Site icon nuga.co

Seks Bisa Usir Risiko Penyakit Jantung

Bagi mereka yang memiliki gejala penyakit jantung ada kabar gembira menyambanginya.

Kabar itu adalah tentang pengaruh seks terhadap resiko penyakit jantung.

Seks, seperti ditulis “everyday health,” hari ini, Selasa, 26 September,  bukan cuma nikmat, tapi juga terbukti bisa memberikan berbagai manfaat kesehatan.

Selain bisa melepas stres dan meredakan sakit kepala, seks terbukti mengurangi risiko terkena penyakit jantung.

Luar biasa, bukan?

Seperti ditulis lebih lanjut oleh “everyday health, sebuah riset tujuh tahun lalu,  American Journal of Cardiology menemukan bahwa laki-laki yang berhubungan seks paling tidak sebanyak dua minggu sekali punya risiko penyakit jantung yang lebih rendah dibandingkan mereka yang hanya melakukan seks sekali dalam sebulan.

Seorang spesialis jantung di Fairview Hospital, Amerika Serikat, dr. Dean Nukta mengatakan bahwa seks dan kesehatan jantung saling memengaruhi satu sama lain.

Misalnya, jika Anda punya jantung yang sehat, Anda mungkin jadi lebih sering bercinta. Selain itu, seks juga bisa mengurangi risiko terkena serangan jantung.

Juga seperti ditulis medical daily, melakukan kegiatan seksual bisa mengurangi homosistein, sebuah zat kimia sulfur yang mengandung asam amino serta ditemukan dalam darah.

Semakin tinggi kandungan homosistein, semakin tinggi pula risiko terjadinya penyumbatan pembuluh darah atau sklerosis.

Padahal, aliran darah yang lancar sangat dibutuhkan oleh jantung supaya bisa menjalankan fungsinya dengan baik.

Sebuah riset lain dilakukan dua belas tahun silam oleh National Health and Nutrition Examination Survey di Amerika Serikat. Riset ini melibatkan dua ribuan laki-laki dan perempuan

Mereka menjalani tes kadar homosistein dalam darah serta mengisi kuesioner mengenai kegiatan seksual mereka.

Kuesioner tersebut memperlihatkan bahwa laki-laki dengan kadar homosistein rendah melakukan seks dua minggu sekali sedangkan orang dengan kadar homosistein tinggi melakukan seks hanya sebulan sekali.

Namun, pada perempuan tidak ditemukan perbedaan yang signifikan.

Seks memang baik untuk kesehatan jantung.

Namun, bagaimana tepatnya seks mencegah atau mengurangi risiko penyakit jantung pada pria?

Dan ini dia  manfaat seks untuk jantung Anda.

Menurut sejumlah penelitian, berhubungan seks terbukti mampu menurunkan tekanan darah sistolik atau tekanan darah “atas”.

Selain itu, seks juga mampu mengurangi kadar homosistein pada darah sehingga dapat mengurangi risiko penyumbatan pembuluh darah.

Pembuluh darah yang lancar berarti Anda jadi lebih aman dari serangan jantung

Selain untuk mengusahakan keturunan, seks juga dilakukan untuk melepas penat dan mengungkapkan cinta.

Karenanya, seks dapat mengurangi hormon stres.

Pasalnya, terlalu banyak hormon stres dalam tubuh bisa memacu kerja jantung terus-terusan dan meningkatkan tekanan darah. Akibatnya, Anda jadi lebih rentan mengalami penyakit jantung.

Seks yang dilakukan secara rutin merupakan bentuk saling mendukung serta rasa sayang satu sama lain dalam hubungan emosional.

Pada umumnya, bentuk saling mendukung dan rasa sayang atau cinta baik untuk jantung karena menjauhi Anda dari stres, kemarahan, kecemasan, hingga kesepian.

Menurut berbagai penelitian, hal-hal tersebut berkontribusi sama banyak terhadap risiko serangan jantung seperti merokok dan kolesterol yang tinggi.

Seks memang dapat meningkatan kesehatan jantung. Namun, bukan berarti Anda terus-menerus melakukan seks hingga lupa memerhatikan hal lain.

