Site icon nuga.co

Kegemukan Itu Berasal dari Bakteri

Professor Tim Spector dari King’s College London mengubah “tuduhan” terhadap kegemukan dari kalori menjadi bakteri.

“Bukan kalori yang memicu kegemukan tapi bakteri,” tulis Spector seperti yang dikutip dari laman situs “daily mail,” Jumat, 15 April 2016.

Ia mengungkapkan,  rahasia mencapai berat badan ideal dan umur panjang adalah mendorong proliferasi bakteri baik.

“Mulai sekarang, tak perlu pusing menghitung kalori salad atau brokoli kukus yang untuk makan malam,” tulis “mail.”

Dikatakan Spector, memangkas kalori bukanlah jawaban untuk dapat mengurangi berat badan.

Semua bermuara pada berkembang biaknya bakteri yang tepat di usus Anda.

Perut manusia mengandung hampir dua kilogram bakteri. Sebagian adalah bakteri baik, membantu pencernaan, dan sebagian lain adalah bakteri jahat.

Lantas bagaimana kita harus  mendorong tumbuhnya bakteri yang menguntungkan tersebut?

Jawabannya, menurut Spector, dengan mengkonsumsi beragam-ragam makanan.

Dalam bukunya yang sangat terkenal di kalangan kaum diet, The Diet Myth: The Real Science Behind What We Eat, Spector menjelaskan teorinya dengan membandingkan usus kita dengan kebun.

“Anggaplah komunitas mikroba Anda sebagai kebun yang menjadi tanggung jawab Anda. Kita perlu memastikan bahwa tanah atau disebutnya usus tempat tanaman atau mikroba tumbuh itu sehat, mengandung banyak gizi.”

“ Untuk mencegah gulma atau tanaman beracun atau mikroba beracun atau berpenyakit, kita perlu menumbuhkan sebanyak mungkin ragam tanaman dan biji.”

Untuk menerapkan hal tersebut berarti mengkonsumsi beragam makanan, termasuk keju.

Spector menyebut keju yang tidak dipasteurisasi sebagai pilihan terbaik. Selain itu, wine dan cokelat yang kaya polifenol adalah makanan favorit mikroba.

Walau tampaknya diet Spector sangat permisif terhadap makanan apa saja, ada satu hal yang tidak dibolehkan, yakni junk food.

Makanan ekstra lemak dan gula adalah musuh bagi bakteri baik karena membunuh bakteri baik dan membiarkan bakteri jahat tetap berkeliaran.

Kesimpulan Spector itu diambil dari percobaan yang dilakukan terhadap putranya, Tom.

Setelah memberi Tom makanan McDonald selama sepuluh hari berturut-turut, Spector mengatakan bahwa “mikroba ususnya dihancurkan oleh ragam spesies hampir empat puluh persennya lenyap.”

Selain itu Spector juag membuat  film dokumenter yang baru saja dirilis dan  mengungkapkan fakta baru bahwa bakteri usus tidak hanya menjadi pemicu masalah pencernaan, namun juga menjadi penyebab dari berat badan berlebih atau obesitas.

Sebagai sosok di balik pembuatan film ini, Spector,  berjudul The Diet Myth ,ii a mengatakan bahwa diet yang dilakukan masyarakat modern saat ini sebenarnya merusak bakteri baik yang ada di dalam usus.

Hal itu, terutama terjadi karena masyarakat modern lebih gandrung dengan makanan siap saji, ketimbang makanan sehat.

Spector melakukan eksperimen yang dinamainya dengan Super-Size-Me. Dia menggunakan anak laki-lakinya, Tom, sebagai kelinci percobaan.

Tom hanya diizinkan untuk mengkonsumsi makanan cepat saji selama sepuluh  hari.

Spector ingin melihat aktivitas dan jumlah mikroba baik dalam saluran pencernaan Tom selama mengonsumsi makanan siap saji.

Awalnya, dia merasa senang menjadi kelinci percobaan ayahnya. Namun setelahnya dia malah memiliki keinginan untuk mengonsumsi makanan sehat.

“Idenya adalah untuk menciptakan Super-Size-Me dengan mikroba pada skala sedikit lebih kecil.”

“Saya juga menyadari bahwa saya tidak ingin membunuh anak saya lewat eksperimen ini,” ujar profesor Spector dalam film dokumenter itu.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa mikroba pada usus Tom malah hilang empat puluh persen dalam waktu singkat setelah dia mengonsumsi makanan cepat saji.

“Pada hari keempat saya merasakan seperti mabuk tiap usai menyantap makanan tersebut,” ujar Tom.

Menurut Profesor Spector, spesies mikroba dan bakteri baik yang berada dalam usus sangat penting untuk tubuh karena bertanggung jawab untuk memproduksi senyawa kimia dan enzim yang mencerna makanan.

“Yang mengejutkan adalah betapa cepatnya perubahan terjadi. Setelah hanya empat hari menyantap makanan cepat saji, mikroba-mikroba di dalam perutnya sudah menderita. Sebelumnya, butuh waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk mengubah mikroba pada tubuh,” kata Profesor Spector.

Dia menjelaskan, saat dua minggu setelah percobaan tersebut, Tom mulai memakan sayuran dan buah-buahan lagi.

Namun mikroba yang hilang sebanyak 50 persen itu ternyata belum tergantikan.

Spector menyebut, ada kandungan antibiotik dalam jumlah tinggi di makanan siap saji, yang merupakan imbas dari pemberian antibiotik pada hewan ternak.

Dia juga mengatakan bahwa penggunaan antibiotik yang tinggi bakal mempengaruhi cara usus mencerna makanan, terutama jika telah dilakukan sejak usia muda.

“Antibiotik membuat semua  berat badan hewan ternak bertambah dan menghasilkan sedikit jenis mikroba dalam saluran pencernaan.”

“ Hal sama yang terjadi pada manusia, yang menggunakan antibiotik langsung dan mengkonsumsi daging dan ikan dengan porsi yang sedikit,” katanya.

Dia bersikeras bahwa sekeras apapun diet dilakukan, tidak akan bekerja kecuali perut memiliki mikroba yang diperlukan untuk mengatur dan menghancurkan makanan.

“Semakin sehat sistem kekebalan tubuh kita, maka obesitas akan semakin berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, Spector menyebut, mengkonsumsi probiotik yang ada di yogurt, sayur-sayuran berakar, kacang-kacangan, zaitun dan makanan berfiber lainnya dapat melawan kerusakan itu.

Dia pun mempunyai beberapa saran untuk orang yang mencoba untuk menurunkan berat badan.

“Saya pikir berdebat tentang kalori dan diet membuat orang semakin sulit melakukannya.”

“ Mengubah kualitas dan keragaman makanan merupakan hal yang sangat penting.”

“Saya sarankan untuk menjadi vegetarian beberapa saat untuk meningkatkan keragaman dan mengurangi jumlah makanan yang Anda asup.”

“ Lalu Anda dapat melakukan puasa dengan jendela makan, dan mendapatkan apa yang bermanfaat baik untuk tubuh Anda,” katanya.

Exit mobile version