Site icon nuga.co

Facebook Dihujat Pasang Tombol “Dislike”

Facebook diyakini para pengamat teknologi akan bikin ricuh lewat aksi terbarunya memasang tombol dislike dan digugat bakal media jejaring sosial itu menjadi platform antisosial yang memisahkan sesama penggunanya.

Prinsip di media sosial kan bisa mengutarakan apa saja, tidak ada batasan. Bagaimana jika tombol dislike digunakan untuk memberikan feedback dari postingan status yang baik. Status pengguna baik tapi malah direspons dengan ‘dislike'”

Banyak pengamat tidak setuju dengan adanya penambahan tombol Dislike karena dikhawatirkan itu akan menimbulkan kericuhan di dunia maya.

Dengan aksi itu secara tidak langsung Facebook akan menjadi antisosial karena semakin memisahkan sesama pengguna dengan adanya tombol Dislike.

Suka atau tidak suka, kedatangan Facebook sudah menjadi platform antisosial karena terlalu banyak interaksi di dunia maya. Dengan adanya fitur ‘dislike’ ini bisa membuat kondisi sosial semakin tidak baik.

Pakar media sosial, William Liu juga sependapat. Malah dia menyarankan agar Facebook memunculkan fitur ekspresi emotikon. Ini dianggap tak akan berdampak buruk secara langsung ke dunia nyata.

“Lebih baik meluncurkan fitur seperti senyum standard, senyum cemberut, senyum heboh, sedih atau senyum ekspresi lainnya yang secara langsung juga tidak berdampak buruk di dunia nyata,” kata William.

Tombol dislike sendiri baru dalam tahap pengembangan dan belum akan disematkan dalam waktu dekat.

Namun begitu, Zuckerberg memastikan jika perusahaannya sedang mengupayakan bagaimana cara agar tombol dislike tidak disalahgunakan oleh para pengguna.

Tombol yang ditujukan untuk mengekspresikan empati ini diklaim telah diminta oleh pengguna sejak pertama kali Facebook memperkenalkan tombol ‘like’ pada enam tahun lalu.

Rencana pemasangan tombol dislike di media sosial Facebook dinyatakan langsung oleh Founder Facebook, Mark Zuckerberg, di sebuah sesi tanya jawab via online live streaming hari di kantor pusat Facebook, California, Amerika Serikat.

Pakar Digital Marketing Indonesia, Anthony Leong, mengatakan bahwa dirinya tidak setuju dengan adanya penambahan tombol ‘dislike’ di laman Facebook karena ia khawatir hal ini akan menimbulkan kericuhan di dunia maya.

“Kita melihat dari sisi sosialnya saja, dengan adanya media sosial pengguna bisa utarakan apa saja, tidak ada limit. Bisa dibayangkan apabila status pengguna yang dimaksud adalah yang baik tetapi feedback dari pengguna lain merespon dengan ‘dislike’, ini bisa memicu kericuhan di dunia maya dan nyata,” ujar Anthony

Facebook akan menjadi antisosial karena semakin memisahkan sesama pengguna dengan adanya tombol ‘dislike’.

“Suka atau tidak suka dengan adanya kedatangan Facebook sudah menjadi antisosial platform karena terlalu banyak interaksi di dunia maya, apalagi dengan adanya fitur baru ‘dislike’ ini bisa membuat kondisi sosial semakin tidak baik,” ujarnyau.

“Facebook harus jeli melihat fitur baru ini, lebih baik meluncurkan fitur seperti senyum standard, senyum cemberut, senyum heboh, sedih atau senyum ekspresi lainnya yang secara langsung juga tidak berdampak buruk di dunia nyata,” terang William

Facebook memang sudah memutuskan untuk mengembangkan tombol “dislike” untuk memperkaya ekspresi berkomunikasi lewat jejaring sosialnya.

Menurut CEO Facebook Mark Zuckerberg, tombol “dislike” sudah lama diminta para pengguna.

Lalu, setelah hampir dua belas tahun beroperasi, mengapa baru sekarang Facebook mewujudkan keinginan penggunanya itu?

Salah satu alasannya adalah perubahan tren pengguna Facebook yang kini lebih diminati orang dewasa.

Tombol “dislike” dianggap lebih bisa dimanfaatkan oleh netizen yang telah matang dalam usia dan semoga dalam sikap.

Sebab, jika pengguna Facebook masih didominasi para remaja atau ABG (anak baru gede) yang stereotipnya belum stabil, tombol “dislike” dikhawatirkan bisa jadi ajang bully dan penyebaran energi negatif.

“Saya tak ingin Facebook jadi forum orang-orang menjatuhkan postingan orang lain,” kata Zuckerberg, sebagaimana dilaporkan Gizmodo

Kini, kala para remaja telah bermigrasi ke media sosial yang lebih baru, seperti Instagram dan Snapchat, Zuckerberg merasa momen bagi kemunculan tombol “dislike” makin mendesak.

Orang dewasa, menurut Facebook, lebih suka membagi berita dan berdiskusi tentang politik atau hal-hal serius lainnya. Dalam diskusi dan pemberitaan yang beredar, tombol “like” dianggap tak mengakomodir ekspresi lain untuk menanggapi suatu isu.

“Tak semua momen adalah momen bahagia, bukan? Jika Anda membagi berita sedih, tak apik rasanya orang lain me-like unggahan Anda,” kata Zuckerberg.

Misalnya saat ada seseorang yang membagi berita tentang diskriminasi, kekerasan dan perlakuan tak adil lainnya. Kurang etis jika respons yang diberikan adalah “Like”.

Diketahui, saat pertama kali muncul, Facebook didominasi oleh pengguna berusia remaja. Sembilan tahun lalu, orang tua mulai masuk ke jejaring sosial bernuansa biru itu.

Sekarang, menurut data dari Pew Research Center, enam puluh dua persen pengguna Facebook berumur dewasa. Hasilnya, linimasa Facebook pun berevolusi.

Dari yang dulunya didominasi foto-foto pesta remaja, berubah menjadi foto-foto bayi dan keluarga. Status dan diskusi yang dulunya tentang gosip SMA kini lebih mengarah pada isu politik.

Walau tombol “dislike” menuai antusiasme netizen, Zuckerberg belum mengungkap tanggal pasti tombol itu dirilis. Belum tentu pula tombol itu benar-benar bertajuk “dislike”. Yang jelas, tujuannya untuk menyampaikan ekspresi empati akan hal-hal yang kurang membahagiakan.

Exit mobile version