Site icon nuga.co

Beras Arsenik

Heboh hasil penelitian di Inggris yang memastikan beras mengandung arsenik sepuluh kali lebih banyak dari makanan lain merevak menjadi ketakutan di berbagai negara yang makanan pokoknya berasal dari tanaman padi.

Peneliti Inggris menemukan kontaminasi industri dan pestisida pada beras yang biasa dikonsumsi masyarakat.

Para ahli menilai, arsenik yang ditemukan pada beras dapat meninggalkan jejak penyakit seperti kanker.
Media terbitan London, Inggris, “dailymail,” melaporkan secara rinci bahwa beras memiliki sepuluh kali lipat arsenik dibandingkan makanan lain.

Masalahnya, arsenik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan termasuk masalah jantung, diabetes dan kerusakan sistem saraf.

Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah risiko kerusakan paru-paru dan kanker kandung kemih.

Ahli tanaman dan tanah, Prof Andy Meharg mengatakan, kontaminasi beras memang bisa terjadi karena tanah yang mengandung logam atau lingkungan yang tidak bersih.

Penelitian yang dilaporkan dalam Jurnal PLoS ONE ini mencatat, teknologi resapan seperti pada kopi dapat digunakan untuk menghilangkan arsenik pada beras.

“Ini merupakan terobosan yang sangat signifikan karena menawarkan solusi untuk mengurangi arsenik anorganik dalam makanan,” katanya.

Tingkat arsenik dalam beras bervariasi menurut jenis, negara produksi dan kondisi tumbuhannya.

Umumnya, beras merah memiliki tingkat yang lebih tinggi arsenik. Tingkat tinggi arsenik juga telah ditemukan dalam susu beras sehingga Food Standards Agency telah melarang orangtua untuk memberikannya kepada anak-anak.

Di Indonesia sendiri, Kementrian Pertanian kerap melakukan pengecekan kadar logam jika ada laporan dari masyarakat. Namun sejauh ini belum ada laporan sehingga tidak perlu dikhawatirkan.

Organisasi Kesehatan Dunia dan Organisasi Pangan dan Pertanian telah meluncurkan panduan kandungan arsenik pada beras Beras cokelat memiliki kandungan arsenik lebih tinggi karena proses penyosohannya hanya satu kali dibanding beras putih.

Salah satu cara untuk membatasi paparan arsenik bisa dilakukan dengan memastikan beras sudah mendapatkan sertifikat SN

Sebuah studi dari Universitas Queen, Irlandia Utara di Belfast’s Institute for Global Food Security menemukan bahwa memasak nasi dengan menggunakan mesin penyeduh kopi dapat menghilangkan sebagian arsenik dari biji-biji beras tersebut.

“Ini merupakan terobosan yang sangat signifikan karena ini menawarkan solusi segera untuk mengurangi arsen anorganik dalam makanan,” kata Andy Meharg, profesor Tanaman dan Ilmu Tanah di Universitas Queen.

Dengan menggunakan metode pembuat kopi tersebut ternyata mampu menghapus delapan puluh lima persen dari arsenik anorganik penyebab kanker secara alami yang ditemukan di dalam beras.

Beras adalah biji-bijian pokok di banyak dibudidayakan di seluruh dunia tetapi karena ia tumbuh pada saat air tinggi atau musim banjir, gandum menyerap arsenik anorganik lebih tinggi dari rata-rata mineral dalam tanah.

Unsur kimia yang secara alami ditemukan dalam tanah ini ternyata ditemukan paling banyak kadarnya pada beras merah.

Dalam laporan dari Consumer Reports.org diteliti berbagai jenis beras dan biji-bijian lain.

Faktor geografi sangat berpengaruh terhadap level toksisitas pada arsenik.

Misalnya, beras basmati dari California memiliki level arsenik paling rendah, sementara beras dari Texas menduduki level teratas.

Karena arsenik terakumulasi di bagian luar beras, maka beras merah mengandung 80 persen arsenik lebih banyak dibanding beras putih.

Walau proses pencucian beras sebenarnya bisa mengurangi kadar nutrisi di dalamnya, tetapi setelah dicuci, kadar arsenik bisa turun sampai tiga puluh persen.

Kelompok biji-bijian lain yang kadar arseniknya rendah antara lain sorgum, jewawut, barley, dan farro.

Sejauh ini FDA belum menetapkan standar aman kandungan arsenik dalam beras. Tetapi, untuk anak berusia kurang dari lima tahun tidak disarankan mengonsumsi susu beras sebagai pengganti susu.

Exit mobile version