Site icon nuga.co

Facebook Safety Check Mendadak Aktif

Laman situs “the verge,” pagi ini, Rabu, 28 Desember 2016, secara mengejutkan menulis tentang algoritma Facebook tertipu oleh sebuah berita lawas mengenai peristiwa yang terjadi pada tahun lalu.

Dan media sosial raksasa itu secara otomatis mengaktifkan fitur pelacak korban atau dikenal dengan nama safety check yang menyebutkan terjadi sebuah ledakan di Bangkok, Thailand.

Fitur tersebut mendadak aktif sekitar tengah malam waktu setempat.

Para pengguna di Thailand  itu pun melihat munculnya notifikasi yang meminta mereka melaporkan kondisi keamanan dirinya.

Namun ada hal yang aneh. Tautan yang ditunjukkan oleh Facebook justru merujuk ke berita mengenai pemboman Kuil Erawan yang dipublikasikan Bangkok Informer pada setahun silam.

Berikutnya, dalam hitungan jam, Facebook menyadari ada kesalahan dalam fiturnya. Safety Check itu langsung dimatikan.

Facebook pun merilis penjelasan mengenai kesalahan tersebut.

“Hari ini Safety Check menyala di Thailand dengan alasan terjadi sebuah ledakan. Peristiwa ini, seperti halnya aktivasi Safety Check lain, dinyalakan berdasarkan konfirmasi informasi terpercaya dari aplikasi buatan perusahaan lain.”

“Setelah konfirmasi tersebut, Facebook baru akan mengumumkannya ke teman dan keluarga,” tulis pernyataan resmi Facebook.

Menurut Facebook, Safety Check tersebut tiba-tiba aktif karena beberapa media melaporkan sebuah tindakan protes di gedung pemerintahan. Kala itu, ada seorang pria yang melemparkan kembang api seukuran bola pingpong.

Facebook menjelaskan bahwa peristiwa itulah yang memicu algoritma untuk menyalakan Safety Check. Algoritma menyangka kembang api tersebut sebagai peledak.

Pada kenyataannya, kembang api itu sama sekali tidak menimbulkan ledakan.

Meski begitu, algoritma tetap menyalakan Safety Check dan bahkan mengaitkannya dengan ledakan bom di Thailand pada tanun lalu.

Berbagai tautan yang ada di Safety Check pun sama sekali tidak mengarah ke sumber berita orisinal. Tiga tautan yang ada di sana malah mengutip cerita mengenai ledakan yang terjadi .

Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, blog ini mengatakan, “Ketika teman Anda mengorek kabar mengenai ledakan yang terjadi setahun lalu dan membagikannya ke Facebook, rasanya sangat tidak nyaman.”

Selebihnya, Facebook tak paham mengapa tautan berita lawas itu bisa masuk ke dalam fitur Safety Check buatannya.

Sekadar diketahui, kekeliruan Safety Check ini sudah beberapa kali terjadi

Sebelumnya pada Maret lalu, Facebook juga secara mendadak mengeluarkan peringatan pada pengguna di Amerika Serikat, Inggris dan negara lain karena terjadi sebuah pemboman di Pakistan.

Safety Check Facebook  pernah pula diaktifkan  setelah insiden penembakan di sebuah klub di Orlando, Florida

Safety Check secara otomatis akan mengirim pesan kepada pengguna Facebook yang berada di lokasi dengan pertanyaan apakah mereka selamat atau tidak.

Pengguna kemudian bisa klik “Yes, let my friends know,” jika mereka dalam keadaan baik-baik saja, dan mempublikasikannya di Facebook.

Fitur Safety Check pertama kali diaktifkan Facebook sebagai respons aksi terorisme di Paris, Perancis pada November tahun lalu.

Sebelumnya, fitur tersebut hanya diaktifkan saat terjadi bencana alam.

Facebook pernah minta maaf akibat macet safety check atas kesalahan teknis tersebut.

“Ternyata, banyak orang yang tidak terimbas oleh krisis itu yang menerima notifikasi apakah mereka baik-baik saja,” tulis Facebook di akun resminya saat itu

Bug ini membuat produk safety check tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kami meminta maaf kepada semua yang salah menerima notifikasi itu,” imbuh Facebook.

Fitur Safety Check Facebook juga dikirim melalui pesan SMS menanyakan, “Are you affected by the explosion?“.

Pemberitahuan lain berupa notifikasi yang muncul di layar komputer atau ponsel yang memberi tahu ledakan terjadi di Lahore, sementara penerima tinggal di negara lain.

Bom itu meledak di sebuah taman yang digunakan umat Kristen setempat untuk merayakan hari raya Paskah.

Ledakan itu terjadi berbarengan dengan bentrokan di Islamabad antara polisi dan pendukung seorang pembunuh gubernur yang telah diseksekusi sebulan lalu.

Exit mobile version