Site icon nuga.co

Zidane, Enrique dan Kesabaran Fans Madrid

Bersamaan dengan menapaknya karir kepelatihan Zinedine Zidane, akrab di pangil Zidane, di Real Madrid, muncul pertanyaan yang sangat menggelitik.

Pertama sejauhmana rivalitasnya akan terurai dengan Luis Enrique, pelatih Barcelona, di laga-laga La Liga, atau, kemungkinan di Liga Champions?

Kedua, apakah fans Real Madrid akan mampu bersabar jika tangan “midas”nya belum mampu memberi berkah kemenangan-kemenangan dan kemenangan bagi Los Blancos?

Setelah mantan legenda Perancis asal Aljazair itu terpilih jadi manajer Real Madrid, video pertikaian Zidane dengan Luis Enrique di Youtube kembali ramai dibanjiri komentar.

Terpilihnya Zidane diyakini bakal membuat ‘El Clasico’ makin panas.

Zidane adalah pemain yang satu generasi dengan Enrique.

Sejak kedatangannya di lima belas tahun lalu, Zidane langsung jadi andalan lini tengah Madrid, sedangkan Enrique, saat itu masih eksis sebagai gelandang serang Barcelona.

El Clasico musim keduanya di Madrid, Zidane dan Enrique sempat bersitegang pada laga clasico di Bernabeu.

Pertikaian keduanya bahkan membuat nyaris seluruh anggota kedua tim berkumpul pada titik yang sama di lapangan.

Kejadian bermula saat Zidane melanggar Carles Puyol yang masih merupakan pemain muda saat itu.

Enrique tak terima dan menghampiri Zidane. Zidane pun meresponnya dengan mendorong muka Enrique.

Keributan pun dimulai. Thiago Motta sudah coba menenangkan Zidane namun tak berhasil. Pemain Barcelona dan Madrid mulai berdatangan dan hendak memisahkan pertikaian.

Namun di tengah situasi panas tersebut, ada beberapa pemain yang justru malah tersulut emosinya. Gabi Garcia justru terlihat malah bertikai dengan Claude Makelele. Raul Gonzalez juga terlihat kesal dan mendorong Enrique dengan keras.

Puyol yang sempat terjatuh bangkit dan coba masuk ke kerumunan namun dengan sigap bek Madrid, Roberto Carlos menenangkannya.

Beruntung masih ada pemain-pemain yang berkepala dingin saat itu di kedua kubu seperti Ivan Helguera, Luis Figo, dan Ronaldo di kubu Madrid, serta Roberto Bonano, Patrick Kluivert, dan Frank de Boer. Jika tidak, bukan mustahil keributan yang lebih besar bakal tercipta.

Lebih dari satu dekade berlalu sejak peristiwa itu, kini Zidane dan Enrique akan kembali berhadapan. Sebagai arsitek Madrid dan Barcelona, tentunya mereka akan jadi rival.

Dengan latar belakang pertarungan terdahulu, hubungan Zidane-Enrique diyakini bakal sama panasnya dengan rivalitas Pep Guardiola-Jose Mourinho di El Clasico beberapa tahun silam.

Selain persaingan Barcelona-Madrid, Lionel Messi-Cristiano Ronaldo, trio MSN-trio BBC, kini bumbu El Clasico akan bertambah lewat hadirnya duel Enrique-Zidane!

Itu baru sepenggal tantangan yang menunggu Zidane.

Tantangan terberat mungkin, apakah ia mampu menepis rumor “premature”nya kepelatihannya karena “dipaksakan” oleh Perez, sang presiden?

Jawabannya tentu tidak semudah kala ia datang ke ke Santiago Bernabeu dengan sambutan hangat pada di lima belas tahun lalu.

Kala itu sang legenda tiba di Madrid dan bisa menjawab keinginan pendukung Real Madrid.
Mungkinkah hal tersebut kembali terulang kali ini?

Kala itu Zidane datang dengan status sebagai pemain terbaik dunia.

Harga mahal yang mengiringi Zidane tak terlalu dipusingkan pendukung Madrid.

Umur Zidane yang sudah dua puluh sembilan tahun pun tidak terlalu dikhawatirkan oleh mereka.

Hasilnya, Zidane mampu jadi tokoh kunci keberhasilan Madrid memenangi Liga Champions di tahun pertamanya dan La Liga di tahun keduanya.
Meskipun tak mendapatkan gelar di dua musim terakhirnya karena kemunculan Ronaldinho yang membuat Barcelona bangkit, kiprah Zidane yang berakhir pada tahun lima tahun kemudian tetap dianggap sukses.

Kini, Zidane kembali ke Madrid sebagai manajer tim.

Zidane bukan baru datang ke kota ini karena ia sudah tinggal beberapa tahun sebelumnya dan sempat menjadi penasehat teknis, asisten pelatih, sebelum menjadi pelatih Real Madrid Castilla musim lalu.

Namun baru kali ini sorotan Madrid akan mengarah keras pada Zidane lantaran posisinya sebagai pelatih tim utama.

Kehadiran Zidane di kursi manajer jelas menggambarkan keinginan Madrid memiliki manajer ‘produk asli’ seperti Barcelona pernah memiliki dan memunculkan Guardiola beberapa tahun silam.

Ada beberapa kesamaan antara Guardiola dan Zidane.

Mereka mendapatkan ‘jalan lapang’ untuk melatih tim besar di dunia tanpa harus meniti karier di klub kecil dan membuktikan diri di sana.

Mereka hanya butuh sekitar satu tahun melatih Tim B sebelum langsung dipromosikan ke tim utama.

Zidane sosok yang dihormati di Madrid dan hal itu akan membantu hari-hari pertama Zidane menjadi pemimpin di tim itu. Namun seberapa lama hal tersebut bisa bertahan?

Madrid adalah klub istimewa. Dengan dukungan dana yang melimpah dan pamor klub, Zidane tak akan banyak kesulitan mendapatkan pemain yang diinginkan. Namun ada beberapa sisi negatif yang ada dalam tim Madrid.

Suporter Madrid adalah salah satu sisi negatif yang ada di klub ini. Bagaimana mungkin mereka bisa menyoraki Cristiano Ronaldo yang sudah mencetak lebih dari 200 gol hanya dalam kurun waktu tujuh tahun?

Pendukung Madrid bersorak saat Ronaldo terus mencetak gol, namun ketika golnya mulai tersendat dan belum sampai pada fase parah, Ronaldo sudah dihujat.

Sosok seperti Iker Casillas yang sudah jadi ikon klub pun tak luput dari cemooh pendukung Madrid. Hal ini mengindikasikan rendahnya kesabaran yang dimiliki oleh pendukung Madrid.

Belum lagi soal situasi internal Madrid yang selalu berada dalam kondisi panas.

Jika Zidane tak pandai mengatur posisi tetap di tengah di antara Cristiano Ronaldo-Gareth Bale saja, hal itu sudah akan jadi masalah.

Belum lagi pemain-pemain lainnya yang juga merasa layak bermain seperti persaingan antara Isco-James Rodriguez yang sempat terjadi di musim ini.

Selama Madrid memetik kemenangan terus-menerus, maka situasi panas di internal tim tak akan terasa.

Namun begitu kekalahan mulai datang, kondisi tim bakal makin panas karena pilihan strategi dan pilihan pemain Zidane terus dipertanyakan.

Kondisi internal yang buruk akan membuat Zidane makin kesulitan menghadapi tekanan suporter Madrid nantinya.

Jadi seberapa sabar pendukung Madrid menanti sentuhan emas Zidane?

Exit mobile version