Site icon nuga.co

Tomat dan Pir Bisa Picu Alergi

PIR dan tomat? Tiba-tiba saja dua jenis buah ini menjadi “trending topic” di lingkungan “vegetarian” ketika kasus keracunan  menimpa Charlotte Jeferson di lansir surat kabar “The Daily Mail.” Dalam edisi terbarunya, “Daily Mail” menulis rintihan dari Charlotte yang menderita gatal-gatal,  batuk darah, kerongkangan tercekat dari penyakit  alerginya  usai menyantap buah pir dan tomat.

Kasus ini sepertinya, membalikkan khasiat pir dan tomat sebagai salah satu terapi untuk “diet.” Pir yang sudah sejak lama menjadi buah utama di komunitas “diet”  karena mengandung serat dan air, sehingga bisa memicu penurunan berat badan, Sedangkan tomat, siapa yang tidak tahu,  kadar “likopen”nya yang tinggi sebagai “antioksidan” yang menginghindarkan banyak orang, terutama pria, dari serangan “stroke.”

Dan ketika “Daily Mail” menurunkan kasus Charlotte, banyak orang yang menggugat tentang kebenaran berita itu. Berita yang ditulis, dengan komperehensif  dari seumber yang layak dan mengonfirmasikannya ke para ahli kedokteran dan gizi  mengatakan, mengonsumsi pir dan tomat secara berlebihan, menurut meraka ,  bisa menyebabkan kematian, terutama bagi penderita alergi berat karena  kandungan  zat kimia yang bernama “salsilat” dalam sayur dan buah itu.

Kandungan salsilat ini terdapat banyak terdapat dalam buah dan sayuran dengan kandungan yang bervariasi.  Zat ini, sebenarnya,  berguna untuk menghilangkan rasa nyeri seperti  yang terdapat pada obat aspirin. Zat ini juga bisa  menyebabkan para penderita alergi berat mengalami trauma akibat gatal-gatal, kerongkangan panas, muntah darah dan bahkan bisa menimbulkan kematian seperti yang dialami Charlotte, 26 tahun.

Alergi yang dialami oleh Charlotte menurut para ahli tidaklah termasuk langka. Penyakit serupa sering dialami oleh anak-anak. Untuk menghindari penyakit ini datang para penderita, selain tidak dibolehkan mengomsunsi pir dan tomat secara berlebihan, juga dianjurkan untuk tidak memakan, kerang, daging asap, minuman bersoda, makanan kalengan dan banyak lagi.

Sebenarnya, salsilat paling banyak terdapat dalam obat-obatan. Para ahli  menunjuk antibiotik sebagai  salah satunya. Dikatakan pula, mengonsumsi salsilat bagi para penderita alergi tidak selamanya menimbulkan efek langsung. Ia bisa tidak muncul sampai dua tahun. Dan tiba-tiba muncul secara mendadak setelah di picu oleh makanan, seperti sayur dan buah.

Efek langsung yang ditimbulkan oleh zat salsilat adalah gatal-gatal, kehilangan kesadaran, batu darah dan sebagainya. Kalau sudah begini, dianjurkan untuk menghentikan meminum obat atau menghindari buah yang jadi penyebabnya. “Sebenarnya tidak begitu sulit untuk menghenatikannya,” kata seorang dokter ahli yang sering berurusan dengan alergi.

Kalau semua gejala alerginya hilang, menurut sang dokter, penderita jangan trauma. Mulailah makan buah dan sayur yang mengandung salsilat secara bertahap. Cara ini adalah yang terbaik bagi pasien alergi.

Buah-buahan yang mengandung salsilat selain dari pir adalah alpokat, blackberry, nanas, kismis  dan stroberi. Sedangkan sayuran, tomat,  cabai merah mentimun dan lobak. Salsilat juga terdapat pada rempah-rempah seperti kari.

Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan alergi. Ia akan hilang dengan sendirinya dengan mengatur porsi makanan maupun minuman yang mengandung zat salsilat. Kita juga tidak bisa menghindari makanan dengan kandungan ini karena ia juga amat dibutuhkan oleh tubuh.

Exit mobile version