Site icon nuga.co

Google Jelaskan Keberadaan Fucshia

Fuchsia, yang  pertama kali diketahui pada Agustus tahun lalu, kini digadang-gadang oleh para pengamat teknologi informasi  bakal menggantikan fungsi  sistem operasi  Android dan Chrome OS di masa depan.

Bulan ini bocoran antarmuka Fuchsia mengemuka dan beredar di internet sehinga menguatkan dugaan tersebut.

Tapi benarkah Fuchsia akan mengambil tongkat estafet dari Android?

VP Engineering Android Google, David Burke, ditanyai soal itu  masih belum mau banyak bicara soal prospek masa depan Fuchsia.

“Fuchsia adalah proyek eksperimental tahap awal,” jawab Burke.

“Kami punya banyak proyek awal yang menarik di Google. Saya pikir yang menarik (dari Fuchsia) adalah sifatnya yang open source, jadi orang-orang bisa melihatnya dan berkomentar,” imbuh Burke.

Dia menjelaskan, proyek Fuchsia dikerjakan secara mandiri dan terpisah dari Android. Ada kemungkinan Fuchsia masih akan terus berubah lantaran masih berada dalam tahap awal pengembangan.

“Ada banyak orang pintar yang mengerjakannya saat ini. Kami juga bekerjasama dengan orang-orang hebat. Menanti apa yang akan terjadi benar-benar membuat penasaran,” kata Burke.

Berbeda dari Android dan Chome OS sebelumnya, Fuchsia diketahui tak menggunakan kernel Linux, melainkan microkernel baru bernama Magenta yang dikembangkan oleh Google.

Tampilannya sendiri, seperti terlihat dalam bocoran yang beredar awal bulan ini, berupa kartu-kartu atau cards yang bisa digulir secara vertikal.

Namun, seperti kata Burke, semua hal tentang Fuchsia -termasuk prospeknya sebagai pengganti Android- masih bisa terus berubah dan belum bisa dipastikan.

Selama ini memang ramai dibicarakan bahwa Google sedang mengembangkan OS baru bernama Fuchsia.

Sistem operasi itu pertama kali muncul pada Agustus tahun lalu, masih berupa command line.

Belakangan, Fuchsia menampakkan diri dalam bentuk bocoran antarmuka sistem operasi (UI) berkodenama “Armadillo”.

Homescreen Fuchsia menampilkan kartu-kartu atau cards yang bisa digulir secara vertikal.

Di bagian tengah layar ada semacam tempat untuk foto profil pengguna, tanggal, nama kota, dan ikon baterai. Di atasnya terdapat kartu “stories” yang berfungsi seperti “recent apps” di Android.

UI yang agaknya masih berupa prototipe ini juga mampu menampilkan interface split-screen dan tampilannya bisa diperbesar agar sesuai dengan layar tablet.

Berbeda dari Android dan Chrome OS sebelumnya, Fuchsia tak menggunakan kernel Linux, tapi microkernel baru bernama Magenta yang dikembangkan oleh Google.

Fuchsia berbasis kode open-source sehingga masih bebas diutak-atik. SDK yang digunakan adalah Google Flutter yang bisa dipakai menulis aplikasi Android dan iOS.

Dokumentasi Google yang dirangkum KompasTekno dari ArsTechnica menyebutkan bahwa Magenta menyasar “ponsel dan PC modern dengan prosesor berkinerja tinggi”.

Untuk saat ini masih terlalu awal untuk berspekulasi lebih jauh soal Fuchsia. OS baru tersebut mungkin masih butuh waktu bertahun-tahun lagi sebelum siap dilepas. Itu pun kalau benar akan dirilis.

Tapi tetap ada kemungkinan Fuchsia akan menjadi penerus Android atau Chrome OS. Android dulu juga bermula sebagai sistem operasi yang dikembangkan untuk kamera digital.

Setelah Android, Chrome OS, dan Chromecast, Google bakal meluncurkan satu lagi sistem operasi bertajuk “Fuchsia”.

Kabar ini pertama kali terendus dari situs GitHub.

GitHub sendiri merupakan layanan penyimpanan proyek software bersama berbasis Git.

Di situs itu, muncul sebuah proyek baru yang dideskripsikan sebagai “Pink + Purple = Fuchsia (a new Operating System)”.

Di bawah deskripsinya, tercantum alamat situs Google Source. Lantas, perangkat apa yang bakal berjalan dengan Fuchsia?

Seperti ditulis SlashGear, Fuchsia digadang-gadang bakal menjadi sistem operasi untuk mendukung Internet of Things alias IoT.

Pasalnya, Fuchsia tak berbasis Linux layaknya sistem operasi Google yang sudah-sudah.

Mediator software-hardware pada Fuchsia menggunakan kernel Magenta teranyar yang dirancang untuk IoT.

Hingga kini Google masih enggan berkomentar soal kehadiran Fuchsia dan fungsinya. Jika benar untuk implementasi IoT, sistem operasi itu sudah punya dua pesaing kuat yakni FreeRTOS dan ThreadX.

Exit mobile version