Site icon nuga.co

Beda “Nasib” Marquez dengan Lorenzo

Nasib dua pebalap papan atas  MotoGP, usai lomba di Sachsenring Circuit, Jerman, Marc Marquez dan Jorge Lorenzo sangat berbeda. Marquez terus melaju ke puncak klasemen tanpa mendapatkan hadangan yang berarti.

Lantas bagaimana dengan Lorenzo?

Sang pebelap yang musim depan akan hijrah ke Ducati dari Yamaha itu mendapat hadangan yang terus menerus.

Marquez memang pernah t mengeluhkan motor Honda RC213V di awal musim.

Tapi, kini,  Marc Marquez kini justru sukses memuncaki klasemen sementara MotoGP 2016 hingga paruh musim.

Apa kunci sukses The Baby Alien?

Meski berhasil meraih podium di empat seri awal, termasuk kemenangan di GP Argentina dan GP Americas, Marquez sempat mengeluhkan motor Honda RC213V.

Pebalap asal Spanyol itu menyoroti kemampuan akselerasi dan mengerem motor Honda.

Marquez semakin khawatir setelah kalah dari pebalap Movistar Yamaha Jorge Lorenzo di trek lurus terakhir sebelum melewati garis finis pada balapan di GP Italia, Sirkuit Mugello, 22 Mei lalu.

“Kami harus bekerja menyelesaikan masalah akselerasi motor,” ujar Marquez di parc ferme usai balapan di Sirkuit Mugello.

Ia sempat mengatakan sepeda motor RC213V milik Honda musim ini memiliki akselerasi lebih buruk daripada motor Ducati dan Suzuki.

Hingga kini pihak Honda masih berupaya mengurangi masalah akselerasi di motor RC213V. Jika motor yang ditungganginya masih bermasalah, lalu apa yang membuat

Marquez berhasil unggul cukup jauh hingga empat puluh delapan poin atas Lorenzo hingga paruh musim

Selain karena faktor cuaca yang membuat duo Yamaha Lorenzo dan Valentino Rossi kesulitan serta keberhasilan strategi di GP Jerman, faktor penting lainnya yang membuat Marquez di puncak adalah bertambahnya pengalaman pebalap asal Spanyol tersebut.

Contohnya nyata semakin berpengalamannya Marquez terlihat pada balapan GP Belanda. Marquez dikalahkan pebalap Marc VDS, Jack Miller, pada balapan di Sirkuit Assen yang sempat dihentikan karena hujan deras.

Marquez sebenarnya sempat memimpin jalannya balapan, namun memilih untuk tidak mengambil risiko mengejar Miller setelah disalip pebalap asal Australia tersebut.

Jika balapan itu terjadi pada awal karier Marquez di MotoGP, banyak pihak yakin pebalap asal Katalonia itu akan mengambil risiko dan berusaha keras menyalip Miller demi meraih kemenangan.

“Tentu saja, ini musim keempatnya di MotoGP. Marquez sudah punya lebih banyak pengalaman daripada di tahun pertamanya,” ucap Lorenzo seperti dikutip dari Motorsport.

Kini, Marquez terlihat jauh lebih dewasa di atas sirkuit. Penuh perhitungan dan mampu meredam ego. Marquez mulai sadar bahwa kemenangan bukan hal terpenting untuk bisa merebut gelar juara dunia MotoGP, melainkan konsistensi naik podium.

Terbukti musim ini Marquez dan Lorenzo sama-sama meraih tiga kemenangan. Namun, Marquez lebih konsisten naik podium, delapan kali dari sembilan seri yang sudah dijalani. Sementara Lorenzo baru naik podium lima kali.

Di sembilan seri tersisa musim ini, Marquez jelas pantas difavoritkan merebut gelar juara dunia MotoGP 2016.

Marquez bahkan berpeluang semakin sulit dibendung jika Honda mampu mengatasi masalah akselerasi motor RC213V di sisa musim.

Bagaimana dengan Lorenzo?

Lorenzo yang  merupakan juara dunia MotoGP musim lalu,  kini ia mulai tertatih-tatih dalam persaingan dengan Marc Marquez.

Pada enam seri awal, Lorenzo mengantongi tiga kemenangan dan dua kali jadi runner up.

Nama Lorenzo masih jadi favorit dalam perburuan gelar lawan Marquez dan Valentino Rossi. Namun penampilan Lorenzo di tiga seri terakhir kemudian mengubah segalanya.

Langkah Lorenzo yang tertatih-tatih dimulai di GP Catalonia ketika dirinya mengalami insiden tabrakan dengan Andrea Iannone.

Lorenzo harus mengakhiri balapan dengan tangan hampa dan rela posisinya di nomor urut satu digusur oleh Marquez.

Di dua seri selanjutnya, Lorenzo yang berupaya kembali mengejar Marquez di klasemen justru terkendala hujan. Lorenzo sudah lebih dulu kalah oleh hujan dan ia pun bahkan tak sempat bersaing dengan Marquez di lintasan.

Performa Lorenzo saat hujan, baik di GP Assen maupun GP Jerman, terbilang sangat buruk.

Dengan posisi jauh di belakang, Lorenzo sulit untuk bisa langsung melesat ke depan. Manuver Lorenzo semakin terhambat lantaran dirinya tak kuasa menaklukkan trek di saat hujan.

Lorenzo kemudian mendapatkan ‘hadiah hiburan’ lantaran banyak pebalap di depannya yang terjatuh sehingga ia mampu finis di posisi kesepuluh pada akhir perlombaan.

Nasib sial Lorenzo berlanjut setelah GP Jerman kembali diguyur hujan. Lorenzo memulai balapan di posisi yang buruk, sebelas, dan hanya mampu finis di nomor urut kelima belas yang hanya berhadiah satu poin bagi dirinya.

Sepanjang perlombaan, Lorenzo tak mampu memacu motornya dengan maksimal dan merangsek maju ke depan.

Lorenzo sendiri mengakui bahwa dirinhya masih bermasalah dalam adaptasi terhadap ban michelin di kala hujan.

“Saya harus melakukan sesuatu, terutama terhadap ban Michelin ketika hujan.”

“Dengan bridgestones, saya bisa tetap bersaing memperebutkan gelar juara meskipun kondisi hjujan, atau setidaknya duduk di peringkat kelima. Namun kali ini, saya benar-benar kesulitan,” tutur Lorenzo.

Hujan benar-benar jadi musuh lain Lorenzo di balapan musim ini. Di GP Argentina tempat Lorenzo gagal finis untuk kali pertama juga dilangsungkan saat hujan.

Buruknya adaptasi Lorenzo terhadap ban Michelin di kala hujan semakin diperparah oleh lambatnya Lorenzo untuk masuk pitstop dan mengganti motor.

“Saat perlombaan, kecepatan saya terus meningkat, namun begitu lintasan kering, saya sulit mengontrol ban depan. Saya pun telat mengambil keputusan untuk masuk pitstop dan juga ban intermediate yang dipilih bukan merupakan opsi terbaik.”

“Jelas saja saya tidak kompetitif. Kami tak mempersiapkan diri dengan baik untuk mengambil langkah tepat pada sebuah momen,” kata Lorenzo.

“Tidak. Kejuaraan musim ini tak akan berakhir bagi saya sampai saya tak lagi mampu mengejar Marquez secara matematis,” kata juara dunia tiga kali ini.

Exit mobile version