Site icon nuga.co

Kopi Cegah atau Sebabkan Hipertensi?

Kopi sering mendapatkan reputasi buruk, untuk banyak penyakit termasuk soal hipertensi.

Misalnya, banyak yang berprasangka, kopi menyebabkan tekanan darah naik.

Perlu diingat, hipertensi bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan. Tekanan darah tinggi bisa menimbulkan risiko stroke dan serangan jantung, dua pembunuh terbesar pada pria.

Walau banyak yang percaya, faktanya kopi tidak meningkatkan risiko hipertensi. Walau memang, tekanan darah akan meningkat selama beberapa jam setelah minum kopi.

Namun, hal ini biasanya hanya terjadi pada mereka yang jarang minum kopi, ujar peneliti Italia Giuseppe Grosso, M.D., Ph.D., mengutip Men’s Health, hari ini, Kamis, 18 Mei

Jika tubuh tidak terbiasa dengan kafein, senyawa ini akan membuat pembuluh darah menyempit, yang akan meningkatkan tekanan darah, jelas Dr. Grosso.

Dalam setelah beberapa jam, pembuluh darah akan kembali normal dan efeknya juga hilang.

Setelah minum kopi secara teratur selama satu bulan, tubuh akan menciptakan toleransi terhadap kafein sehingga tekanan darah tak lagi terpengaruh, jelas ahli kardiologi Men’s Health, Prediman Krishan Shah, M.D.

Pada kebanyakan, peningkatan tekanan darah sementara tidaklah berbahaya. Bahkan mereka dengan hipertensi masih bisa minum kopi dua cangkir sehari tanpa risiko.

Belum lagi, peningkatan tekanan darah sementara tadi tidak ada hubungannya dengan risiko mengalami hipertensi, ujar Dr. Shah.

Bahkan, penelitian yang dilakukan Dr. Grosso menunjukkan, mereka yang minum tiga sampai empat cangkir kopi setiap hari justru memiliki risiko hipertensi yang lebih rendah, dibanding yang tidak minum kopi.

Ini karena kopi kaya akan mineral yang bisa menurunkan tekanan darah, seperti potasium, magnesium, dan antioksidan, tutup Dr. Grosso.

Kopi dan kesehatan memang selalu jadi kontroversi.

Hasil penelitian pun banyak dan beragam. Dalam satu minggu yang sama bisa muncul dua penelitian dengan hasil yang kontradiktif seputar kopi dan kesehatan, termasuk efeknya pada diabetes.

Penelitian tentang manfaat kopi terhadap kesehatan menemukan bukti yang semakin meyakinkan, minuman para dewa ini bisa melindungi tubuh dari beberapa jenis penyakit.

Mulai dari kanker, lever, depresi dan Parkinson.

Kopi juga  bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Mengutip Diabetes.co.uk, sebuah studi yang dilakukan pada delapan tahun silam mencatat, mengonsumsi tiga cangkir kopi sehari bisa menurunkan risiko diabetes sampai empat puluh persen.

Di dalam kopi ada senyawa polifenol. Polifenol adalah molekul antioksidan yang bisa mencegah penyakit inflamasi seperti diabetes tipe 2.

Selain itu, di dalam kopi juga ada mineral magnesium dan krom. Asupan magnesium yang cukup setiap hari akan menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Namun harus diingat, kopi hanya bermanfaat bagi mereka yang belum terkena diabetes. Bagi diabetesi tipe 2, kopi malah bisa berefek kebalikannya, alias buruk.

Sebuah studi lain yang diterbitkan dalam Diabetes Care menunjukkan, satu dosis kafein sebelum makan membuat kadar glukosa darah sesudah makan jadi lebih tinggi bagi para diabetesi tipe 2.

Penelitian ini juga menemukan adanya peningkatan resistensi insulin.

Ada banyak bahan di dalam kopi. Beberapa di antaranya bisa jadi bertanggungjawab dan memberikan efek perlindungan pada tubuh seperti yang dipaparkan di atas.

Minum kopi dalam jangka waktu panjang bisa mengubah efeknya terhadap insulin dan sensitivitas insulin.

Toleransi yang dihasilkan dari konsumsi jangka panjang inilah yang memberi efek perlindungan.

Ada perbedaan jelas tentang bagaimana orang dengan diabetes dan mereka yang bebas diabetes merespon kopi dan kafein.

Studi dari Duke University memonitor kadar gula darah para peminum kopi reguler yang memiliki diabetes tipe 2.

Pada siang hari, tingkat gula darah mereka akan melonjak.

Gula darah mereka lebih tinggi di hari mereka minum kopi dibanding ketika mereka tidak meminumnya.

Ini membuktikan, kopi bisa saja bermanfaat dan melindungi tubuh mereka yang belum memiliki diabetes, tapi kafein berbahaya bagi orang yang sudah menderitanya.

Penulis buku The Coffee Lover’s Diet: Change Your Coffee…Change Your Life, Bob Arnold membeberkan pembuatan kopi yang sehat, dilansir dari Health, Kamis (18/5/2017).

Kopi dan gula selalu menjadi pasangan yang lengkap. Namun, Anda bisa mengurangi penggunaan gula. Ini karena tambahan gula akan mempengaruhi kadar gula darah dan memicu diabetes.

Di sisi lain, tambahan gula yang manis tidak akan menghilangkan kadar polifenol (antioksidan) dari kopi.

Polifenol ini berperan mencegah radikal bebas dan melindungi sel tubuh dari penyakit kanker dan penyumbatan pembuluh darah.

Kopi dengan krim adalah pelengkap yang cocok.

Dua sendok makan kemasan krim mengandung seratus gram kalori.

Jumlah ini mungkin tidak terlalu banyak, tapi jika Anda minum beberapa cangkir kopi lebih dalam sehari, kalori akan bertambah.

Kebanyakan orang menutupi ras pahit kopi dengan krim.

Sebagai gantinya, Anda bisa menambahkan susu rendah lemak.

Jika ingin tambahan susu dan krim, cobalah membuat minuman kopi campuran seperti smoothie.

Salah satu cara untuk mengetahui apakah kopi Anda sehat adalah mengevaluasi rasa kopi. Arnold menyarankan,  membeli kopi premium yang ditanam dari lahan perkebunan kopi dengan praktik budidaya yang sangat baik.

Misal, biji kopi dari dataran tinggi yang dekat dengan garis khatulistiwa di negara-negara seperti Ethiopia, Kenya, Columbia dan Brasil.

Kopi Afrika cenderung memiliki rasa yang lebih ringan, sedangkan kopi Amerika Selatan umumnya memiliki rasa kopi yang lebih berat.

Exit mobile version