Site icon nuga.co

Makan Nasi Sama Dengan Makan Racun?

Berita mengejutkan yang datang dari European Food Standards Authority, dan ditulis oleh “Daily Mail,” dua hari lalu, menyentak para “pemakan” nasi karena lembaga riset itu menuding beras mengandung arsenik sepuluh kali lebih tinggi dibanding makanan lain.

Hal ini juga disebabkan karena padi adalah satu-satunya tanaman utama yang tumbuh dalam kondisi sawah ‘banjir’ atau tergenang air.

Hal ini akan menyebabkan tingginya kandungan arsenik anorganik yang biasanya terperangkap dalam di tanah kaya mineral. Arsenik yang ‘tergenang’ di air sawah ini akan terserap oleh tanaman.

Anda tahu dampak dari arsenik? Ya racun. Dengan memakan nasi berarti Anda sudah memakan racun dan dampak buruknya adalah rentan terserang kanker.

Padahal, terutama kita Di Indonesia, ada ungkapan yang sangat spesifik, “Belum makan kalau belum makan nasi.” Mungkin Anda juga termasuk di dalamnya.

Hanya saja, hati-hatilah ketika Anda sangat suka makan nasi.

Mengutip Telegraph, ilmuwan mengungkapkan nasi mengandung arsenik yang bersifat karsinogenik bagi tubuh. Penelitian ini dilakukan oleh ilmuwan dari Queen University di Belfast, Irlandia Utara.

Berdasar penelitian, orang-orang yang terlalu banyak mengonsumsi nasi berisiko tinggi untuk menghadapi bahaya dari arsenik. Kandungan arsenik dalam tubuh akan menyebabkan penyakit paru-paru dan kanker kandung kemih.

“Paparan tinggi arsenik dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan termasuk masalah perkembangan, penyakit jantung, diabetes dan kerusakan sistem saraf. Namun yang paling berbahaya adalah kanker paru-paru dan juga kanker kandung kemih,” ucap Andy Meharg, profesor tanaman dan ilmu tanah di Queen’s Institute untuk Global Food Security.

Untuk mengatasi masalah ini, para ilmuwan memiliki solusi sederhana. Solusinya bisa dilakukan hanya dengan mengubah cara masaknya. Menurut studi, mereka memasak beras menjadi nasi dengan menggunakan coffee percolator atau cerek yang digunakan untuk menyeduh kopi. Dengan cara ini, arsenik dalam beras bisa menghilangkan senyawa tersebut sampai 85 persen.

“Ini adalah terobosan sebagai solusi mengurangi arsen anorganik dalam makanan,” katanya.

“Dalam penelitian, kami pikirkan kembali metode memasak nasi untuk mengoptimalkan penghapusan arsen anorganik. Dan kami temukan bahwa dengan teknologi peresapan, di mana air rebusan terus melewati beras dalam aliran konstan, kita bisa memaksimalkan penghilangan kandungan arsenik.”

Exit mobile version