Site icon nuga.co

“Hatrrick” Ganda Campuran Indonesia di All England

Bulu Tangkis Indonesia mengembalikan treknya di All England setelah dua nomor di ganda campuran dan ganda putra menjuarai kejuaraan paling prestise itu, Minggu malam WIB, 09 Maret 2014 di Wembley, London, setelah menang dari pasangan Cina

Ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mencatatkan sejarah baru dengan merebut hattrick..
Sedangkan Mohamad Ahsan dan Hendra Setiawan di ganda putra melampiaskan ambisi Indonesia untuk menjuarai nomor ini setelah sebelas tahun penantiannya.

Senyum puas terpancar dari wajah Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir usai sukses merebut trofi juara All England di ganda campuran ini. Keduanya pantas berbahagia lantaran sukses mencetak sejarah baru dengan merebut tiga gelar juara secara beruntun!

“Pastinya senang dan bangga bisa hat-trick di All England, ini tidak mudah. All England adalah turnamen bergengsi dan bersejarah. Tiga gelar berturut-turut di All England adalah hasil yang luar biasa,” kata Liliyana yang ditemui di Stadion National Indoor Arena.

“Saya tidak bisa berkata-kata, yang pasti kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak seperti pelatih, rekan-rekan ganda campuran di pelatnas, orangtua, dan keluarga. Gelar hat-trick di All England ini juga kami persembahkan untuk hadiah pernikahan koh Victor Hartono dari Djarum Foundation,” ujar Tontowi yang merupakan atlet binaan PB Djarum.

Kegagalan Zhang Nan saat mengembalikan pukulan Tontowi menjadi ending dari laga final All England di sektor ganda campuran. Owi/Butet, demikian Tontowi dan Liliyana disapa, menang dua game langsung 21-13 dan 21-17.

Impian untuk mencetak hattrick juara di ajang bulutangkis bergengsi dan salah satu yang tertua di dunia ini pun jadi kenyataan. Owi/Butet mencetak sejarah baru dengan menjadi satu-satunya ganda campuran Indonesia yang sukses menyabet tiga gelar juara All England..

“Pastinya senang dan bangga bisa hattrick di All England, ini tidak mudah. All England adalah turnamen bergengsi dan bersejarah. Tiga gelar berturut-turut di All England adalah hasil yang luar biasa,” kata Liliyana yang ditemui di stadion National Indoor Arena, seperti dikutip situs resmi PBSI.

“Saya tidak bisa berkata-kata, yang pasti kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak seperti pelatih, rekan-rekan ganda campuran di pelatnas, orangtua dan keluarga,” timpal Tontowi.

Tak hanya Owi/Butet, kebanggaan juga diberikan ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang juga tampil sebagai juara usai menumbangkan pasangan Jepang, Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa, dua game langsung 21-19 dan 21-19.

Berhasil membawa pulang dua trofi juara, ini jadi prestasi terbaik Indonesia di All England sejak 1994, di mana kala Indonesia sukses membawa pulang tiga trofi juara melalui Hariyanto Arbi, Susi Susanti dan Rudy Gunawan/Bambang Suprianto.

Duel dua pasangan terbaik dunia kali ini merupakan partai ulangan final tahun lalu di ajang yang sama. Kala itu, Owi/Butet juga sukses membungkam Zhang/Zhao dengan dua game langsung, dengan skor yang identik dan durasi waktu yang juga sama, yakni 42 menit.

Kemenangan yang terbilang mudah ini sebenarnya tidak diperkirakan oleh Owi maupun Butet. Keduanya sempat mengira bakal berjalan sengit, hingga rubber game.

“Kami langsung in dari awal game pertama. Sehingga lawan tidak bisa mengembangkan permainan,” ujar Liliyana dikutip situs resmi PBSI.

“Biasanya kami kalau bertemu Zhang/Zhao sering berakhir rubber game, tetapi dua kali bertemu di final All England bisa menang straight game,” lanjutnya sumringah.

Dengan kemenangan ini, Owi/Butet berhasil memperbaiki rekor pertemuan mereka atas Zhang/Zhao. Final All England tahun ini menjadi bentrok ke-10, di mana saat ini kedua pasangan sama-sama mengoleksi lima kemenangan.

Exit mobile version