“Ballon d’Or?” Buruk Bagi Sepakbola

Penulis: Darmansyah

Sabtu, 29 November 2014 | 13:49 WIB

Dibaca: 0 kali

“Ballon d’Or,” penghargaan tertinggi sepakbola dunia untuk pemain, pelatih dan tim terbaik, memasuki babak krusial setelah perdebatan untuk penentuan pemain terbaik menjadi kancah dakwa dakwi karena munculnya persoalan emosional tentang kepantasan individu penerimanya.

Para pelatih dan pengamat terbelah dalam dua kubu tentang perlu tidaknya “Ballon d’Or” di pentaskan. Kubu yang mengatakan perlu beralasan “Ballon d’Or” akan memberi motivasi bagi pelatih, tim dan pemain untuk memacu diri ke persaingan global.

Sedangkan yang menentang mengatakan, “Ballon d’Or” adalah “sampah” bagi sepakbola karena tak menguntungkan ditataran riil. “yang paling tahu tentang siapa yang hebat itu adalah dinamika di lapangan. Campakkan saja penghargaan yang sangat sulit dinilai obyektifitasnya itu,” tulis pengamat sepakbola Inggris Martin Keown di “Daily Mail.”

Kontroversi baru mengenai “Ballon d’Or” di picu oleh pernyataan Michel Platini, yang mencoret nama Cristiano Ronaldo dalam mendapatkan penghargaan FIFA tahun ini.

Mantan pemain Juventus asal Perancis itu, yang kini menjadi Ketua UEFA, menganggap para pemain Jerman lebih layak mendapatkannya. Tindakan Platini ini langsung menuai kecaman.

Sebelumnya, Platini memang tak mengunggulkan CR7 meski telah sukses memberikan La Decima bagi Real Madrid dan musim ini tampil gemilang. Meski tak memiliki suara, Platini berharap para pemain Jerman yang menjadi pemenang usai menjadi kampiun Piala Dunia.

Jerman mewakilkan nama Manuel Neuer, Philipp Lahm, Thomas Mueller, Bastian Schweinsteiger, Toni Kroos dan Mario Goetze dalam daftar dua puluh tiga kandidat peraih Ballon d’Or. Penampilan mereka di Timnas dianggap Platini lebih layak mendapat apresiasi.

Pernyataan Platini ini langsung membuat para kolega dan teman Ronaldo berang, termasuk bek Real Madrid dan timnas Spanyol, Alvaro Arbeloa. Menurut Arbeloa, sosok sebesar Platini tak seharusnya pilih kasih.

“Dengan penuh respek, saya tidak mengerti mengapa seorang Presiden UEFA dapat mengeluarkan opini pribadi mengenai sebuah isu seperti ini,” kata Arbeloa dilansir Soccerway.

Bukan hanya itu, Arbeloa juga telah menuding bahwa pemilihan Ballon d’Or dilakukan dengan tidak sportif jika Ronaldo tak menang. “Pemenang Ballon d’Or tahun ini sebenarnya telah memiliki nama,” ujar Arbeloa.

“Sebenarnya tak perlu ada debat untuk siapa yang menjadi pemenangnya. Semua orang di dunia sepakbola tahu Ronaldo pemain terbaik. Saya mengatakan ini bukan karena rekan satu tim, semua tahu pemenangnya adalah Ronaldo,” tegas Arbeloa.

Sebagai catatan, pemenang Ballon d’Or akan dikerucutkan menjadi tiga nama sebelum diumumkan pemenangnya pada 12 Januari 2015.

Usai pernyataan Platini, Real Madrid mengeluarkan pernyataan resmi, menyesalkan sikap tak netral dari legenda sepakbola Prancis tersebut.

Kubu Madrid jadi yang paling serius menanggapi sikap Platini itu. Hal yang wajar karena dengan pernyataan tersebut, tim ibukota Spanyol merasa pemain andalannya yang muncul sebagai salah satu kandidat secara tak langsung telah disudutkan.

“Atas manifestasi Presiden UEFA Michel Platini, maka Madrid ingin menyampaikan berberapa hal. Pertama, kami terkejut dengan pernyataan personal yang merujuk kepada pemenang Ballon d’Or. Kami yakin sepantasnya pimpinan tinggi di sepakbola Eropa menjaga netralitasnya,” tulis pihak Madrid di situs resminya.

“Kedua, kami berpikir Ballon d’Or adalah penghargaan individual, bukanlah untuk kolektif. Ketiga, kami tetap percaya kalau Ronaldo adalah pemain terbaik dan layak mendapatkan penghargaan itu,” sambung pernyataan tersebut.

Polemik ini jugai dikomentari oleh manajer Chelsea, Jose Mourinho. Dengan tegas, The Special One mengatakan kalau Ballon d’Or tidak bagus buat sepakbola. Dia mengaku tak pernah peduli dan berharap anak asuhnya di skuad The Blues sekarang juga bersikap sama sepertinya.

“Trofi semacam Ballon d’Or buruk buat sepakbola. Kita selalu mencari seseorang yang lebih penting ketimbang yang lain. Kultur seperti itu tidak saya harapkan dalam tim,” kata Mourinho.

“Saya tidak pernah peduli. Namun hal itu tetap ada sebagai bagian dari pekerjaan tim. Untungnya saya tidak perlu cemas dengan mentalitas semacam itu di Chelsea,” sambungnya dikutip Soccerway.

Komentar