Site icon nuga.co

Memerangi Mereka Kecanduan Teknologi

Laman media terfkenal Inggris, “the guardian,” hari ini, Rabu, 07 Februari, menulis tentang munculnya desakani agar produk-produk  teknologi tidak terlalu adiktif dan manipulatif.

“the guardian” mengingatkan tentang ‘Truth About Tech’  yang merupakan adalah gagasan dari Center for Humane Technology, sekelompok mantan karyawan Facebook dan Google yang berdedikasi untuk membalikkan krisis perhatian digital dan menyelaraskan teknologi dengan kepentingan terbaik manusia.

Kampanye ini didanai oleh Common Sense, organisasi non-profit yang menyosialisasikan  teknologi dan media yang aman bagi anak-anak.

Kampanye ini akan mencakup materi pendidikan yang ditujukan untuk keluarga.

Materi tersebut menyoroti potensi kerugian yang diakibatkan oleh platform digital, dan teknik mitigasi untuk mengurangi sifat adiktif teknologi.

Misalnya seperti mematikan pemberitahuan, dan mengubah layar menjadi skala abu-abu.

Selain itu juga terdapat desakan untuk pembuat kebijakan, agar mengatur perusahaan teknologi yang menggunakan praktik manipulatif.

Kedua organisasi tersebut akan mengembangkan standar desain etis untuk membantu industri ini mencegah kecanduan digital.

Center for Humane Technology dipimpin oleh pakar etika desain Google Tristan Harris dan mantan investor dan penasihat Facebook Roger McNamee.

“Perusahaan teknologi sedang melakukan eksperimen besar-besaran pada anak-anak kita, dan, saat ini, tidak ada yang benar-benar menahan mereka untuk bertanggung jawab,” kata CEO Common Sense, James Steyer.

Dia memperingatkan bahwa model bisnis yang menarik perhatian perusahaan teknologi mungkin akan menyakitkan untuk perkembangan sosial, emosional dan kognitif anak-anak.

“Ketika orang tua belajar bagaimana perusahaan-perusahaan ini dapat memanfaatkan anak-anak kita, mereka akan bergabung dengan kita dalam menuntut perubahan industri dan memperbaiki praktik-praktik tertentu,”

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Common Sense, remaja menghabiskan waktu rata-rata sembilan jam per hari untuk media sosial, sedangkan usia praremaja menghabiskan enam jam.

Sementara itu, seperti dilansir The Guardian, sebuah studi terpisah oleh psikolog Jean Twenge menemukan bahwa pengguna berat media digital sebanyak 56% di antaranya menyatakan tidak bahagia, dan dua puluh tujuh persen  lainnya merasa depresi.

Kampanye tersebut dinilai sebagai babak akhir dalam upaya meningkatkan penentangan terhadap perusahaan-perusahaan teknologi besar. Banyak mantan karyawan perusahaan Silicon Valley memberikan kritik tajamnya terhadap industri ini.

“Perusahaan jaringan sosial tahu sejak awal bahwa ia menciptakan sesuatu yang mengeksploitasi kerentanan dalam psikologi manusia,” ujar presiden pendiri Facebook, Sean Parker pada November lalu.

“Hanya Tuhan yang tahu apa yang mereka lakukan terhadap otak anak-anak kita,” katanya.

Pada bulan Januari, CEO Salesforce, Marc Benioff bahkan mengatakan bahwa Facebook harus diatur seperti industri rokok

Menurut Chris Stephenson, Head of Strategy and Planning PHD Asia Pacific, kemudahan yang ditawarkan teknologi–apalagi yang berbasis kecerdasan buatan–ternyata bisa memicu penggunanya kecanduan.

Secara psikologis, ia menjelaskan teknologi bisa memberikan dampak yang ‘menghubungkan’ dan memperkuat penggunanya.

“Mereka akan puas ketika pekerjaan dibantu dengan teknologi. Kepuasan ini ternyata membuat manusia bisa kecanduan. Dengan begitu, teknologi akan semakin sering digunakan.

Bahkan, menurut riset kami empat puluh persen pengguna mengaku kecanduan dengan teknologi–ini dalam lingkup besar, seperti smartphone, internet, dan laptop. Pertanyaannya, apakah ini baik?” kata Chris

Jawabannya adalah tergantung pada masing-masing pengguna. Semakin besar peran teknologi menggantikan pekerjaan berat dan semakin intuitif dan simpel antarmukanya, tentu teknologi akan mengambil porsi pengguna.

Pola ini secara otomatis membuat penggunanya ingin menggunakan lagi dan lagi.

“Contoh simpelnya adalah ketika kita semua pergi ke kantor atau sekolah lalu ponsel tertinggal di rumah, itu bisa jadi perasaan paling buruk. Rasa-rasanya, ada yang hilang dari kita. Fenomena ini tidak bisa kita tolak. Ini adalah pertanda bergabungnya teknologi dengan manusia,” tandasnya.

Exit mobile version