Site icon nuga.co

Dosa di Lintasan Tour de France

Tour de France, hari-hari ini, sedang menuai  dosa doping di lintasan pemberitaan media global dengan isu utama bertumpu pada  perdebatan tentang wacana  pencabutan gelar tujuh kali Lance Armstrong, pebalap kelahiran Texas, Amerika Serikat, dan Tim US Postal Service ketika masih berlomba, di balap sepeda paling terkenal itu.

Menempati rangking top news di hampir semua pemberitaan media global, Lance Armstrong kini  nyaris menjadi pesakitan setelah dibunuh karakternya sebagai pembohong karena  melancarkan perang kesetiap kesaksian yang menuduhnya melakukan doping selama 16 tahun karir pebalapnya.

Terakhir, seperti di tulis Mail, Armstrong menuding Betay Andreu, istri Frankie Andreu rekan setim Armstrong selama delapan tahun di US Postal Service, sebagai sedang mengigau, setelah membeberkan fakta terbaru yang ia  peroleh dari sang suami bahwa sang juara tujuh kali Tour de France itu memakai suntikan erythropieten, EPO  sepanjang karirnya.

Betay Andreu adalah orang terakhir yang menjadi saksi setelah 36 lainnya membuat semacam “testamen” tentang kesahehan pemakaian doping oleh Lance Armstrong. Dari 36 saksi itu, 11 diantaranya adalah teman satu tim pebalap yang hingga hari-hari ini belum mengaku sebagai pemakai obat penguat.

Suntikan  arythropietan di lingkungan kedokteran olahraga dikenal dengan sebutan vitamin yang disuntikkan setelah diaduk dengan darah dan dinyatakan sebagai terlarang untuk dipergunakan para atlet karena memicu rangsangan di aliran darah  serta telah dimasukan dalam daftar jenis obat-obatan  doping.

Media dunia memang sedang gaduh. Baca, lihat dan dengarlah tulisan dan komentar

yang secara  convergensi menabuh  keriuhaan   ketika keputusan untuk mencabut gelar Lance Armstrong masih menjadi ulur tarik  di USADA, badan antidoping Amerika Serikat, dan UCI, top organisasi balap sepeda dunia.

Kedua organisasi itu mengiyakan semua bukti yang menyatakan Armstrong doping. Tapi keduanya masih saling menunggu  untuk menyatakan Lance bersalah yang membuat ASQ, penyelenggara Tour de France linglung karena terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mendepak gelar juara  dari Lance Armstrong di daftar pemenang tour.

Sementara keputusan akhir belum ada,  media global  menyatukan fokusnya ke de France untuk berlomba mengejar sensasi  menguak tabir kasus pemakaian obat kuat itu usai banyak kesaksian menyatakan  Lance Armstrong dinyatakan positif sebagai pengguna.

Tidak hanya  polemik pencabutan  gelar tujuh kali juaranya yang belum berkesudahan, Lance Armstrong telah divonis dengan makian sebagai anak yang mengotori balapan sepeda  tahunan paling prestise  berumur 109 tahun itu, dan kini memasuki edisi  ke-96.

Tour de France adalah kejuaraan balap sepeda jalan raya jarak jauh paling bergengsi selama tiga minggu. Kejuaraan ini, sesuai dengan tradisinya, sejak digelar tahun 1903 dan dijuarai oleh Maurice Garin dari Perancis,  dilaksanakan setiap bulan Juli hanya boleh  diikuti oleh pebalap profesional. Balapan ini melewati etape berbukit atau pun etape dataran  yang pernah difilmkan bagaimana dahsyat tantangannya. Selama perang dunia pertama dan kedua balapan ini ditiadakan. Secara prestise Tour de France lebih tinggi rangkingnya di banding dua ajang balapan lainnya, Giro d’Italia dan Vuelta a Espana dan ketiganya disebut dengan Grand Tour.

Surat kabar Paris Le Figaro, dengan berang menuliskan laporan bersambung selama sepuluh hari, dan di bagian akhirnya mengatakan, “dosa sportivitas meninggalkan kotoran Armstrong di sepanjang lintasan Tour de France. Tak ada pembersih yang bisa menghilangkan jejak noda yang membuat Perancis terdegradasi sebagai simbol komuni liberte, egalite dan fraternete.”

Figaro memang belum menuduh tuntas Lance Armstrong sebagai pemakai EPO. Tapi, sembilan puluh persen kesaksian yang dikumpulkan surat kabar paling terkenal di Perancis  sudah bisa menyimpukan pebalap paling kontroversial AmarikA Serikat itu adalah pengguna doping. “Sangat sulit baginya mengatakan tidak. Biar pun kerumunan pengacara mengipasnya untuk menuntut jika gelarnya di copot, Lance adalah biang dari jatuhnya pamor Tour de France,” tulis Figaro.

