Site icon nuga.co

Valentino Rossi, Pemberi Kehidupan Motto GP

Rossi tidak muda lagi. Di usia 34 tahun, ketika ia memutuskan kembali ke Yamaha di musim balapan 2013, usai paceklik podium selama dua musim di Ducati,  tak banyak publik “Motto GP” yang optimis ia bisa “menghibur” lagi. Tidak hanya publik, pengamat juga tidak berani memprediksi apakah ia masih bisa bersaing dengan pebalap muda seperti  “rookie” Marc Marquez, Carl  Crutchlow atau pun Jorge Lorenzo.   

Tapi tidak. Di Losail, Senin dinihari WIB, Valentino Rossi memberikan kegembiraan kepada penonton  Sirkuit Losail, Qatar,  dan jutaan pemirsa televisi  lainnya yang menyaksikan tayangan langsung ketika “The Doctor”  bersaing dengan “rookie” Repsol Honda, Marc Marquez, 20 tahun. Pertarungan rapat, saling salip dan saling adu kecepatan serta salin tukar posisi.

Malam berudara kering Losail, yang mencekik kerongkongan pebalap itu, Rossi dan Marc menampilkan pertarungan antar generasi. Rossi yang cermat, penuh perhitungan dan lebih mengandalkan naluri berdasarkan pengalaman panjangnya sebagai juara tujuh kali Motto GP,  dihadapkan pada “rookie” muda yang cepat, sedikit ceroboh dan “cuek.”

Valentino  tidak hanya melayani aksi Marc, tapi juga menantangnya “duel” hingga sisa tiga lap terakhir untuk meninggalkan pebalap Repsol Honda itu. Tak pelak tontonan enam lap yang menguras enerji dan dimenangkan oleh Rossi itu menjadi puncak “hiburan” di akhir pekan pembuka balapan Motto GP musim 2013.

“Crashnet,” media portal paling bergengsi di dunia balapan motor, menamakan persaingan Rossi dengan Marc sebagai “pertarungan antar generasi.” Dalam laman analisisnya, “crashnet” menyebut kemenangan Rossi menaklukkan Marc sebagai bukti kecemerlangan “The Doctor” melakukan pembalikan posisi.

“Marc dikalahkan oleh dirinya sendiri. Dikalahkan oleh ketidakmatangan. Dan Rossi dimenangkan oleh kecerdikannya memprovokasi Marc dengan konsistensi menekan yang menjadi khasnya. Provokasi yang menyebabkan Marc sebal, bosan dan marah sehingga ia mengalahkan dirinya,” tulis “crashnet. 

Dalam dua musim terakhir, ketika Rossi menunggang Ducati usai  berpisah dengan Yamaha, MotoGP nyaris tak pernah menyuguhkan tontonan seperti di Losail itu.  Penuh intrik dan gereget. Rossi  menyuguhkan aksi memukau nan menghibur Dan  malam itu performa “The Doctor”  meningkat lagi, meskipun dia sendiri mengakui belum memiliki level setinggi Lorenzo dan Dani Pedrosa.

Malam itu pula bos Yamaha, Lin Jarvis, sangat antusias. Dia pun secara gamblang mengakui bahwa kembalinya Rossi bersama YZR-M1 yang kompetitif akan membuat MotoGP lebih menarik dan menghibur. “Hadirnya Valentino yang kembali menunggang motor kompetitif merupakan hal yang bagus bagi olahraga ini, bagi kami, dan juga baginya,” ujar Jarvis..

Malam itu juga menjadii arena pertunjukan Rossi sebagai seorang entertainer sejati di trek balapan. Pertunjukan itu  menjadi menarik dengan kehadiran rookie MotoGP yang digadang-gadang bakal jadi raja kelas premier, Marc Marquez.

Ya, Rossi dan Marquez menjadi bintang GP Qatar. Memang, Lorenzo adalah pemenang lomba malam hari itu, tetapi aksi menegangkan dan seru terjadi antara Rossi, si veteran, dan Marquez, si yunior yang mengidolakannya.

Baik Rossi maupun Marquez sempat tercecer di urutan kedelapan saat lap pertama. Marquez yang start dari urutan keenam turun dua strip jelang tikungan pertama, sedangkan Rossi yang start dari urutan ketujuh membuat kesalahan kecil karena melebar saat menyalip pebalap Ducati, Andrea Dovizioso, untuk naik ke urutan keempat, yang membuatnya melorot empat posisi.

Namun, inilah awal dari pertunjukan dua pebalap penuh keterampilan tersebut. Marquez lebih dulu menyodok ke urutan ketiga, bahkan sukses mengalahkan rekan setimnya, Dani Pedrosa, untuk merebut posisi kedua. Sementara itu, Rossi harus berjibaku di kelompok yang memperebutkan posisi kelima, yang waktu itu ditempati pebalap LCR Honda, Stefan Bradl.

Setelah berlangsung selama delapan lap, Rossi berhasil menyalip Bradl. “The Doctor” pun memulai misi untuk mengejar podium, meskipun peluang sangat kecil mengingat tiga pebalap di depannya, Marquez, Pedrosa, dan Cal Crutchlow, cukup cepat dan sudah memimpin lebih dari empat detik.

Pelan tapi pasti, Rossi terus memangkas gap dengan Crutchlow. Setelah melewati pebalap Yamaha Tech 3 ini, Rossi tak perlu waktu lama untuk melewati Pedrosa di urutan ketiga, sebelum memberikan ancaman kepada Marquez.

Pertarungan dengan juara bertahan Moto2 ini menyita perhatian. Publik seolah-olah tak peduli lagi dengan Lorenzo, yang sudah terlalu jauh memimpin. Saat balapan tersisa dua lap lagi, Rossi menyalip Marquez. Tak lama berselang, pebalap berusia 20 tahun itu kembali mengalahkan Rossi di lintasan lurus menjelang tikungan.

Namun, pengalaman dan mental juara yang dimiliki membuat Rossi bisa mengatasi situasi. Peraih sembilan gelar juara dunia Grand Prix ini dengan tenang kembali melewati Marquez di tikungan, dan sukses mempertahankan posisinya tersebut hingga menyentuh garis finis dengan keunggulan 0,211 detik (sedangkan Lorenzo unggul 5,990 detik atas Rossi).

Memang, ini baru seri pembuka. Namun, apa yang diperlihatkan Rossi dan Marquez menjanjikan tontonan menarik pada seri-seri berikutnya mengingat kedua pebalap ini kompetitif untuk bersaing dengan Lorenzo dan Pedrosa, yang menjadi favorit juara dunia 2013.

Apa yang dilakukan Rossi ini mengingatkan kembali penampilannya pada musim-musim silam, baik ketika dia membela Honda maupun Yamaha. Waktu itu, Rossi selalu mengundang decak kagum dengan aksi-aksinya yang menghibur dalam pertarungan dengan para rival, termasuk dengan Lorenzo ketika mereka masih satu tim pada 2010, serta dengan Stoner yang sudah pensiun pada akhir musim lalu, di Laguna Seca.

Rossi pun memiliki cerita dan rivalitas yang tinggi dengan para pebalap di generasinya, yaitu Max Biaggi dan Sete Gibernau. Di setiap balapan, dia selalu memperlihatkan aksi salip-menyalip dengan dua pebalap itu, yang kini sudah pensiun.

 

Exit mobile version