Site icon nuga.co

Reuni “Indon” di Sepang

Lomba MotoGP di Sepang meninggalkan kesan sebagai “pesta” reuni para “indon,” begitu orang Malaysia menyebut warga Indonesia secara “nyeleneh,” baik yang touris maupun para tenaga kerjanya. Mereka berkelompok. Bercas..cis.. cus.. dengan berbagai dialek tanpa peduli dengan orang di sekitarnya.

Cas…cis…cus… itu bisa saja terjadi di tribune atau pun sepanjang trap dan bukit-bukit yang mengelilingi trek Sepang. Riuh. Gaduh. Dan Ramai. Pokoknya heboh.

Salahuddin Gamal, kontributor “nuga.co,” Senin pagi, 14 Oktober 2013, menuliskan kesannya lewat “email,” tentang “indon” yang bikin semarak Sirkuit Sepang selama tiga hari, sejak latihan bebas, kualifikasi dan balapan.

Menurut Salahuddin kelompok orang “indon” ini bisa saja reuni yang datang secara utuh dari Medan, Batam, Pekanbaru atau Jakarta, bahkan Aceh. Ada juga yang mengelompok sesame tenaga kerja atau antara “tki” dengan teman atau sanak keluarganya yang datang dari Indonesia.

Catatan yang dikeluarkan untuk sementara dari otoritas touris dan penyelenggara MotoGP, hampir tiga puluh persen dari seratus ribu penonton yang datang ke Sepang adalah orang Indonesia. Itu berarti dari tiga penonton Sepang satu adalah warga Indonesia.

Orang Indonesia memang termasuk salah satu dari penonton “langganan” MotoGP Malaysia. Dari tahun ke tahun jumlah mereka yang menyaksikan langsung balapan di negeri jiran itu terus bertambah.

“Kami tidak memiliki data statistik secara rinci, tetapi secara umum jumlah rombongan dari Indonesia yang kami antar saat ada balapan MotoGP selalu meningkat,” tutur Ahmad Jais bin Che Zakaria salah seorang pengurus perjalanan.

Menurut Jais, jumlah penonton asal Indonesia tidak hanya secara berombongan tetapi juga perorangan. Selain dari Jakarta, fans-fans itu berasal dari berbagai kota. “Bahkan, tidak sedikit dari mereka yangi sudah berkali-kali datang,” ujar Jais..

Hamdani Ismail, salah seorang yang sangat gandrung dengan MotoGP, yang ditemui Salahuddin di sisi barat tribun utama Sepang, mengatakan, kedatangan kali ini ke sirkuit terbaik Asia itu, adalah yang kelima kalinya secara berturut-turut.

Ia datang dengan dua anak lelakinya dari Medan secara perorangan. Ia sudah menjadi langganan sebuah flat yang disewakan di Kuala Lumpur untuk ditempati. Sebelumnya ia pernah datang secara utuh bersama anak dan istri. “Kali ini Cuma dengan anak,” katanya.

Berlainan dengan Hamdani yang datang dengan biayai sendiri, Aswad Kasim, yang juga berasal dari Medan, bisa menjadi penonton MotoGP di Sepang karena dibiayai adiknya yang bekerja sebagai salah seorang manajer di perusahaan telekomunikasi di Kuala Lumpur.

“Saya datang dengan tanggungan adik saya yang posisinya sangat baik di sebuah perusahaan seluler di Kuala Lumpur. Menyenangkan. Sebab ini hobi saya sejak muda,” kata Aswad.

Seorang fans bernama Muhammad Faisal, mengiyakan data yang disampaikan Khairil tersebut. Ia tahun ini kembali menonton MotoGP di Sepang setelah tahun lalu juga menyaksikannya bersama sejumlah temannya.

“Kalau dari yang saya lihat, penggemar MotoGP di Indonesia terus meningkat, apalagi ada tayangan langsung dari stasiun televisi,” ucap warga Kalibaru, Cilodong, Depok, Jawa Barat itu.

Kedatangan penonton Indonesia dalam jumlah besar ini, tidak hanya menguntungkan bagi eksistensi Sepang, tapi juga mendatangkan devisa bagi Malaysia. “Lihat saja, di Sepang. Puluhan atau bahkan ratusan ribu orang dari berbagai negara menyaksikan MotoGP.”.

Sementara itu, usai laga petang kemarin, legenda MotoGP, Valentino Rossi, yang dikerumuni para wartawan “loyalis”nya dari Indonesia menegaskan, Jakarta bisa saja menjadi penyelenggara MotoGP.

Menurutnya, kondisi Indonesia cukup bagus untuk menjadi tuan rumah balapan itu. “Saya pernah melakukan balapan di sirkuit Sentul pada 1996 dan 1997,” ucapnya saat ditemui di Sirkuit Sepang

Pembalap Yamaha, Valentino Rossi merasakan dua hal berbeda saat melakoni MotoGP Malaysia, kemarin. Pada satu sisi dia senang lantaran dirinya mampu tampil cepat dan kompetitif, dan pada sisi lainnya, tak terlalu puas lantaran mengalami masalah pada pengereman, yang membuatnya tertinggal dari tiga rider terdepan.

Pada sesi latihan bebas, Rossi sebenarnya tak menunjukkan performa yang bagus-bagus amat, meski sempat menjadi tercepat ketiga pada sesi ketiga. Namun, saat kualifikasi, pembalap asal Italia berusia 34 tahun itu mampu menggeber motornya secara optimal, hingga akhirnya meraih posisi start kedua. Kendati demikian, saat balapan ia harus puas finis keempat.

“Saya senang karena akhir pekan ini kami meningkatkan set-up pada motor dan saya cepat dengan ban baru. Saya memulainya di posisi dua dan setelah kualifikasi menjadi masalah pada awal tahun, ini adalah balapan ketiga secara beruntun di mana saya kompetitif,” ujar Rossi, sebagaimana dilansir Crash, Senin.

“Saya mengalami masalah pada awal balapan, saat berada di belakang para pembalap lain. Rem depan terlalu panas dan menjadi sulit untuk menghentikan motor. Tiga pembalap di depan sudah sangat cepat, dan dengan adanya masalah ini, segalanya jadi lebih sulit,” ujar Rossi, yang kembali kompetitif usai meninggalkan Ducati.

Soal catatan waktunya, Rossi sebenarnya cukup puas, di mana dia hanya terpaut tiga detik dari rekannya, Lorenzo yang finis di urutan ketiga. Namun, ia juga sedikit menyesali kegagalannya untuk naik podium, padahal peluang untuk itu terbuka lebar setelah start dari posisi kedua.

“Saya senang karena saya hanya tiga detik lebih lambat dari Jorge dan itu adalah jarak yang kecil, dan itu berarti saya berkendara dengan baik untuk keseluruhan balapan. Tapi, dengan start di barisan depan, saya sebenarnya berharap bisa naik podium,” tutup pembalap yang telah mengoleksi 67 kemenangan di ajang MotoGP itu.

Exit mobile version