Di penutup tulisan yang  sangat emosional itu Le Figaro tidak hanya menulis sebaris kalimat pendek, “telah pergi sebuah kebanggan Perancis,”  tetapi juga dengan sentimentil menggumamkan nada kemarahan di ujung laporannya,  In memoriem Tour de France.

Hari itu pula, surat kabar itu menurunkan sebuah box di halaman depannya yang mengosongkan urutan edisi ke-86 hingga 92, Tour de France atau  antara tahun 1999 sampai dengan 2005  berikut nama juaranya dengan sapuan warna hitam. Di edisi dan tahun-tahun itu, sepanjang 13 tahun terakhir, selalu mencantumkan nama  Lance Armstrong sebagai juara berikut nama negaranya, Amerika Serikat.

Bukan hanya media Perancis yang berduka dengan olengnya pamor Tour de France. Bacalah The Guardian, surat kabar papan atas  Inggris,  yang menulis top story-nya mengenai pebalap Amerika Serikat itu secara komperhensif. Jangan pula lewatkan bagaimana New York Daily News menuliskan kebenciannya terhadap Lance Armstrong yang telah mencampakkan sportifitas US ke keranjang sampah paling busuk.

Tidak hanya media konvensional yang memaki Armstrong, media sosial juga berlarian mengejar umpatan dan  cacian. Bukalah facebook, geogle, atau pun twetter dan cari trending tropic tentang pebalap itu. Semuanya serempak menulis dengan rasa pedih atas perbuatan Lance Armstrong mencemari sebuah ajang dunia selama eksistensinya.

Dengan satu kata yang menjalarkan rasa pilu, The Guardian menulis kepala berita,  “tragis…..” Dengan teknik penulisan yang sangat independen, Guardian mengajak semua pembacanya untuk tidak melihat Lance Armstrong secara sepenggal-sepenggal. “Jangan hanya meluapkan kebencian, tapi telusuri perbuatan pebalap itu secara kausalitas. Ada sebab akibat yang mendorongnya melakukan perbuatan tercela  itu. Dan kekeliruan  yang dibuat oleh tim antidoping yang tidak mampu mendeteksinya sejak awal pantas pula menerima tanggungjawab.”

“Jangan hanya Armstrong yang harus menanggung beban ini semua. Armstrong mungkin satu dari sekian banyak pebalap yang terjun ke lintasan sebagai pemakai doping.”

Untuk menguatkan argumentasinya ini The Guardian mengutip pengakuan Chritian Vande Velde, asal Amerika yang bergabung dalam tim US Postal Service, sebuah tim besar di lintasan balap, yang mengatakan dia pernah menerima suntikan erythropietin atau terkenal di kalangan pebalap EPO. “Dokter tim mengatakan, suntikan itu hanya vitamin,” ungkap Christian yang mendapatkannya ketika di Spanyol. Christian juga mengatakan melihat sendiri Lance Armstrong mendapat suntikan itu berkali-kali.

“Anda tidak perlu takut. Asal cermat, hati-hati. Anda bisa memakai doping, dan 99 persen tidak akan ketahuan.”

Sebuah pengakuan yang mengejut. Pengakuan jujur ketika semua orang menghujat dengan kasar Lance Armstrong. Pengakuan yang juga mengatakan, Lance Armstrong tak pernah diidentifikasikan sebagai pemakai  doping dan dia dengan jengah tak pernah merasa risih ketika mengangkat trophy atau memakai kaos kuning puluhan kali selama karirnya.

El Figaro dalam salah satu seri tulisannya menyebut Lance Armstrong sebagai “baron”  dalam tim US Postal Service. “Ia macam Robinhood. Ia membagi kesenangan bersama. Namun begitu, ia tetap perampok.”

Lance Armstrong menjadi fenomenal di jagat pebalap papan atas. Ia memulai karir di balap jalan raya yang kemudian direkrut oleh US Postal Service, sebuah tim paling cemerlang  yang pernah ada. Selama di di US Postal ia memenangi enam kali Tour de France, dari tahun 1999 hingga 2004. Di tahun 2005 ia bergabung dengan tim Discovery Channel dan menyabet juara.

Di tahun 2000 penyelenggara Tour de France mencium bau ketidakberesan Lance Armstrong. Tapi tim tidak menemukan apapun, kecuali menyita krim di sadel sepedanya yang berdasarkan hasil laboratorium bersih.

Armstrong di tahun 1996 pernah di vonis menderita kanker testis. Ia menjalani operasi dan kemoterapi untuk kemudian dinyatakan sembuh. Sejak kesembuhan itu ia menjadi maniak balapan. Ia pernah melintasi jalan raya Texas berminggu-minggu tanpa bosan dan lelah. “Ia memang  anak jalanan,” tulis Mail ketika itu. []

 

Exit mobile version