Site icon nuga.co

“Facebook” Korut Itu “starcon.net.kp”

Facebook kini menemukan duplikat barunya, tapi palsu,  di Korea Utara,  bersamaan dengan  munculnya akses  Intranet  yang dibangun dari  jejaring sosial dan  sangat mirip dengan aplikasi aslinya yang milik Mark Zuckerberg

Media sosial itu dinamakan Starcon.”Sangat mirip dengan Facebook,” tulis “speedweeek,” Kamis, 02 Juni 2016.

Untuk jelasnya lagi, “speedweek” memberitahu alamatnya, “starcon.net.kp” lewat tampilan  logo lingkaran yang di dalamnya terdapat lambang hati.

Sebuah perusahaan teknologi asal  Amerika Serikat,  Dyn, menjadi sumber pertama  yang  mengungkapkan keberadaan media sosial Starcon.

Dyn, lewat akun Twitternya,  memberikan gambar tampilan situs Starcon.

Dari situ, terlihat satu-satunya hal yang membedakan Starcon adalah ketiadaan logo Facebook di halamannya.

Selebihnya sama persis dengan Facebook. Starcon memakai warna biru di bagian atas.

Pengguna dimungkinkan untuk update status, lalu ada kolom chatting di kanan bawah, lalu bisa juga mencari seseorang, hashtag, dan grup di kotak Search.

Direktur Analisis Internet Dyn, Doug Madory, berkata situs web Starcon ini sangat tidak biasa, karena situs web ini memakai layanan hosting di Korea Utara.

Sementara itu, banyak situs web orang Korea Utara yang memakai hosting di China.

Kendati demikian, Madory tidak meyakini ini adalah proyek resmi dari pemerintah Korea Utara karena ia menemukan beberapa akun palsu yang menyamar sebagai pemimpin Korea Utara.

Ditemukan pula sebuah foto olahan yang menggambarkan Kim Jong Un memakai baju anak-anak dan sedang melompat.

“Seseorang di dalam negeri yang melakukan ini,” ujarnya

Sampai saat ini belum diketahui soal tanggal situs itu diluncurkan, atau berapa banyak orang yang telah mendaftar.

Namun, beberapa orang telah mengeksploitasinya karena telah menemukan celah keamanan.

Dari sisi keamanan, media sosial tersebut nampaknya mudah untuk diretas karena pembangunannya berbasis phpDolphin yang bisa dijebol hanya dengan melakukan trik kombinasi ‘admin’ dan ‘password’. Tetapi, peretas yang hendak mengganggu Starcon tentu saja harus menembus “dinding pembatas” Internet Korea Utara yang super tertutup.

Dengan munculnya duplikat Facebook ala Korea Utara ini mengindikasikan adanya keinginan mereka untuk mencoba peruntungan di ranah media sosial.

Setidaknya kesan inilah yang didapat.

Nama lengkap dari jejaring sosial itu “Best Korea’s Social Network” yang beralamat di starcon.net.kp.

Setelah sempat heboh, situs  tersebut kini sudah tidak bisa diakses.

Madory menduga situs yang bersangkutan dibuat untuk keperluan eksperimen oleh seseorang di Korea Utara.

“Menemukan situs yang di-hosting di Korea Utara adalah kejadian yang tidak biasa,” kata Madory sambil menambahkan bahwa situs Korea Utara biasanya memiliki alamat hosting di China.

“Saya tak yakin situs itu merupakan proyek resmi pemerintah Korea Utara. Tapi seseorang di dalam negara tersebut pastilah merupakan tokoh di baliknya,” imbuh Madory.

Dia juga mengatakan bahwa situs Korea Utara biasanya tidak bisa diakses oleh pengunjung yang berdomisili di luar negara komunis itu.

Pemerintah Korea Utara dikenal memberlakukan regulasi internet yang sangat ketat. Mayoritas warga dilarang mengakses internet. Mereka yang memperoleh akses pun terus menerus diawasi.

Situs “Best Korea’s Social Network” sendiri dibikin dengan phpDolphin, sebuah sistem software berbasis template yang memungkinkan siapapun membikin situs jejaring ala Facebook.

Rekam jejak internet yang tersedia untuk publik tidak bisa mengidentifikasi siapa atau entitas apa yang menciptakan situs tersebut, demikian juga dengan waktu penayangan perdananya yang tidak diketahui pasti.

Yang jelas, sejumlah pengguna internet sempat membuka dan membikin akun di “Best Korea’s Social Network”.

Ini bisa dilihat dari banyaknya akun palsu yang mengatasnamakan dan mengolok-olok Kim Jong Un di jejaring sosial itu sebelum akhirnya ditutup.

Berita lai yang datang dari Korea Utara adalah  terungkapnya  peretasan akun oleh para hacker  terhadap ponsel pintar para pejabat tinggi pemerintah Seoul.

Korut memang kian gencar melakukan serangan siber usai uji nuklir keempat.

Badan Intelijen NasionaL Korsel, NIS, mengatakan hacker Korut berhasil mencuri nomor-nomor telepon dan pesan teks di berbagai ponsel pintar beberapa pejabat tinggi Korsel antara Februari dan awal Maret.

Hacker Korut, lanjut NIS, juga menyerang server perusahaan piranti lunak Korsel yang memproduksi sistem keamanan untuk perbankan internet.

“Korut telah melakukan serangkaian serangan terhadap ruang siber kita. Jika terlambat diketahui, maka akan menyebabkan kerusakan finansial yang besar, seperti kelumpuhan pada sistem perbankan internet atau transfer ke rekening yang tidak diinginkan,” ujar pernyataan NIS.

NIS mengatakan, serangan siber Korut dilakukan usai uji coba nuklir pada 6 Januari lalu. Pembobolan kali ini menurut NIS adalah persiapan Korut untuk melakukan serangan siber besar terhadap jaringan perbankan Korsel.

Exit mobile version