Site icon nuga.co

Ide Gila, ESA Bangun Pedesaan di Bulan

European Space Agency atau Badan antariksa Eropa sedang menyiapkan rancang bangun sebuah ide gila dengan membangun desa di Bulan, dan mereka menjanjikan bisa mewujudkannya dalam dua dekade mendatang.

Ide gila ESA ini, Rabu, 15 Juki 2015, dikemukakan secara rinci oleh Profesor Johann-Dietrich Woerner seelah menjabat sebagai Director General di badan antaraiksa itu selama sepekan ini.

Ia bertanggung jawab atas segala hal yang ada di ESA dengan anggaran tahunan yang mencapai empat koma empat miliar Euro.

Selain ide gila membangun desa di Bulan, ESA juga akan melakukan observasi baru berupa pengembangan satelit komunikasi dan navigasi, program astronaut Stasiun Luar Angkasa Internasional, misi ke Mars, Jupiter dan Merkurius, hingga misi Rosetta.

Kepada situs BBC, Woerner menyatakan niat terpendam yang ingin ESA capai selama berada di bawah kendalinya.

Tak berbicara soal keuntungan sisi ekonomi dan sosial dari industri dirgantara, ia justru menyatakan eksplorasi masa depan yang ambisius dan berani.

“Kita perlu melihat masa depan lebih dari sekadar ISS. Kita harus menciptakan pesawat antariksa lebih kecil di orbit rendah Bumi untuk riset mikrogravitasi dan saya mengajukan pedesaan di Bulan,” ujar Woerner.

Menurut Woerner, desa di Bulan tidak berarti harus ada rumah-rumah, gereja, dan balai kota.

“Desa Bulan bisa berarti bermitra dari seluruh dunia, berkontribusi untuk komunitas ini bersama robot dan astronaut serta mendukung satelit komunikasi,” lanjut Woerner.

Desa Bulan tersebut direncanakan Woerner akan mengambil tempat di sisi jauh Bulan. Ia menganggapnya sangat menarik karena manusia bisa menggunakan teleskop untuk melihat alam semesta lebih dalam lagi.

Woerner mengatakan, “orang Amerika berencana ke Mars sebentar lagi, dan saya masih belum tahu bagaimana kita bisa ke sana. Sebelum ke Mars, kita uji coba dulu ke Bulan.”

Ia membayangkan, inisiasi pedesaan Bulan tersebut bakal menjadi pemukiman yang melibatkan banyak astronaut, dari kosmonaut Rusia dan taikonaut China.

“Kita sudah punya cukup banyak masalah di Bumi di antara negara, hubungan antariksa bisa menjembatani masalah ‘kebumian’ dan Bulan saya rasa bisa menjadi tujuan baik,” ungkapnya.

Sebelum ide gila ESA ini, Badan antariksa Amerika Serikat, NASA juga telah menyiapkan program riset ambisius, yakni mentransformasi kawah Bulan menjadi habitat robot.

Kawah yang dimaksud bernama Shackleton dan terletak di kutub selatan Bulan.

Kawah Shackleton tak hanya sebagai kawasan utama untuk eksperimen transformasi, NASA ingin mengubahnya menjadi kawasan layaknya Optimus Prime di Film Transformers.

Untuk jangka panjang, tentu Shackleton akan diproyeksikan sebagai habitat robot penjelajah.

Mengutip situs Popular Science, NASA berencana mengisi kawah dengan trafo tenaga surya dan menggunakan ‘armada’ robot untuk mengubah kawah menjadi lingkungan kecil yang ramah.

Kawah Shackleton melapisi Bulan seluas dua rarus kilometer lebih, atau dua kali ukuran Washington DC. Kawah ini dikelilingi oleh gundukan yang tinggi di atas permukaan kawah.

Kabarnya, para peneliti telah menemukan air di dalamnya, ini yang membuat pihak badan antariksa optimis untuk menjadikannya habitat manusia di masa depan.

Untuk habitat robot sendiri, perangkat cerdas ini membutuhkan tenaga listrik dan kehangatan. Dengan perlengkapan yang sesuai, NASA meyakini bahwa Matahari juga bisa menyumbang energi yang cukup.

Diketahui suhu Shakleton pada malam hari bisa mencapai minus seratus tujuh puluh tiga derajat celsius, namun rangkaian pemantul Matahari bisa menangkap cahaya dari puncak lereng kawah dan memantulkannya ke bawah kawah untuk menghantarkan panas serta mengisi daya ulang perangkat robot dalam waktu yang bersamaan.

Energi yang dihantarkan pun berkisar satu megawatt untuk mencegah pembekuan.

Apabila berhasil, maka kaum ‘Optimus Prime’ bakal mewarisi Bulan.

Exit mobile version