Site icon nuga.co

Sering Makan Ayam Tingkatkan Kanker

Rendah lemak dan kaya protein, daging ayam kerap menjadi pilihan yang lebih sehat ketimbang daging merah.

Namun, manfaat sehat ini tampaknya bisa berkurang bila ‘daging putih’ tersebut keseringan dikonsumsi.

Baru-baru ini studi dari Oxford University menemukan, sering makan ayam dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena limfoma non-Hodgikin, salah satu jenis kanker kelenjar getah bening.

Konsumsi ayam juga dihubungkan dengan peningkatan risiko kanker prostat pada laki-laki.

Penelitian yang dipublikasikan di Journal of Epidemiology and Community Health ini merupakan studi pertama yang menemukan adanya hubungan antara konsumsi ayam dengan penyakit kanker.

Hasil tersebut didapat setelah peneliti menganalisa pola makan empat ratus ribu orang Inggris yang berusia paruh baya

Sekitar dua puluh tiga  ribu orang ditemukan mengidap kanker. Selanjutnya, peneliti menemukan setiap peningkatan tiga puluh gram konsumsi ayam per hari diikuti juga dengan peningkatan risiko terhadap jenis kanker tertentu.

“Asupan unggas secara positif terkait dengan risiko melanoma ganas, kanker prostat dan limfoma non-Hodgkin,” kesimpulan penelitian ini, dikutip dari The Sun.

Kanker limfoma non-Hodgkin berkembang dari sejenis sel darah putih yang disebut limfosit.

Kondisi ini ditandai oleh kelenjar getah bening yang membengkak di leher, ketiak atau selangkangan, kelelahan yang terus-menerus, sakit perut, demam, keringat malam, penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan, serta nyeri dada dan masalah pernapasan.

Meski ditemukan keterkaitan antara sering makan ayam dengan kanker, penelitian ini tidak menjelaskan hubungan tersebut secara pasti. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui hubungan antara ayam dan kanker ini.

American Heart Association  merekomendasikan untuk membatasi konsumsi daging ayam 3 kali seminggu. Untuk mencukupi kebutuhan protein, ikan, telur, dan kacang-kacangan bisa menjadi pilihan sehat.

Seperti kita tahu, ayam adalah jenis lauk yang paling banyak dikonsumsi. Dalam setiap acara, ayam selalu masuk dalam menu katering yang disediakan.

Selain harganya yang lebih murah dibandingkan dengan jenis daging lainnya, ayam juga berukuran cukup besar untuk dihabiskan dalam sekali makan.

Karena itu banyak orang memilih daging ayam sebagai menu harian, meskipun cara mengolahnya berbeda-beda setiap hari. Namun, sebetulnya sehatkah makan ayam setiap hari?

Ayam termasuk salah satu sumber lemak yang baik untuk tubuh. Meskipun mengandung lemak jenuh, jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan daging merah seperti daging sapi atau kambing.

Dengan makan ayam sebagai pengganti daging lainnya, maka Anda menurunkan risiko tubuh terkena penyakit jantung dengan mengurangi tingkat kolesterol jahat.

Selain itu, ayam termasuk sumber makanan yang kaya akan asam amino. Asam amino atau protein adalah sumber pembangun tubuh untuk membentuk otot. Protein di dalam ayam juga berfungsi untuk berbagai proses kimiawi lainnya seperti memecah racun.

Makan ayam juga dapat mengurangi risiko Anda terkena kanker. Pasalnya, ayam menjadi salah satu sumber selenium yang baik.

Selenium adalah antioksidan yang juga berpengaruh pada kinerja vitamin C dan E dalam melawan radikal bebas yang menjadi salah satu penyebab kanker.

Tak hanya itu, ayam juga mengandung B6 yang membantu proses metabolisme protein dan karbohidrat. Tanpa vitamin B6, sistem kekebalan tubuh, metabolisme, dan sistem saraf pusat tidak akan berfungsi dengan baik.

Bahkan, makan ayam juga membantu menjaga kesehatan sel-sel tubuh dan menurunkan kolesterol. Hal ini dikarenakan ayam mengandung vitamin B tiga atau niacin yang cukup tinggi.

Mengingat makan ayam sendiri menawarkan berbagai manfaat untuk kesehatan, apakah sehat makan ayam setiap hari? Jawabannya tergantung. Tergantung dari jenis ayam, cara memasak, dan bagian mana saja yang Anda makan.

Ayam akan menjadi sumber nutrisi yang baik asalkan Anda memperhatikan ketiga faktor tersebut. Pertama yang perlu Anda perhatikan yaitu jenis ayam.

Ayam negeri cenderung mengalami proses penyuntikan hormon dan antibiotik untuk membuatnya tetap sehat dan tumbuh besar secara buatan.

Sayangnya, jika Anda terlalu banyak mengonsumsi ayam yang disuntikkan hormon hal ini dapat menganggu kesehatan sistem reproduksi.

Pasalnya, hormon yang disuntikkan berupa steroid, estrogen, progesteron, dan testosteron sering kali tidak sesuai aturan. Mengonsumsinya terlalu banyak bisa mengacaukan kerja hormon alami tubuh dan meningkatkan berbagai risiko penyakit.

Sedangkan, ayam kampung cenderung dilepas bebas tanpa disuntik. Namun, tidak seperti ayam negeri yang diberi makan secara jelas, ayam kampung bisa memakan apapun yang ia temukan di jalanan. Sehingga hal ini pun bisa menjadi ancaman untuk kesehatan Anda.

Paling baik ialah mengonsumsi ayam organik dan ayam probiotik karena jenis makanan dan tempat tinggalnya dijaga dengan baik sehingga menjadikan kedua ayam ini lebih sehat.

Exit mobile version