Site icon nuga.co

“Smong,” Yang Menyelamatkan Anak Pulau

“…Anga linon ne mali, uwek suruik sahuli
Maheya mihawali, fano me singa tenggi
Ede smong kahanne………”

Itulah penggalan syair “nandong” dalam bahasa “devayan” yang dituturkan secara oral, diwariskan turun menurun untuk kemudiannya menjadi “local wisdom” atau kearifan lokal di lingkungan anak Simeulue. Dan ketika gempa dahsyat dan tsunami besar 26 Desember 2004, sembilann tahun lalu, menyapu 1.700 unit rumah mereka, memori kolektif anak “si melur” tentang “nandong” yang berpetuah tentang datangnya “smong” menyadarkan mitigasi bahaya mereka hingga mengecilkan jumlah korban yang meninggal.

Cuma 6 jiwa yang meninggal di pulau yang jarak gempanya hanya dalam hitungan puluhan kilometer yang menyebabkan daratannya terangkat hingga hampir satu meter..

Syair “nandong devayan” yang kami kutip salah satu baitnya itu, kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia, berbunyi,

”jika gempanya kuat,
disusul air laut surut,
segera cari tempat kalian yang lebih tinggi,
itulah smong namanya.”

Sebuah syair yang tidak hanya milik anak-anak “devayan” tapi juga dilantunkan oleh komunitas “sigulai.” Bahkan didendangkan pula oleh “aneuk jamee” dan pendatang Barus serta Minang dengan gaya “kaba.”
Simeulue memang pulau “smong.” Pulau yang berada dipersimpangan palung laut terbesar di dunia. Pulau yang menyembul di pinggir pertemuan lempeng Asia, Australia dan Samudera Hindia yang saling bertubrukan, saling melepaskan kekuatan dan menimbulkan patahan yang mengundang terjadinya gempa besar dengan potensi tsunami.

Simeulue tak pelak adalah pulau “smong,” yang ketika gempa dan tsunami besar melandanya di hari Jumat, 4 Januari 1907, membunuh cukup banyak anak negerinya dan menyisakan keturunan “ate fulawan,” insan berhati emas sebagaimana moto kabupatennya, dan mematrikan pengalaman itu dalam “nandong” atau hikayat dengan tutur devayan, sigulai, jamee, minang serta barus.

Simeulue tentu tidak hanya “smong.” Pulau seluas 199.502 hektar dengan gugusan 40 pulau yang mengitarinya adalah sebuah janji takdir ketika dia harus berlabuh di palung laut yang tidak pernah memberitahu kapan datangnya bencana. Palung laut yang memanjang dari ujung Andaman menyusur ke Nias, Mentawai dan Enggano dengan nama patahan Semangka serta di “forcast” oleh ilmuan “bumi” dengan label pusat bencana yang tak pernah terjadwal kedatangannya.

Sebagai takdir bencana, Simeulue tak pernah meratapinya. “Smong” adalah satu dari banyak jawaban yang menempatkan mereka sebagai anak negeri dengan “local wisdom” yang tinggi. Kawan saya Ampuh Devayan, yang menandai jati dirinya dengan nama suku asalnya, memaknai “smong” sebagai sebuah kekuatan sekaligus penguat hati anak pulau yang tak mau dikalahkan oleh takdir negerinya.

“Local wisdom” smong kemudiannya beranak pinak dalam bentuk gejala alam yang ditangkap secara cerdas oleh binatang seperti kerbau dan disalin ke dalam memori penduduknya.

Ketika kami menelusuri jejak dari akar kata “smong” tak ditemukan asal konsonan yang memaknainya secara rinci. “Smong” menurut sohib saya asal Simeulue mungkin terucapkan secara spontan dalam dialek “devayan” yang merupakan suku dan bahasa mayoritas di lingkungan anak pulau.

Yang pasti, kata “smong” ditemui dengan sahih dalam buku yang di tulis Martinusnijhof, S-Gravenhage, berkode tahun 1916, yang berati delapan tahun usai gempa dan tsunami besar itu melanda Simeulue. Catatan dalam buku yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia itu menceritakan bagaimana “gergasi” laut mengoyak dan membunuh anak pulau, kala itu.

Sebagai bentuk penghargaan atas budaya yang telah menyelamat ribuan nyawa manusia ini salah satu Badan PBB, International Strategy for Disaster Reduction (ISDR) memberikan penghargaan atas kolektif komunitas yang telah menyatukan penduduk Simeulue menyelamatkan diri.

Dalam pidato di Bangkok pada saat penyerahan penghargaan dengan nama Sasakawa Award yang diterima
Darmili, yang kala itu menjabat bupati, lembaga dunia itu menggarisbawahi tentang kekuatan komunal ditengah ketiadaan teknologi peringatan dini yang menyatukan anak Simeulue. Kekuatan komunal yang hanya diwariskan oleh kearifan lokal yang hidup secara turun menurun lewat sebuah sandi yang luar biasa sangat sederhananya dan dicamkan dengan takzim oleh masyarakatnya sebagai awal dari penyelamatan.

“Smong” memang sebuah pembelajaran yang sangat bernilai ketika di daratan Aceh kala itu humbalang laut mengucar-kacirkan penduduk dalam teriakan panik dan menyapu jutaan penghuninya serta menenggelamkan ratusan ribu di antaranya kepelukan samudera dan kuburan-kuburan massal tanpa ada seonggok pertanda batu nisan.

“Smong” juga, yang ketika tahun lalu gempa besar melanda, dan mengalpakan tsunami membuat anak-anak Simuelue sama sekali tak tergantung dengan sirine peringatan dini yang macet

Simeulue tentu tidak hanya mewariskan “smong” sebagai jejak kearifan lokalnya. Simeulue juga meninggalkan jejak kenangan yang sulit dihapus ketika era Hindia Belanda adalah sebuah “zelfbestur” yang makmur.

Diperintah raja-raja kecil, yang terpecah-pecah, dan berada dalam pengawasan seorang “controllier” Belanda yang hanya tunduk langsung kepada gubernur di Koetaradja, negeri ini tercatat sebagai pulau dengan kekayaan alam yang melebihi negeri daratan.

Di zaman itu Simeulue adalah negeri sejahtera dengan hasil hutan kayu rasak, rotan, cengkeh, kopra dan meng”ekspor” kerbau hinga ke Sibolga, Padang dan Belawan. Transportasi laut, satu-satunya pilihan ketika itu, terjadwal dengan baik oleh kedatangan kapal milik “konneklijkee paketvaarth matschapaij” atau KPM yang lewat pelayaran reguler menyinggahi Padang, Sibolga, Singkil, Tapaktuan, Sinabang dan Meulaboh hingga ke Belawan.

Kini negeri “smong” itu sedang menjalani ritual adaptasi untuk menuju kesejahteraan dan tertatih-taih melawan iasolasi yang tak pernah terpenggal walau pun telah memasuki usia ke tiga belas sebagai daerah otonom. Status yang hari-hari ini pula mereka sandang sebagai lambang prestise. Bukan prestasi.

Exit mobile version