Site icon nuga.co

Dua Masalah Membelit Rossi di MotoGP

Pengamat MotoGP Carlo Pernat menyebut ada dua masalah yang membelit Valentino Rossi di paddock sehingga membuat mantan juara dunia tersebut tidak mampu bersaing di MotoGP .

Usia Rossi yang sudah mencapai kepala empat kerap disebut sebagai penyebab penurunan performa mantan juara dunia asal Italia itu. Faktor Usia sama sekali tidak disebut Pernat sebagai faktor pengganjal Rossi.

Mantan manajer departemen balap Aprilia itu menyebut Rossi mengalami penurunan ambisi seiring usia yang bertambah.

“Valentino berlatih giat, setiap hari. Dia ingin membalap dan beberapa bulan lalu dia berhasil naik podium. Dia tidak dapat mengubah itu dalam waktu dekat. Valentino akan kembali balapan dan akan segera berada di podium,” tutur Pernat sembari mengutarakan ketidakyakinan Rossi bakal pensiun dikutip dari GPone.

Pernat menyebut masalah yang dihadapi Rossi ada di paddock, termasuk soal motor yang menghambat laju Rossi di lintasan.

“Saya pikir dia tidak memiliki perasaan yang bagus, seperti yang orang Britania Raya katakan, dengan timnya. Saya tidak berbicara soal mekanik, tetapi mengenai manajer teknis, [Silvano] Galbusera. Mungkin dia bukan orang yang tepat untuknya sekarang, saya tidak mengatakan soal kemampuan tetapi soal hubungan,” terang Pernat.

“Selain itu motornya selalu tidak dapat bekerja dengan baik seperti motor Yamaha lainnya. Terlepas dari itu semua, Rossi bakal terus balapan, bahkan pada 2020,” sambungnya.

Galbusera merupakan salah satu kepala kru mekanik yang sudah cukup lama bekerja sama dengan Rossi, tepatnya sejak 2014. Galbusera menggantikan peran Jeremy Burgess yang mengantar Rossi meraih tujuh gelar juara MotoGP.

Pernat menjadi salah satu sosok tenar di MotoGP yang tidak yakin Rossi akan pensiun seperti rumor yang beredar seiring penurunan performa dan kegagalan bersaing dengan rival-rival muda.

Rossi dan pebalap-pebalap MotoGP lain akan kembali bersaing di lintasan pada balapan MotoGP Ceko

Sementara itu sang ayah, Graziano Rossi tetap percaya terhadap kemampuan sang putra, Valentino, yang sedang menjalani masa sulit di MotoGP.

Dia menyebut Rossi masih berpeluang memenangkan kompetisi musim depan jika memiliki motor kompetitif.

“Tahun ini tidak lagi mungkin. Tetapi jika tahun depan mereka akan membuat sepeda yang kompetitif, Valentino pasti akan kompetitif untuk pacuan juara dunia,” ujar Graziano, seperti dilansir Tuttomoriweb.

Performa Rossi sangat buruk pada paruh pertama perhelatan MotoGP 2019. Dari sembilan seri yang telah dilewati, The Doctor hanya dua kali naik podium, yakni finis kedua di Argentina dan menempati posisi ketiga di Amerika Serikat.

Setelah itu, Rossi terus terpuruk. Dia bahkan gagal finis dalam tiga balapan beruntun di MotoGP Italia, Catalunya, dan Belanda. The Doctor kemudian hanya menempati posisi kedelapan di MotoGP Jerman.

Rider kawakan MotoGP ini bahkan ramai diisukan gantung helm dalam waktu dekat. Namun, kabar tersebut hanya menjadi angin lalu. Pembalap berusia gaek tersebut dikabarkan belum berniat meninggalkan MotoGP. Sejauh ini, Rossi tetap akan membalap sampai kontraknya di Yamaha habis pada musim depan.

Menurut Graziano, penampilan buruk Rossi di paruh pertama musim ini bukan semata-mata kesalahan The Doctor. Menurut ayah Rossi, Yamaha turut andil dalam rapor buruk putranya.

Graziano mengatakan pabrikan asal Jepang tersebut belum bisa membuat mesin yang kuat dan ramah dengan semua rider Yamaha, terutama untuk Valentino Rossi.

“Segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik karena M1 bukan motor yang mudah dikendarai. Penyetelan yang sempurna diperlukan karena Yamaha belum membuat mesin yang sangat kuat,” kata Graziano.

“Padahal sepeda harusnya sempurna. Namun, bagi Valentino dan timnya sulit untuk mendapatkan pengaturan yang optimal,” kata dia.

Sementara itu pula , management sekaligus sahabat karib Valentino Rossi, Alberto Tebaldi, menegaskan bahwa rider Monster Energy Yamaha tersebut takkan pensiun dari MotoGP akhir musim nanti, dan akan tetap balapan pada musim depan, sesuai durasi kontraknya.

Hal ini disampaikan Tebaldi kepada Corsedimoto baru-baru ini, di mana ia juga menyatakan bahwa pebalap Italia berusia 40 tahun tersebut belum mengambil keputusan apa pun soal masa depannya pada dua tahun mendatang.

Kontrak Valentino Rossi dengan Yamaha memang baru akan habis pada akhir tahun depan, namun keterpurukan dan paceklik kemenangan dalam tiga puluh delapan balapan terakhir membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah ini merupakan waktu yang tepat baginya untuk pensiun.

“Vale tak pernah mengatakan atau memikirkan pensiun akhir musim nanti. Toh kontraknya masih berlanjut untuk 2020, jadi ia akan tetap berkompetisi dan bekerja keras di lintasan dengan talentanya,” ungkap pria yang akrab disapa ‘Albi’ ini.

Tebaldi menyatakan bahwa performa diri dan performa motor  akan menjadi faktor penting bagi The Doctor untuk menentukan apakah dirinya akan pensiun atau justru melanjutkan karier pada dua tahun mendatang.

“Soal lanjut atau tidak, semua tergantung performa dan juga banyak hal. Valentino Rossi belum ambil keputusan, tapi jelas ia akan balapan. Masih ada sepuluh balapan tersisa, dan kami ingin mempersiapkan tahun depan lebih baik dengan Yamaha,” ujarnya.

Tebaldi juga menanggapi pernyataan Managing Director Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis, yang baru-baru ini menyatakan bahwa Rossi bukan lagi acuan masa depan pihaknya di MotoGP. Tebaldi pun menyatakan bahwa pernyataan Jarvis sangat wajar dan tak perlu ada yang diributkan.

“Saya baca wawancara Lin secara penuh, pernyataannya terlalu dibesar-besarkan. Ia tak punya maksud khusus, tapi jelas beberapa hal ditulis secara berlebihan selama musim panas ini. Kami dengan Lin dan Yamaha sangat harmonis, dan saya tak menemukan hal janggal pada pernyataan Lin,” tutur Tebaldi.

Rossi akan kembali turun lintasan dalam pekan balap MotoGP Ceko di Sirkuit Brno pada  dua hingga empat Agustus mendatang. Saat ini ia duduk di peringkat keenam pada klasemen pebalap dengan koleksi 80 poin, dan dua podium yang ia raih berkat finis kedua di Argentina dan Austin.

Exit mobile version