Awas! (Kini) Ada PSG

Penulis: Darmansyah

Jumat, 21 September 2012 | 08:00 WIB

Dibaca: 1 kali

Babak baru petualangan Paris Saint-Germain di ranah sepakbola antar klub Eropa, Rabu pagi, menemukan momentum di laga awalnya, Grup A, dengan melumat Dynamo Kiev di Parc des Princes, Paris, 4-1. Kemenangan besar ini merupakan jawaban tuntas Carlo Ancelotti, sang pelatih asal Italia, untuk mengangkat klub yang lama terendam di pertandingan ligue dan menjadi tim kelas dua di pelataran klub elite Eropa.

Petualangan PSG ini, begitu Paris Saint-Germain disapa, mengingatkan kita pada kehadiran dan kebangkitan Chelsea, klub Liga Primer Inggris, yang juga puluhan tahun berkutat di kompetisi lokal dan menggebrak usai dibeli toke minyak kaya raya asal Rusia yang flamboyan itu. Kedatangan Roman Abramovich sekaligus menyingkirkan pelatih asal Italia, kala itu, Rannieri yang progresnya bagi tim ngadat di kompetisi awal untuk kemudian digantikan Jose Mourinho yang menjulang hokinya setelah mengantar Sporting Lisbon memenangi Liga Champions.

Tak ada kesamaaan persis antara kebangkitan PSG dan Chelsea secara postur. Terdapat perbedaan mendasar dari latar belakang klub dan sistem kompetisinya. Di antara kompetisi Liga Primer dengan Ligue des France tidak bisa disamaratakan kondisinya. Kompetisi di Liga Inggris, selain keras, ganas juga menyeramkan lewat pembunuhan karakter pemain dan pelatih. Beda dengan Ligue des France yang sedikit santun dan tidak huru-hara dirundung media.

Contoh dari kerasnya Liga Primer bisa diadaptir dari pernyataan Zola. Tahu Franco Zola? Laskar terakhir legiun Chelsea pascaakuisisi yang diusir Abramnovic. Dengan mengerenyitkan dahi di sebuah kesempatan wawancara dengan jaringan Sky TV beberapa tahun lalu ia mengatakan, ”Liga Primer sebuah kancah neraka.” Ia mengkritik tingginya pressure di setiap laga liga. “Tak ada kesempatan untuk berkelit dari tingginya intensitas permainan.”

Zola yang sebelumnya bermain di klub Lazio, Roma, dan menjadi skuad inti Italia ditransfer ke Chelsea karena ingin merasakan sekaligus mewarnai permainan liga. “Saya tak suka kick and rush. Saya tak suka pola 4-4-2 dengan sayap gantung. Tapi saya harus bermain dengan pola itu. Tahu resikonya? Saya bolak balik cedera hamstring,” kata pemain berpostur pendek untuk ukuran Eropa itu.

Tidak hanya Zola. Ancelotti, “Sang Don”, panggilan akrab pelatih PSG itu karena sikapnya yang dingin macam pimpinan mafioso, merasakan bara api di Liga Primer ketika melatih Chelsea dua musim lalu. “Saya tak diberi kesempatan untuk menyempurnakan penampilan tim. Saya dihajar di setiap pertandingan oleh media sana,” keluhnya kepada Le Figaro, koran terbitan Paris.

Padahal banyak orang tahu Carlo Ancelotti bukan pelatih kacangan. Ia satu kelas dengan “Sang Profesor” Arsenal, Arsene Wenger. Ia tidak di bawah kepiawaian Jose Mourinho atau Alex “Fergie” Fergusson. Kekalahannya hanya ocehannya. Mulutnya tidak setajam Mourinho. Kritiknya tidak sekeras Fergie. Dan protesnya juga tidak segalak Wenger. “Saya memang tidak betah di sana. Saya ingin cepat pergi karena tidak memiliki kenyamanan,” katanya tentang masa melatih Chelsea.

PSG memang tempat labuh yang pas untuk Don Carlo. Lewat dana tak terbatas di klub milik seorang sheikh dari Qatar, Nasser al-Khelaifi itu, ia membeli Zlatan Ibrahimovic yang didatangkan dari AC Milan dengan bayaran 20 juta euro atau setara Rp 250 milyar atau pun Alex dari Chelsea dan Thiago Silva serta Matuidi untuk menyebut empat nama yang bayaran transfernya belasan juta euro.

Untuk itulah kemenangan besar PSG di laga perdana kancah para juara Eropa dengan melumat Dynamo Kiev diejek dengan sedikit sinis koran prestise sepakbola La Marca, ”Uang Paris Saint-Germain mulai bicara.” Sembari menurunkan review pertandingan koran itu juga memuji penampilan anak asuh Don Carlo sebagai eksplosif. Ia, Don Carlo, meminjam pola permainan Milan malam itu dengan menyeimbangkan permainan antar blok yang akurasinya sangat tinggi.

Penulis sepakbola Marca, Xavier Pedrosa mengingatkan PSG pada pertandingan kedua di Grup A melawan Porto agar mengurangi lobang pertahanan yang sering diabaikan Maxwell. Tiga kali Nico Kranjcar ketiban sial. Padahal secara matematis gelandang Dynamo Kiev itu bisa menghasilkan gol dan situasinya, kalau terjadi gol pasti akan berubah.

Ancelotti mengamini Pedrosa, dan dengan santun mengatakan, “Kami harus belajar kembali bagaimana melakukan intersepsi permainan sepakbola terkini. PSG harus memulai evolusi baru dengan mengedepankan sepakbola yang in-depth, taktis dan efisien dengan kemampuan menutup setiap lobang menganga oleh pergerakan setiap pemain yang menjadi hub.”

Secara teoritis PSG tak perlu diajarkan bagaimana dengan perkembangan sepakbola modern sekarang. Impor pelatih dan pemain yang mereka belanjakan dengan dana yang tidak terbatas tentu menjadi sumber jawaban utamanya. Bahkan ketika Christiano Ronaldo terusik akhir bulan lalu di Real Madrid, Nasser telah membisikkan ke Ancelotti untuk mengintip jendela transfer pemain.

Sekalem itukah sebuah klub yang berdiri tahun 1970 yang home base-nya di Paris itu? Jangan dulu mengabaikan PSG. Ia pernah delapan kali Juara Perancis. Dua kali juara liga dan pernah sekali merebut Piala Winner tahun 1996. Kalkulasi prestasi ini memang tidak semapan Real Madrid, Barcelona, MU atau pun AC Milan. Tapi tekad Sheikh Nasser untuk menggelontorkan dana bagi PSG, yang musim lalu menjadi runner-up liga tentu tidak main-main.

Sama tidak main-mainnya pemilik klub yang menyadari persaingan untuk melaju di Liga Champions akan memaklumatkan perang melawan klub papan atas seperti Barca, Madrid, Milan, MU, Arsenal atau pun Munchen. Tak terkecuali Chelsea, City atau pun Malaga yang penuh kejutan.

Untuk itu pula majalah sangat prestise sepakbola Eropa, Soccer, terbitan Paris dalam edisi minggu ini menyambut kemangan perdana PSG menulis judul dengan nada provokatif: “Awas! Ada Paris Saint-Germain.” []

Komentar