Kegiatan seks bisa menularkan penyakit kelamin, sehingga Anda harus tetap berhubungan seks seaman mungkin.

Misalnya dengan tidak gonta-ganti pasangan seksual karena malah meningkatan risiko tertularnya penyakit. Jangan sampai karena ingin jantung sehat, Anda malah terkena penyakit baru.

Selain itu, menjaga kesehatan jantung adalah usaha yang menyeluruh.

Maksudnya, Anda masih perlu menjaga pola makan seimbang, menjalani gaya hidup sehat, istirahat yang cukup, dan rutin berolahraga.

Bila Anda memang punya risiko penyakit jantung, tak ada salahnya untuk selalu memeriksa dan mengendalikan tekanan darah.

Sementara itu The American Heart Association juga menyatakan aktivitas seksual secara umum tidak berbahaya untuk para penderita penyakit jantung.

Meski begitu pasien harus memeriksakan diri secara teratur ke dokter.

Aktivitas seksual perlu diwaspadai apa bila penyakitnya tidak terkontrol.

Asosiasi jantung tersebut juga menambahkan bahwa diperlukan riset yang lebih dalam mengenai pengaruh hubungan seksual terhadap sistem kardiovaskular kaum wanita dan orang lanjut usia yang memiliki kondisi khusus.

Kegiatan seksual dinyatakan masuk akal untuk pasien angina ringan (nyeri dada) dan mereka yang menderita penyakit jantung ringan, dan pasien penyakit jantung yang tidak ada keluhan. Pasien yang menderita gangguan detak jantung (atrial fibrillation) yang terkontrol juga aman berhubungan seks.

“Faktanya, bagi sebagian besar pasien penyakit jantung risiko dari aktivitas seksual rendah. Kebanyakan pasien yang penyakitnya stabil aktivitas seksual bisa disetarakan dengan olahraga ringan atau sedang seperti berjalan kaki atau naik tangga beberapa lantai,” kata Dr.Glenn Levine, dari Baylor College of Medicine.

Para pasien penyakit jantung biasanya enggan menanyakan pada dokter mengenai bahaya hubungan seksual bagi kondisi mereka, namun sebenarnya kekhawatiran itu ada dalam pikiran.

“Kami ingin mendorong para dokter untuk mendiskusikan ini pada pasien mereka,” kata Levine.

Dalam penelitian yang dilakukan Levine, serangan jantung akut yang dikaitkan dengan aktivitas seksual termasuk jarang, hanya kurang dari satu persen.

Untuk orang yang pernah mengalami serangan jantung, berhubungan seksual meningkatkan risiko datangnya serangan kembali meski risikonya rendah.

Selain itu kematian mendadak saat berhubungan seks sebenarnya adalah kejadian langka. Tetapi ketika hal itu terjadi biasanya dialami oleh laki-laki dan ia sedang bercinta dengan bukan pasangan sahnya.

“Pada umumnya dengan pasangan yang lebih muda, bukan ditempat yang diakrabi, atau setelah mengonsumsi alkohol dan makanan tertentu,” imbuhnya.

Dalam pernyataan tersebut juga disebutkan pasien penyakit jantung yang penyakitnya tidak stabil atau gejalanya cukup parah memang sebaiknya menghindari aktivitas seksual seperti halnya olahraga beresiko.

Hal yang harus dihindari adalah konsumsi obat disfungsi ereksi pada pasien yang menderita nyeri dada.

Namun pada pasien wanita yang sudah menopause, penggunaan estrogen yang dioles atau dimasukkan ke vagina untuk mengurangi nyeri saat penetrasi dinyatakan aman.

“Jika Anda orang yang aktif dan tidak mengalami gejala, maka hubungan seks aman. Tetapi jika sering timbul keluhan nyeri dada, sesak napas atau jantung berdebar-debar, sebaiknya aktivitas seks dihindari,” kata Dr.Reene Pande, dokter penyakit jantung.

Hal yang juga digarisbawahi dari pernyataan ini adalah pentingnya komunikasi dokter dan pasien.

“Komunikasi adalah hal yang utama, kami tidak akan tahu jika ada masalah jika pasien tidak mengungkapkannya,” kata Pande.

Exit mobile version