Site icon nuga.co

Google Plus “Bangkrut” Pengunjung?

Google + “lempar handuk.” Kalah bersaing? Atawa bangkrut pengunjung.

Itulah cerminan dari kebijakan layanan milik Google ini setelah dpoecah menjadi dua layanan bernama Photos dan Streams.

Langkah ini, menurut laman dari situs “bussine insider,” bisa diartikan sebagai keputusan Google untuk menyatakan layanan jejaring sosialnya tersebut kalah bersaing melawan para raksasa semacam Facebook, Twitter, dan LinkedIn.

Ada apa di balik kegagalan Google+?

Dari keterangan internal Google yang dikutip “nuga” dari “business insider,”Jumat, 01 Mei 2015, perubahaan ini dikatakan karena Google+ lebih dirancang untuk mengurangi beban Google ketimbang memudahkan penggunanya untuk saling terhubung.

Dengan Google+, Google tak perlu mengelola banyak profil pengguna untuk berbagai layanan dan produk yang disediakan karena seorang pengguna cukup melakukan login ke Google+ untuk bisa mengakses aneka layanan perusahaan tersebut.

Sayangnya, pengalaman social networking yang disajikan tidak sesederhana jejaring sosial lain.

Para pengguna Google+ harus berpikir siapa saja yang mesti ditambahkan ke masing-masing circle.

Cara ini lebih rumit ketimbang hanya menambah seseorang sebagai teman seperti pada Facebook atau menambah orang lain dalam jaringan seperti pada LinkedIn.

Alasan lain berkaitan dengan transformasi pola penggunaan ke arah gadget mobile yang tak diantisipasi dengan cepat dan tepat oleh Google.

Facebook juga terlambat masuk ke mobile, tetapi jejaring sosial itu belakangan mampu mengatasi ketertinggalan, lalu kemudian malah menjadikan pengguna mobile sebagai sumber pemasukan utama.

Sebaliknya, Google+ terlalu berfokus pada foto resolusi tinggi yang bagus buat pengguna desktop, tetapi lamban dibuka di perangkat mobile.

Sumber internal Google juga menambahkan faktor lain, termasuk mundurnya pimpinan Google+, Vic Gundotra, tahun lalu yang menyebabkan kekosongan di pucuk kepemimpinan.

Kendati tak berkembang menjadi jejaring sosial besar dan aktif seperti yang diimpikan pembuatnya, Google+ tidak sepenuhnya gagal.

Google+, misalnya, bisa dipakai sebagai tool yang berguna untuk mengatur foto secara online.

Dengan Google+, Google pun telah membikin platform solid yang memudahkan jutaan penggunanya dalam menggunakan aneka produk dan layanan yang disediakan perusahaan raksasa search engine tersebut.

Google menambahkan fitur aplikasi olah foto populer Snapseed ke situs jejaring sosial Google Plus.

Dengan menggunakan fitur ini, pengguna Google Plus dapat langsung melakukan editing foto dari situs tersebut.

Belum semua pengguna dapat menikmati fitur editing tersebut. Google memberikan update fitur Snapseed ini secara bertahap ke pengguna Google Plus.

Jika Anda sudah mendapatkannya, seperti dikutip dari The Next Web akan muncul menu baru, Edit, setiap kali membuka foto di Google Plus.

Tidak semua fitur Snapseed versi mobile yang dapat digunakan di Google Plus. Fitur-fitur yang dapat dinikmati oleh pengguna, antara lain auto enhance dan juga beberapa filter terpilih. Pengguna juga dapat menggunakan fungsi crop dan rotate.

Semua fungsi tersebut dapat digunakan melalui peramban Chrome. Apabila pengguna menggunakan peramban selain Chrome, fungsi yang bisa digunakan hanya crop dan rotate.

Aplikasi Snapseed versi mobile saat ini hadir untuk perangkat berbasis iOS dan Android, baik itu ponsel pintar maupun tablet. Aplikasi tersebut tersedia secara gratis.

business insider dan the next web

Exit mobile version