piala Dunia 1982.

Zico, yang dikenal dengan sebutan ”Pele Putih” itu, juga menilai para pemain Brasil, termasuk Neymar, bukanlah pilihan utama di klub mereka. ”Bahkan, David Luiz dan Oscar tidak bisa dikatakan pemain utama di Chelsea,” ujar mantan pemain Flamengo tersebut.

Kesimpulannya, Brasil butuh pembenahan menyeluruh untuk kembali menjadi tim adidaya di dunia

Komentar