Site icon nuga.co

Toilet, Ehh Jamban, di Kampung Saya….

Hari ini dunia memperingati hari jamban se-dunia.  Bahasa eufemisme-nya “hari toilet se-dunia” Lebih kerennya “world toilet day.” Yang diperingati setiap tanggal sembilan belas bulan  November.

Hari jamban dunia kali ini pas tiga hari usai pertemuan g-dua puluh di Bali. Yang menyebabkan gema dunianya tenggelam.

Banyak orang tidak tahu atau tidak mau tahu  untuk apa hari “penting” itu diperingati. Sekalian diingat. Hari jamban aja, kok. Begitu kesan saya usai kecipa kecipi dengan banyak teman. Tentang toilet. water closet yang jamban.

Teman-teman hanya mengirimkan uap percakapannya ke otak saya dengan kata-kata kumuh….bau… menjijikkan dan entah kata apa lagi yang paling cocok untuk disematkan bagi tempat buang hajat itu.

Ucapannya bernada klas bawah lah. Kata-kata yang sudah didegradasi. Nggak perlu harus diungkapkan.

Ah,… saya nggak ingin mempersalahkan mereka. Ya sudah..

Saya tahu mereka so pasti nggak mau membahas sebuah tema tentang jamban. Walaupun saya tahu mereka butuh jamban untuk sirkulasi biologis tubuhnya. Sebuah sirkulasi yang nggak bisa di tunda.

Dan bagi saya jamban itu adalah solusi dari semua masalah biologis.

Saya nggak tahu bagaimana dengan Anda. Yang sering menghaluskan kata-kata “pembuangan” itu dengan kebelakang, ke kamar kecil dan entah apa kata leinnya. Yang semuanya menghilangkan makna dari jamban itu sendiri. Toliet itu sendiri.

Dalam budaya Anda pasti mengenal dua pilihan untuk buang hajat. Hajat besar dan kecil. Bisa dengan jongkok dan bisa dengan duduk. Yang keduanya, kemudiannya, dikenal dengan kloset jongkok dan kloset duduk.

Pilihan dari kebiasaan ini sulit diubah. Termasuk saya. Tak pernah mengubah kebiasaan untuk membuang isian ini dengan jongkok. Dan syarat utama bersih, nyaman, aman dan higienis,

Dalam peringatan hari toilet kali ini saya juga nggak mau tahu apakah jamban para delegasi dari negara twenty -g, yang dua hari lalu baru saja selesai bertemu di Bali ikut membicarakan tentang toilet

Diantara para delegasi. Atau di forum pertemuan.

Yang saya tahu mereka so pasti sering bolak balik ke toilet. So pasti juga toiletnya  tipe high class. Sebab agenda pembicaraan mereka secara forum maupun bilateral juga klas atas. Dan tak perlu membicarakan kualitas toiletnya.

Namun begitu, untuk saya, world toilet day bisa sangat sangat “penting” untuk dibicarakan karena ia tumbuh berkecambah serta beranak pinak di-isian memori saya, Anak pinaknya terus berkembang  sebagai bagian dari jalan hidup saya.

Jalan hidup  tentang toilet yang sehari sebelum hari peringatannnya  saya menemukan kedamaian di sebuah masjid bertoilet bintang lima. Masjid az-zikra, Kawasan galaxy. Bekasi Selatan.

Saya datang ke sana  secara kebetulan untuk menjemput shalat ashar. Dan toilet az-zikra ini langsung mengembalikan seluruh ingatan saya ke kampung. Di Tapaktuan.

Membandingkan toilet milik az-zikra dengan toilet kampung saya. Seperti langit dengan bumi.

Sebab toilet az-zikra bermerk toto. Berlantai keramik roman. Bahkan di bagian bawah pancuran air wudhuknya di taburi kerikil sehingga tak melentingkan air.

Saya bergumam. Toilet az-zikra di sedut kota Bekasi yang nggak punya nama mentereng ternyata mengalahkan toilet milik masjid di negeri saya yang namanya menjualang langit ketenaran.

Masjid raya baiturrahman kota Banda Aceh. Masjid yang punya sejarah panjang. Sejak zaman keemasan Iskandarmuda dan pernah menjadi benteng pertahanan di era pendudukan Belanda. Yang toiletnya sangat biasa. Kualifikasi bintang dua…

Entahlah…..

Entahlah juga tentang toilet di kampung saya, di sebuah meunasah sederhana, yang toiletnya akrab disapa dengan jamban. Sangat klas bawah. Klas jamban kampung

Jamban yang sering saya ketawakan dengan cikikan bersama teman sebagai toilet pelecehan terhadap setiap orang yang melintas di jalan raya di atas punggung jembatan. Di ujung pantat jamban.

Yang di suatu hari dulunya,,,menyebabkan seorang bupati kala itu marah ketika menemukan sang jamban menyempal menghadang perluasan jalan kota.

Sang bupati yang terkenal galak itu sempat mengeluarkan kata-kata: “ini perbuatan menghina harakat.”

Tidak hanya sampai disitu. Ia juga sempat mengeluarkan muntah ketika menghampairi sang jamban. Dan memerintahkan kepada aparatnya, bongkar segera.

Jamban milik meunasah saya itu memang memungunggi jembatan tempat orang dan kendaraan berlalu lalang.

Jamban…eheheh… toilet berbentuk pondok melintang di aliran sungai kecil. Dan jamban itu merupakan satu-satunya toilet umum di kampung saya. Toilet meunasah. Tempat buang hajat orang sekampung.

