Site icon nuga.co

Formula One di Ambang Sejarah Baru

Era baru Formula One akan segera datang bersamaan dengan di “tendang”nya sang pemilik Bernie Ecclestone  sebagai Chairman,  dan di”kudeta”nya kepemilikan oleh Liberty Media yang mengakuisisi ajang balap jet darat tersebut

“F1 kini akan menghadapi masa-masa perombakan total yang bisa menyelamatkan nyawa mereka,” tulis “speedweek,”  Selasa, 24 Januari 2017.

Datangnya Liberty Media ini menandai buruknya “merek” Formula One dalam satu dekade terakhir

Berbagai media menamakan dekade itu sebagai pinnacle of motorsport  atau  masa-masa kemuraman.

Di awal musim dua tahun silam,  FIA melaporkan bahwa F1 telah kehilangan seratus tujuh puluh lima  juta penonton televisi hanya dalam waktu enam tahun.

Padahal  sembilan tahun silam ada enam ratus juta  juta pasang mata menyaksikan aksi Lewis Hamilton mendapatkan gelar juara dunia untuk kali pertama

Dan ketika Hamilton juara di enam tahun seilam  jumlahnya merosot sangat tajam.

Pengambialihan Formula One ini juga disertai kejutan di”tendangnya” eksistensi Bernie Ecclestone.

Ia  resmi diberhentikan sebagai Chairman Formula One. Pria berusia gaek itu kini mendapat posisi baru sebagai chairman emeritus.

Seperti ditulis  Crash pada Rabu 24 Januari 2017, Chase Carey ditunjuk sebagai chairman yang baru.

“Saya diberhentikan hari ini. Ini resmi. Saya tidak lagi menjalankan perusahaan,” kata Ecclestone.

Ecclestone mengatakan telah mendapat tawaran posisi presiden kehormatan, tapi belum memberi jawaban apakah akan menerimanya.

“Saya mendapat titel ini, tanpa tahu apa artinya,” ujar Ecclestone.

Presiden dan CEO Liberty Media, Greg Maffei, memimpin ucapan terima kasih pada Ecclestone, dalam konfirmasinya atas pengambilalihan F1.

Dia menyatakan kepercayaannya pada Carey sebagai bos baru, untuk mengembangkan F1.

“Kami senang telah menyelesaikan akuisisi F1, dan bahwa Chase akan memimpin bisnis ini sebagai CEO. Ada kesempatan luar biasa untuk mengembangkan olahraga ini, dan kami percaya penuh bahwa Chase dengan kemampuan dan pengalamannya, adalah orang yang tepat,” kata Maffei.

Carey yang juga mendapat tambahan peran sebagai CEO, mengatakan bakal bekerja dengan semua yang terlibat di F1, untuk meningkatkan kualitas. Dia berjanji rencana di bawah kepemimpinannya, akan disampaikan dalam waktu dekat.

“Saya semangat untuk menjalankan peran tambahan sebagai CEO. F1 memiliki potensi besar dengan banyak kesempatan yang belum digunakan. Saya telah mendengarkan pendapat dari penggemar, tim, FIA, promotor, dan sponsor mengenai ide dan harapan mereka,” ucap Carrey.

Di negara-negara Eropa yang merupakan basis penggemar dunia balapan pun terjadi kondisi serupa. Italia yang identik dengan Ferrari, bahkan kehilangan hingga delapan juta penonton siaran langsung F1 hanya dalam periode  tiga belas tahun.

Aturan-aturan baru coba diterapkan pengelola untuk menarik minat penonton tanpa hasil menggembirakan.

Misalnya saja format kualifikasi yang coba diubah pada musim 2016. Alih-alih membuat balapan kian menarik, format baru itu menuai protes dan akhirnya dikembalikan ke aturan awal.

Juara dunia tiga kali, Hamilton, pernah menyatakan bahwa F1 kini telah hilang arah.

Hamilton juga pernah beberapa kali mengungkapan ketidakpuasannya terhadap kondisi Formula 1 saat ini. Hal ini terutama disebabkan saat ini para pebalap sangat jarang menyalip karena kondisi ban yang terlalu mudah aus jika digunakan melaju sekencang mungkin.

Selain itu, perbedaan kemampuan mesin dari satu tim ke tim lainnya juga menyebabkan semakin jarang pebalap tim kecil yang menjadi juara.

Distribusi uang hadiah yang timpang dan menguntungkan tim-tim besar seperti Ferrari dan Mercedes juga memperparah kondisi. Nyaris tak ada kejutan berarti yang bisa ditampilkan tim-tim non-unggulan dalam satu dekade terakhir.

Salah satu faktor lain yang membuat F1 kehilangan peminat adalah kegagalan mereka menjaring anak-anak muda lewat dunia digital.

Ya, di saat keriuhan terjadi di media sosial dan Facebook menjadi salah satu brand paling kuat di dunia, F1 justru jadi olahraga yang paling terlambat untuk memasukinya.

Di bawah Bernie Ecclestone –bos F1 yang telah memimpin selama lebih dari 40 tahun– ajang balap itu memang lebih difungsikan untuk menarik perhatian orang-orang kaya dunia.

Karena itu, Ecclestone lebih memilih untuk membuka jejaring dengan pemimpin-pemimpin dunia, meski hal itu berarti membawa F1 ke tempat-tempat bermasalah.

Strategi itu pun diakui Ecclestone sendiri bahwa ia tak berminat melayani anak-anak muda.

“Saya lebih baik mengincar pria berusia tujuh puluh tahun yang punya banyak uang,” ucap Ecclestone.

Liberty Media, perusahaan raksasa asal Amerika Serikat, akan memulai sejarash baru Formula One.

Tak tanggung-tanggung mereka merekrut nama yang memang akrab dengan olahraga dan industri hiburan.

Chase Carey, mantan petinggi eksekutif 21st Century Fox, resmi menggantikan posisi Ecclestone sebagai pemimpin eksekutif.

Sementara itu, Sean Bratches, yang pernah menjadi kepala eksekutif media olahraga ESPN akan mengatur sisi komersial, termasuk aspek pemasaran, hak siar, dan juga kerja sama sponsor.

Mantan Direktur Teknik Ferrari dan mantan Kepala Tim Mercedes, Ross Brawn, kebagian mengurusi aspek teknis dan segala sesuatu yang terkait balapan.

Di bawah nama-nama pemimpin baru F1, para penggemar akan berharap ajang balapan mobil nomor satu itu kembali ke tempat yang semestinya: mendapat perhatian dunia.

Dikutip dari BBC, Liberty Media juga ingin mengembalikan F1 kepada trah yang sebenarnya yaitu dengan pasar Eropa sebagai penyokong utama.

Mereka pun lebih ingin menghidupkan kembali trek-trek legendaris Eropa ketimbang meraup untung dari negara-negara kaya bermasalah.

Di sektor balapan, Ross Brawn akan punya tanggung-jawab paling penting mendengarkan para pebalap soal cara-cara untuk membuat balapan lebih menarik.

Perubahan tentu tidak mungkin terjadi dalam semalam.

Akan tetapi, satu hal yang bisa disimpulkan, tersingkirnya Ecclestone dan kedatangan Liberty Media membuat Formula One kini berada di fase transisi menuju era yang selanjutnya.

Exit mobile version