Site icon nuga.co

“Madrid? Itu Kehormatan Masa Lalu Saya”

“Real Madrid?”

“Itu masa lalu dan sebuah kehormatan saya bisa menggapainya,” tulis Rafael Benitez tentang masa kepelatihannya selama seratus delapan puluh tujuh hari di Barnebue.

Di situs resmi miliknya, Rabu pagi WIB, 06 Januari 2016, Rafa, begitu sang mantan pelatih El Real itu disapa, berkicau bahwa pemecatan dirinya juga sebuah “kehormatan.”

Rafael Benitez dipecat sebagai pelatih Real Madrid Senin malam WIB, 04 Januari 2016 dan digantikan oleh Zinedine Zidane.

Benitez dipilih sebagai pelatih pada Juni lalu untuk menggantikan Carlo Ancelotti, namun ia hanya mendapatkan waktu tujuh bulan untuk melatih.

Ia bertahan di kursi kepelatihan dalam dua puluh lima pertandingan dengan rekor tujuh belas kali menang, lima imbang, dan tiga kekalahan.

Tentang pemecatannya, Rafa menyatakan, “Di akhir masa saya sebagai pelatih tim pertama Real Madrid, saya ingin menggunakan artikel ini untuk mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang di klub.”

“Saya ingin memberi tahu semua orang di klub, mulai dari Dewan Direksi, para petinggi klub, pegawai, pemain, dan juga para pendukung, bahwa menjadi suatu kehormatan bagi saya untuk menangani klub ini, tempat saya bertumbuh sebagai seorang manusia, pemain, dan juga pelatih dari kategori paling rendah menjadi pelatih utama.”

“Sebagai Madridista dari Madrid, dibesarkan oleh nilai dan tradisi institusi yang saya pelajari di kota tua Castellana, menjadi sebuah kehormatan untuk membela warna putih ini.”

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada publik Santiago Bernabeu yang sejak langkah pertama saya telah memberikan dukungan dan juga membuat kerja saya lebih mudah. Terima kasih untuk seluruh bantuan.”

“Saya juga ingin mengucapkan doa untuk Zinedine Zidane, penerus saya, dan juga staf kepelatihannya. Kepada seluruh pemain, pelatih, dan staf baik di Valdebebas maupun Bernabeu, saya mengharapkan yang terbaik untuk mereka.”

“Dengan seluruh rasa hormat dan terima kasih… Hala Madrid dan bukan yang lainnya.”

Tentang pemecatannya mantan pemain belakang Inter Milan, Marco Materazzi, yang dulu sangat ribet dengan Rafa, mengaku telah memprediksi pemecatan Rafael Benitez dan mengklaim Benitez tidak bisa menangani ruang ganti Madrid, sama ketika ia berada di Inter.

Materazzi dan Benitez pernah bekerja sama ketika Benitez menjadi pelatih Nerazzuri pada enam tahun silam. Keduanya tidak berhubungan baik, bahkan hingga saat ini.

Menurut eks penggawa tim nasional Italia itu Benitez selalu memiliki masalah dengan para pemainnya.

“Anda bisa menjadi pelatih terbaik di dunia, tapi Anda tidak akan bisa melangkah jauh jika tidak berempati kepada para pemain, jika Anda tidak bisa berhubungan dengan para pemain yang susah diatur, dan para pemain yang jarang bermain,” kata Materazzi dalam wawancaranya dengan La Gazzetta dello Sport.

“Padahal para pemain itulah yang akan membantu Anda ketika berhadapan dengan masa sulit.”

Selain karena tidak bisa memenuhi harapan penggemar membikin Madrid bermain cantik, Benitez juga bertikai dengan tujuh pemainnya.

Menurut Materazzi, Benitez tetap akan mengalami kesulitan ketika ia pindah ke klub baru.

“Saya telah mengenal sifatnya, ia tidak akan berubah. Ia selalu punya masalah sama,” kata pria yang kini menjadi pelatih di Liga Super India itu.

“Alih-alih menciptakan hubungan yang baik dengan Cristiano Ronaldo, ia malah mendukung Bale. Di hari pertamanya bersama Inter Milan, ia mulai mengobrol dengan Zanetti, Cambiasso, dan Cordoba tapi tidak sedikit pun berbicara dengan Chivu.”

Materazzi kemudian berpendapat Zinedine Zidana akan mengubah suasana ruang ganti Madrid karena ia punya kepribadian yang bagus dan pernah bekerja sama dengan para pemain.

“Tapi langkahnya tidak akan mudah. Meski demikian, saya mengharapkan yang terbaik baginya.”

Selain apa yang dikemukakan Matterazzi berbagai faktor juga mendorong berakhirnya masa kepelatihan Rafael Benitez di Real Madrid.

Sebut saja hasil buruk melawan tim-tim besar, bertikai dengan pemain, hingga tidak bisa menyuguhkan hiburan bagi pendukung Madrid ketika bermain di Santiago Bernabeu.

Satu faktor terakhir kejatuhan Benitez adalah ketika ia berselisih dengan presiden klub Florentino Perez soal James Rodriguez.

Dikabarkan The Times, pemain tim nasional Kolombia itu menjadi pemain yang ‘dititipkan’ Perez kepada Benitez. Rodriguez punya nilai penting karena ia menjadi kunci pemasaran Madrid di benua Amerika Selatan.
Hal ini juga yang ditegaskan Perez kepada Benitez sebelum laga El Clasico pada 21 November lalu. Perez, seperti diberitakan The Times, sempat berujar tidak akan menyalahkan Benitez seandainya kalah di laga akbar itu jika ia memainkan Rodriguez.

Benitez lalu menuruti keinginan Perez dan memainkan eks penyerang AS Monaco tersebut. Padahal Rodriguez baru saja sembuh dari cedera yang memaksanya absen beberapa pekan.

Perez pun menepati janjinya. Meski Barca dibantai di hadapan pendukungnya sendiri, satu hari setelah laga itu Perez mengeluarkan pernyataan di depan media bahwa Benitez tetap menjadi solusi dari seluruh permasalahan Madrid.

Perez juga mengumpulkan seluruh skuatnya untuk menegaskan bahwa Benitez punya kekuasaan penuh untuk memilih tim, dan tak satu pemain pun yang otomatis dipilih sebagai tim inti

Kesepahaman inilah yang tidak terlihat di laga terakhir Benitez yaitu melawan Valencia di Stadion Mestalla.

Benitez mengabaikan peringatan yang ia dapatkan pekan lalu bahwa Rodriguez harus jadi bagian dari tim inti. Eks manajer Napoli itu lebih memilih Mateo Kovacic dan menyimpan Rodriguez.

Hal ini membuat Benitez berkonflik langsung dengan Perez dan dengan hasil imbang Benitez tak punya pondasi untuk berdiri kokoh di hadapan sang presiden.

Memburuknya hubungan antara Benitez dan Perez ini terlihat dari cara Benitez mengetahui kabar pemecatannya.

Perez tidak pernah memberi tahu Benitez secara langsung dan sang pelatih baru menyadari ia kehilangan jabatannya ketika Perez mengumumkan di depan media bahwa Zinedine Zidane adalah pelatih baru Madrid.

Exit mobile version