Site icon nuga.co

Lontong Tahu “Bang Agam” Dengan Rasa Nyam.. Nyam…

Tak susah menemukan letak lokasi warung tahu lontong “Bang Agam.”  Warung yang sudah men”donya” namanya di lingkungan penggemar tahu lontong. Nama yang kami dapatkan dalam “katalog” kuliner Banda Aceh yang dihimpun di laman sebuah “blog” seorang yang menamakan komunitasnya, “tahu dan lontong aceh.”

Bahkan sebuah “blog” jajan dimana melengkapi lontong tahu “Bang Agam” dengan harga beserta lokasinya, walau pun tidak sepenuhnya informatif tentang rasa dan bumbu yang menyebabkan kesedapannya.

Sebelum berkunjung ke warungnyanya kami juga pernah menikmat tahu lontong “Bang Agam” dari seorang teman pejabat,  ketika ikut perjalanan “avantour” ke Calang, Aceh Jaya,  lewat paket “bungkus.” Paket yang membuat kami sebal karena porsi dan kenikmatannya tidak lagi seasli kalu ia tersajikan dalam piring yang cembung.

Kami memang kesengsem dengan paduan kuah kecap bercampur cuka belanda yang diaduk bersama gula merah dan kemudiannya dilumuri tumisan bumbu kacang tanah yang disertai  dengan rempah bawang merah, bawang putih, cabe kering, cabe rawit, asam jawa  dan persis seperti bumbu gado-gado.

Ada rasa yang menggigit ketika kuah encer itu bertemu dengan bumbu kacang tanah yang menyentuh lontong dan sayuran toge, iris mentimun serta goreng emping melinjo. Rasanya menguapkan aroma wewangian di rongga mulut antara “taste” kacang, cuka, kecap dan gula merah.

Kalau tak percaya, coba hirup kuahnya di sendok pertama. Uu..ennaaknya….. , ketika kami yang dipandu  cara menikmatinya oleh Khaidir, anaknya “Bang” Abdullah “Agam,”ketika matahari matahari “duha” mulai merangkak siang saat  kami berkunjung ke warungnya dua pekan lalu. Khadir adalah generasi ketiga penjual tahu lontong itu dari trah “Bang Agam.”

Khaidir mendiktekan cara mengaduk antara kuah dan bumbu kacang yang tidak boleh diaduk-aduk. Biarkan bumbu kacangnya meleleh sendiri dan ambil lelehan itu dengan sendok untuk di makan. Sedikit demi sedikit. Tak perlu terburu-buru. Cara ini, kata Khaidir” akan membuat rasanya menjadi nikmat.

Dalam kenikmatan itu tidak akan terasa satu porsi sudah berpindah tempat dari piring ke perut. Padahal satu piring lontong tahu “Bang Agam” yang ditebus dengan harga Rp 12.000 termasuk ukuran “jumbo.”

Ketika kami bertanya kemana sang pemilik warung yang biasanya tampil dengan dandanan “trendy,”  berkacamata dan handphone”  bersarung hitam terselip di pinggangnya, Khaidir langsung berkata, “Bapak,” maksudnya sang ayah, Abdullah Agam, “lagi memenuhi undangan kenduri di Punie”

Khaidir tanpa ditanya langsung memberitahu bahwa ia anak sang pemilik, Abdullah Agam. Ia juga mengaku sebagai generasi ketiga dari pemilik warung. “Dulu yang jualan di sini kakek saya, Tjoet Puteh. Sekarang sudah peng-siuen,” katanya dengan nada setengah bergurau.

Warung lontong tahu  “Bang Agam” kini memang sudah mewariskan kepemilikan rasa dan resepnnya ke generasi ketiga lewat Khaidir. Generasi pertamanya, sang perintis, Tjoet Puteh telah sepuh, dan menurut Khaidir sesekali masih datang ke warung sebagai “hiburan.”

Menemukan letak warung lontang tahu Bang Agam tidaklah begitu sulit. Kalau di ukur jaranya dari p[usat kota, perjalanan bisa ditempuh sepanjang tiga kilometer. Bisa ditempuh  dengan melewati Setui, Jalan teuku Umar dan berbelok kea rah Jalan Sudriman, atau lewat Jalan Chik Di Tiro berbelok di Simpang Surabaya arah ke Batoh dan di ujungnya belok kanan ke Jalan Lampeunerut.

Cobala tlusurilah jalan pertama arah Ketapang,   dan pas di lampu stop, kalau kita dari arah pusat kota Banda Aceh untuk menuju Mata Ie, tolehlah ke kiri. Kita akan di sergap oleh plang papan merek ukuran besar dengan warna dasar biru dan tulisan,”Lontong Tahu Bang Agam.” Tak salah lagi. Pinggirkanlah kenderaan, yang kalau kita menaiki mobil sedikit agak susah karena lintasannya padat dan areal parkirnya sempit.

Lontong tahu ini mulai operasional pukul 08.00 pagi dan tutup menjelang sore. Itu jadwal tetapnya sejak lama. Sejak masih Tjoet Puteh memegang kendalinya di akhir tahun lima puluhan. Jadi, kalau dihitung-hitung lontong tahu ini sudah berusia lebih dari setengah abad.

“Dulu menurut kakek masih belum seramai ini pengunjungnya,” kata Khaidir yang ketika kami datang memang sedang padat pengunjung sehingga kursi-kursinya terisi penuh. “Dulu pun,” lanjut Khaidir,” banyak menerima pesan. Terutama dari perwira asrama. Kalau ada acara mereka pesan dalam jumlah yang banyak.”

Kawasan warung Bang Agam berdomisili memang tempat asrama dan pusat perkantoran tentara seperti Rindam, Zeni beserta asramanya mulai dari Ketapang, Japakeh dan Mata Ie.

Kini pengunjungnya selain langganan lama juga banyak yang datang dari pendatang luar daerah. “Mereka selalu berceloteh tentang rasanya yang nyam.. nyam…,” kata Khaidir berpromosi.

Exit mobile version