Site icon nuga.co

Facebook Tambah Lagi Tiga Fitur Instan

Minggu lalu, Facebook menambahkan tiga fitur baru ke aplikasi pesan instan Messenger, yakni Codes, Usernames, dan Links.

Dengan Links, pengguna Messenger kini bisa memiliki tautan web berdasarkan nama di Facebook.

Tautan tersebut bisa dibagikan ke mana pun secara online untuk langsung memulai chatting via Messenger dengan pengguna yang bersangkutan.

Namun, yang paling menarik mungkin adalah Codes. Fitur ini memungkinkan pengguna mengobrol dengan sesama pemakai Messenger dengan memindai sebuah “QR code” khusus berbentuk bundar, seperti gambar di atas.

Kemampuannya mirip dengan Snapcodes di aplikasi Snapchat. Dengan Codes, pengguna Messenger bisa langsung ngobrol tanpa perlu saling “kenal” di Facebook sebelumnya.

“Tak perlu tahu nomor telepon, Anda juga tak perlu sudah berteman di Facebook,” tulis perusahaan jejaring sosial tersebut di sebuah posting berisi pengumuman.

Sebagaimana ditulis  The Next Web, selain pengguna pribadi, Codes juga tersedia untuk akun bisnis atau brand sehingga pelanggan bisa memindai kode dengan kamera ponsel untuk langsung berinteraksi.

Lagi-lagi, fitur serupa juga terdapat di Snapchat

Hati-hatilah bermain dengan hati, apalagi jika menyangkut perasaan ratusan ribu orang. Hal inilah yang dilakukan Facebook terhadap ratusan ribu penggunanya sehingga memicu kontroversi.

Pada empat tahun lalu, jejaring sosial terbesar di dunia itu menggelar penelitian soal “penularan” emosi antar manusia secara online.

Sebagai sampel, digunakanlah pengguna Facebook sebanyak enam ratusan ribu orang.

Selama seminggu, sebagaimana dilaporkan oleh Electronista, newsfeed para pengguna tersebut disaring menggunakan algoritma software.

Sebagian dibuat mendapat lebih banyak update status bernada positif dari teman-teman, lainnya lebih banyak membaca update status bernada negatif.

Hasilnya dijabarkan dalam sebuah makalah yang dipublikasikan secara online. Di dalamnya, Facebook mengatakan bahwa emosi ternyata bisa “ditularkan” secara online.

Pengguna yang newsfeed miliknya dipenuhi status positif lebih “happy” dan cenderung menulis update status positif pula.

Sebaliknya, pengguna yang banyak melihat kata-kata bernada negatif cenderung lebih muram ketika memperbarui status.

Penelitian yang dilakukan secara diam-diam tanpa sepengetahuan pengguna ini sebenarnya tidak melanggar kebijakan privasi Facebook karena staf jejaring sosial itu tak mengakses update status teman-teman pengguna.

Penyortiran pesan dilakukan oleh mesin.

Meski begitu, tak pelak penelitian tersebut menimbulkan kontroversi karena “mempermainkan” perasaan orang dalam jumlah sangat banyak.

Menanggapi kritikan pengguna yang menyebut penelitan Facebook sebagai hal yang tidak etis, anggota Core Data Science Team Facebook, Adam D.I. Kramer, mengatakan bahwa riset dilakukan karena Facebook “peduli” dengan dampak emosional yang ditimbulkan pada pengguna.

“Kami pikir penting untuk mengetahui apakah konten positif membuat orang merasa negatif atau ditinggalkan.

Demikian juga soal kemungkinan negativitas membuat orang menghindari Facebook,” tulis Kramer dalam sebuah posting Facebook.

Posting tersebut langsung dibanjiri komentar, baik yang merasa terganggu dengan penelitian dan pengguna yang mendukung aksi Facebook.

Tim Facebook sendiri rupanya sedikit menyesal telah menimbulkan kontroversi lewat penelitian.

“Kalau dipikir lagi,” tulis Kramer, “manfaat riset ini tak sebanding dengan kecemasan yang ditimbulkannya.”

Exit mobile version