Site icon nuga.co

Lenyapnya Sebuah Sejarah “Koetaradja”

Gereja katholik di sisi timur Krueng Aceh yang masih utuh

Hasyim KS, almarhum. Wartawan. Seniman. Dan budayawan. Ia penyair alam. Penulis otodidak, dan cerpenis yang memiliki kekuatan imajinasi yang natural. Lima belas tahun lalu, ketika kami masih bersama-sama di “Serambi” ia prihatin dengan tergusurnya identitas Banda Aceh, yang sering ia sebut dengan “Koetaradja,” oleh kekuatan modal.

“BTU musnah. Hotel Atjeh punah. Taman Sari sakarat. Bahkan stasion kereta api raib,” begitu gereget ucapannya setiap kali mengenang “heritage” kota ini. Sebuah keprihatinan banyak orang. Dan Hasyim, begitu sapaan akrabnya, menuliskan cuplikan heritage ini, dan kami memuatnya untuk “nuga.co” sebagai kenangan.

—–

Lenyapnya bekas-bekas sebuah kerajaan yang megah dari berbagai runtun para Sultan dan Sultanah di Aceh, menurut perkiraan beberapa pengamat sejarah adalah karena Aceh beda dengan kerajaan-kerajaan terkenal lainnya di Nusantara dalam bangun membangun sarana.

Ternyata Aceh didominasi oleh budaya kayu sehingga tidak awet untuk ditemukan di zaman sekarang ini. Kecuali beberapa monumen seperti Gunongan salah satu peninggalan Sultan Iskandar Muda berikut sebuah gerbang kecil sebagai pintu belakang istana yang disebut Pinto Khob, khusus untuk para kerabat kerajaan untuk bersiram (manoe meu-upa) di Sungai Krueng Daroy. Plus beberapa situs sebagai makam-makam tua para penguasa dan keluarga kesultanan, awet karena terbuat dari bahan baku batu.

Gedung-gedung Tua

Kalau pun di usia 795 sekarang (pada tahun 2000, -red) di Banda Aceh terdapat beberapa bangunan-bangunan tua yang telah antik, adalah bangunan-bangunan yang berusia antara 70 sampai 100 tahun, rata-rata dibangun dalam masa kerajaan Aceh telah tiada setelah tahun 1874 M. Kecuali bangunan Masjid Teungku Anjong yang telah beberapa kali direnovasi yang berusia sekitar 300 tahun.

Bangunan-bangunan yang sedikit yang berada di Banda Aceh tersebut adalah Masjid Tgk. Anjong: Bangunan yang telah berusia lebih kurang 300 tahun ini terletak di Peulanggahan. Menurut buku “Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia” oleh Abdul Baqir Zein, masjid ini dibangun oleh seorang ulama di zaman Sultanan Alaidin Mahmud Syah di abad 18.

Ulama karismatik tersebut bernama Syeh Abubakar berasal dari Hadratulmaut (Arab). Kebiasaan dalam masyarakat Aceh, seseorang yang menjadi tokoh, maka masyarakat memberian nama sebagai panggilan akrab, maka Syeh Abubakar diberi nama panggilan akrab Teungku Anjong. Untuk ukuran sekarang bangunan tersebut betul-betul antik dan tercantum dalam sederetan koleksi masjid-masjid tua di Indonesia.

Masjid Raya Baiturrahman

Masjid ini dibangun oleh pemerintah Belanda tahun 1879 dan siap pakai 1881. Ketika itu petingginya adalah Gubernur Militer dan Civil, Letnan Jenderal K. Van der Heijden yang merasa harus mengganti Masjid Raya yang terbakar habis ketika penyerbuan Kumpeni Belanda tahun 1874. Ketika penyerbuan itu Masjid Raya terbuat dari bahan kayu, beratap ijuk.

Beberapa catatan mengatakan banyak jatuh korban dikedua belah pihak untuk merebut Masjid Raya yang dijadikan basis lasykar Aceh. Pasukan Belanda berhasil menghancurkan masjid setelah menembakan meriam berpeluru api. Beberapa jam setelah masjid yang telah jadi arang itu diduki, komandan tertinggi Belanda, Jenderal Kohler yang sedang berada di halaman masjid, tewas ditembak oleh sniper Aceh yang konon membidik sang jenderal dari belukar-belukar, kira-kira di sekitar bekas gedung PMABS sekarang.

Untuk mengembalikan kepercayaan orang Aceh, maka lima tahun kemudian dibangun penggantinya, sebuah masjid konstruksi beton dengan kubah tunggal. Bangunan asli tersebut sekarang ini berada di tengah-tengah, yang ada jam kuno.

Masjid Raya Baiturrahman setelah beberapa kali perluasannya setelah kemerdekaan Indonesia, telah memiliki 7 kubah dan 4 menara azan seperti sekarang ini. Sementara di halamannya yang dulu adalah jalanraya, berdiri sebuah menara setinggi 45 meter, yang disebut sebagai Menara Perjuangan dan adalah bangunan tertinggi di Banda Aceh.

Pendopo Gubernuran

Setelah Aceh diduki oleh pasukan kumpeni Belanda tahun 1874, setelah membenah negeri yang kemudian disebut masyarakat Aceh sebagai Kutaraja (jangan salah. Belanda lebih suka menyebutnya “Kota Raja” yang jauh menyimpang dari makna Kutaraja sebenarnya. Ini barangkali yang berbau kolonial yang perlu dikembalikan kepada makna Kutaraja yang sebenarnya-Pen).

Tahun 1881 sebuah bangunan yang ketika itu disebut istana, siap dibangun di atas bekas bangunan istana Sultan Aceh yang disebut Dalam. Di atas pertapakan bangunan Dalam itu dibangun sebuah rumah dinas resmi bergengsi yang setelah kemerdekaan Indonesia tahun 1945 disebut Pendopo Gubernuran dan sekarang ini disebut Meuligoe (Mahligai), tempat resmi siapapun yang menjabat Gubernur Aceh.

Bangunan ini bahan bakunya melulu dari kayu yang dipesan khusus dari Kalimantan (kayu besi). Petinggi Belanda pertama yang menghuni tahun 1881 adalah Gubernur Militer dan Civil, Letnan Jenderal K. Van der Heijden yang oleh orang Aceh disebut “Jenderal Bermata Sebelah” karena ketika memimpin pertempuran di Samalanga, sebelah matanya cedera ditembus peluru lasykar Aceh.

Dari berbagai sumber dikatakan semenjak siap huni tahun 1881 ada 22 petinggi Belanda yang menempati bangunan tersebut. Dan dalam masa pendudukan Jepang (1942-1945), hanya satu petinggi Dai Nippon sempat menempati “istana” tersebut yaitu Jenderal Mayor Syozaburo Iino.

Exit mobile version