Toilet berbentuk rumah itu disekat dalam empat ruang. Peminatnya banyak. Orang sekampung. Kala pagi harus antri. Termasuk saya. Ketika itu. Dan untuk membersihkan bekas buangan itu setiap orang harus menenteng timba berisi air ke jamban itu.

Jamban meunasah itu masih lumayan. Para penduduk yang berumah di sepanjang pantai kampung saya malah menggunakan bibir pantai sebagai toilet dengan cebokan air laut.

Tentu tidak hanya toilet di kampung saya yang tampilannya berlevel jamban. Mungkin toilet di kampung Anda juga begitu. Dulu… dan mungkin juga sekarang. Entahlah… ya

Tentu tidak dengan toilet di rumah Anda. Sudah pasti baik. Istri Anda tentu rajin membersihkannya. Setidaknya sudah terawat.

Lantas  apa yang bisa dikerjakan di hari penting itu? Hari toilet dunia. World toilet day.

Hari-hari ketika toilet masjid perkotaan makin banyak menyandang peringkat bintang empat. Seperti milik az-zikra di kawasan galaxy.

Sementara toilet di banyak masjid di pedesaan dan pinggiran, masih sangat jelek, kotor, dan tidak terawat.

Bukan hanya masjid tapi rumah makan yang masakannya the number one juga bisa membuat pengunjungnya “manjaloek.”  Muntah. Usai buang hajat di toilet milik warung nasi.

Untuk tidak manjaloek dibutuhkan penularan toilet berbintang dibanyak ruang publik. Terminal, taman kota, rest area dan sebagainya.

Dan perserikatan bangsa-bangsa telah mendorong dibentuknya asosiasi toilet. Asosiasi yang bisa bekerja demi lingkungan hidup yang lebih baik. Terutama untuk Asia. Itu juga terkait dengan pembangunan kesehatan dunia.

Asosiasi yang bisa mengumpulkan arsitek, desainer, manajemen gedung, mal, pabrik, siapa pun yang terkait dengan toilet umum.

Tentang toilet ini juga, seorang teman, mengingatkan saya bahwa Indonesia dalam bahaya tempat buang hajat.

Jika negeri ini tidak memperhatikan toilet umum, kita bisa kalah dalam persaingan global. Kalah ketika  wisata kita di black list akibat toilet umum.

Bahkan, seperti yang saya baca kemarin di sebuah jurnal: sekarang ini organisasi buruh dunia juga menyoroti kondisi toilet di pabrik-pabrik di dinegeri ini.

Bahkan saya juga mendengar ini: izin umroh untuk Indonesia keluar belakangan. Itu juga terkait dengan perilaku jamaah haji kita di sana. Yakni soal perilaku orang indonesia di toilet di sana.

Padahal pandemi, telah mengajarkan kepada kita menjaga kebersihan menjadi lebih penting.

Selain itu saya juga mendengar ada seorang pandekar wanita bernama Naning kelahiran Magelang yang kini menjadi ikonik toilet.

Ia menjalani pendidikan sekolah dasar di Swedia, sekolah menengah atas dan  kuliah di Belanda, Inggris, dan Amerika. Ketika pulang ke tanah air dia mengabdikan dirinya menjadi aktifis toilet bersih.

Naning ini memiliki banyak gelar. Sarjana lingkungan, arsitek, dan desainer. Dia punya kantor arsitek. Terkenal sekali. Dia juga mendirikan green bulding counsel. Dia fokus di situ.

Akhirnya dia dipercaya sebagai lembaga yang berhak mengeluarkan sertifikat green buliding dan green product.

“Dulu, katanya,” orang Indonesia harus mencari sertifikat ke Singapura. Mahal,” ujar Naning. “Sekarang tidak ada lagi yang ke Singapura,.

Aktivitasnyi di dunia lingkungan  membuat Naning jadi perhatian dunia. Ketika dunia perlu mendorong perbaikan iklim toilet di Indonesia Naning yang diundang.

Naning-lah yang mendorong perubahan kata cleaning service  di bandara  menjadi facility care. Dia juga yang mengharuskan mereka pakai seragam yang bagus.

Dengan sebutan facility care saya maksudkan agar mereka bisa menegur pengguna toilet yang sembrono. Mreka berani menegur. Kan bajunya tidak kalah bagus.

Memang banyak pemakai toilet umum yang menganggap mereka masih pesuruh. Harga diri itu yang harus dibangun.

Untuk itu pula ketika pagi tadi saya membaca sebuah jurnal dari “the hindustan time”  tentang toilet saya berdecak kagum. Di India ada kebijakan baru tentang keharusan membangun toilet keluarga bagi seorang calon suami.

Bahkan di Cina kita mengenal sebuah revolusi. Bukan revolusi sosialis ala Mao Zhe Dong. Tapi revolusi toilet yang menjadi program nasional. Revolusi yang mengubah wajah Cina dari negara dengan  toilet terparah di dunia

Saya merindukan munculnya program toilet dari negara dalam bentuk asosiasi. Asosiasi toilet pabrik, asosiasi toilet masjid dan musala, asosiasi toilet rumah sakit, asosiasi toilet terminal dan stasiun, asosiasi toilet pompa bensin, dan asosiasi toilet perkantoran pemerintah

Apakah terwujud?

Anda sendiri yang bisa menjawabnya.

Exit mobile version