Site icon nuga.co

“Pesta” Telegram Tumbangnya WhatsApp

“Malapetaka” error WhatsApp di jaringan iPhone, Rabu, dua hari lalu, menjalarkan kabar gembira ke layanan Telegram, yang dipilih oleh pengguna sebagai alternatif komunikasinya karena memiliki tipikal yang sama.

Seperti ditulis “ubergizmo,” Jumat, 27 Mei 2016, Telegram mendapat berkah dari “hancurnya” jaringan WhatsApp ke iPhone dan mulai dilirik oleh pengguna sebagai pilihan pas untuk beraktifitas.

Seperti diketahui layanan pesan instan WhatsApp sejak beberapa hari lalu  mengalami gangguan, namun hal ini diketahui hanya dialami oleh perangkat iOS saja.

Para netizen di Twitter pun punya ‘solusi’ sendiri.

Aplikasi WhatsApp di perangkat iOS tidak bisa beroperasi dengan lancar sebagaimana mestinya, dan kebanyakan yang mengalami gangguan ini adalah ketika aplikasi WhatsApp mengalami update ke versi  yang paling baru.

Tak sedikit netizen di media sosial Twitter mengeluhkan gangguan yang masih terjadi hingga pagi  kemarin.

Lucunya, mereka mengatakan lebih baik menggunakan layanan sejenis, yakni Telegram.

Pengguna dengan akun @emxxzmxn berkicau, “Whatsapp problem? Move on lah dari whatsapp dan ayuhlah ke Telegram. Huhuhu.”

Ada pula cuitan dari akun @AmdDanial yang mengatakan, “Whatsapp problem telegram kan ada.”

“Whatsapp problem? Oh come on, Telegram ada,” cuit @_naddynadhira.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan atau konfirmasi dari pihak WhatsApp.

Pengguna WhatsApp ada yang mencari jalan keluar dengan cara menghapus aplikasi ini dan kemudian menginstalnya kembali.

Sayangnya, tak semua berhasil melakukannya.

Untuk bisa mengaktifkan WhatsApp dengan solusi ini, pengguna harus terlebih dahulu terhubung dengan WiFi agar bisa bertukar pesan dengan lancar.

Layanan pesan instan WhatsApp, khususnyanya di iPhone memang sedang mengalami gangguan.

Banyak pengguna yang mengeluhkan aplikasi WhatsApp tidak bisa beroperasi secara lancar seperti biasanya.

Sejumlah netizen di Twitter pun tak sedikit yang keheranan mengapa mereka tidak bisa menggunakan WhatsApp.

Di samping banyaknya keluhan, ada juga yang menyatakan bahwa aplikasi WhatsApp mereka baik-baik saja.

Beberapa waktu lalu WhatsApp telah merealisasikan rencana untuk memberikan layanan yang aman melalui enkripsi end-to-end.

Terdengar aman dan terbebas dari peretasan, namun baru-baru ini John McAfee mengklaim bisa menembus sistem enkripsi tersebut.

Lembaga riset Cybersecurity Ventures melaporkan bahwa McAfee dan timnya menyebarkan klaim telah berhasil membobol sistem enkripsi WhatsApp.

Dengan kata lain, tim McAfee bisa membaca semua pesan WhatsApp yang seharusnya telah terenkripsi secara aman tersebut.

Satu hal yang digarisbawahi, tim peretas McAfee yang berbasis di Colorado, Amerika Serikat itu mengaku, awalnya mereka menemukan celah di platform mobile Google.

Dari situlah mereka kemudian mampu membuka sistem keamanan enkripsi aplikasi WhatsApp.

Dikutip dari ubergizmo, kerentanan enkripsi WhatsApp berarti hanya terdapat di aplikasi WhatsApp versi Android. Sementara untuk versi iOS disinyalir masih belum tersentuh.

Seperti yang diucapkan McAfee, masalah pokok tidak berasal dari aplikasi WhatsApp, namun terletak di sistem operasi Android sendiri yang dikembangkan Google.

McAfee juga mengklaim, ia dan timnya telah menemukan “celah serius” yang memungkinkan akses ke segala aplikasi di dalam perangkat Android, termasuk pesan WhatsApp yang telah terenkripsi sekalipun.

Banyak yang masih meragukan kebenaran dari klaim McAfee tersebut, mengingat dirinya kerap sesumbar mengenai sejumlah klaim peretasan selama ini.

McAfee menambahkan, dirinya mengaku terbuka untuk melakukan diskusi dengan pihak Google dan WhatsApp untuk membahas masalah tersebut.

Diketahui untuk mewujudkan sistem enkripsi ini WhatsApp tidak sendiri. Mereka bekerjasama dengan perusahaan privat yang dibangun oleh sejumlah hacker ternama, Open Whisper Systems.

Dengan pengguna aktif lebih dari satu miliar orang, sistem enkripsi ini dilihat WhatsApp sangat penting.

Terlebih lagi belakangan ini banyak sekali kasus yang mengancam privasi pengguna Internet.

WhatsApp menggunakan sistem enkripsi yang sulit ditembus, hal inilah yang dibenci oleh lembaga Federal Bureau of Investigation.

Menurut direktur FBI James Comey, fungsi ini memang aman, tapi di sisi lain bisa menyulitkan petugas hukum untuk melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan percakapan di WhatsApp.

“WhatsApp punya lebih dari satu miliar pengguna, yang kebanyakan didominasi oleh orang-orang baik. Tapi di antara miliaran pengguna tersebut ada teroris dan penjahat,” kata Comey sebagaimana dibuat The Next Web.

“Fitur enkripsi akan mempengaruhi kedua golongan tersebut. Mau tidak mau, hal itu akan menjadi penghalang saat ada perintah penyadapan telepon dalam sebuah kasus pidana dan dalam berbagai kasus keamanan nasional,” lanjutnya.

Fitur enkripsi end-to-end pada aplikasi WhatsApp diperkenalkan pada awal April 2016 lalu. Ini memungkinkan semua percakapan hanya bisa dilihat oleh pengirim dan penerima pesan.

“Bahkan WhatsApp pun tidak bisa melihat isi pesan tersebut,” tulis penjelasan di blog WhatsApp.

WhatsApp juga menjelaskan bahwa mereka tidak menyimpan fail apa pun terkait percakapan. Ini berarti pihak pemerintah pun tidak bisa memaksa WhatsApp untuk membocorkan data percakapan penggunanya.

Untuk mewujudkan sistem enkripsi ini WhatsApp tidak sendiri.

Mereka bekerjasama dengan perusahaan privat yang dibangun oleh sejumlah hacker ternama, Open Whisper Systems.

Exit mobile version