Site icon nuga.co

Kegemukan Bikin Otak 10 Tahun Lebih Tua

Seorang peneliti dari University of Cambridge di Inggris, Lisa Ronan, mengklaim  bahwa kegemukan atau obesitas bisa menyebabkan otak mengalami penuaan sampai sepuluh tahun lebih tua.

“Orang yang kelebihan berat badan mengalami penurunan kemampuan otak seiring pertambahan usia, dibanding orang yang lebih kurus,”  tulis laman situs “Neurobiology of aging,” di edisi khususnya, 03 November 2016.

Lemak berlebih ternyata tak cuma membuat tubuh menggelembung tapi juga  bisa membuat otak Anda mengerut.

Penelitian membuktikan bahwa orang yang kelebihan berat badan mengalami penurunan kemampuan otak seiring pertambahan usia, dibanding orang yang lebih kurus.

Penelitian yang  menganalisa lima ratusan  orang dewasai menemukan fakta bahwa orang yang kelebihan berat badan dengan BMI lebih dari dua puluh lima memiliki volume materi putih otak yang lebih sedikit dibanding dengan orang dengan BMI di bawah dua puluh lima.

Materi putih adalah jaringan yang menghubungkan berbagai wilayah otak satu sama lain. Materi putih ini juga memungkinkan adanya komunikasi antar daerah saraf.

Ini membantu memori Anda untuk berpikir secara cepat.

Jaringan ini akan menyusut alami seiring usia. Tapi proses penyusutan ini akan semakin cepat saat Anda mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Obesitas akan menyebabkan otak mengalami penuaan sampai sepuluh tahun lebih tua dan salah satu penyebabnya  karena jaringan lemak berlebih akan menghasilkan inflamasi protein yang disebut sitokinin. Hal ini akan menyakiti otak.

Meski demikian, peneliti tidak menemukan perbedaan dalam fungsi kognitif antara orang obesitas dan orang langsing.

Tapi penelitian sebelumnya, obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Meskipun studi yang menghubungkan antara obesitas dan penuaan otak terbilang baru, kegemukan sudah diketahui sejak lama bisa meningkatkan risiko penyakit lain, termasuk diabetes, kanker dan penyakit jantung.

Selain penuaan otak, sebuah penelitian terbaru lainnya juga menemukan bahwa kegemukan berkaitan dengan sejumlah jenis kanker.

Pasalnya, kelebihan berat badan memicu peradangan kronis yang kemudian dapat menyebabkan kanker.

Sebuah penelitian lainnya  menemukan bahwa lemak di tubuh manusia bukan hanya dipengaruhi faktor konsumsi ataupun aktivitas, melainkan keberadaan bakteri dalam sistem pencernaan.

Dilansir dari Time, penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan Kings College London menemukan fakta bahwa semakin beragam keberadaan bakteri dalam sistem pencernaan seseorang, maka peluang menumpuk lemak visceral semakin kecil.

Lemak visceral adalah lapisan lemak yang menempel atau berada di sekitar organ dalam abdominal atau di sekitar perut.

Keberadaannya dianggap berbahaya jika berlebih karena akan menimbulkan risiko gangguan metabolisme seperti diabetes, atau penyakit kardiovaskular seperti jantung.

Dalam penelitian sebelumnya, keberadaan bakteri pencernaan juga dikaitkan dengan kondisi kegemukan seseorang.

Namun Michelle Beaumont dan rekan-rekannya di Kings Collage beranggapan kegemukan tersebut masih belum jelas berasal dari otot atau lemak.

Maka Beaumont dan ilmuwan lain memutuskan mencari tahu pengaruh bakteri pencernaan terhadap lemak tubuh.

Mereka menganalisis seribuan kembar dengan uji tinja dan pemindaian X-ray seluruh tubuh untuk membedakan keberadaan lemak visceral.

Para peneliti kemudian menemukan fakta bahwa keberagaman mikrobiom atau bakteri pencernaan yang tinggi pada seseorang menurunkan risiko terjadi kegemukan. Hasil tersebut dipublikasikan dalam jurnal Genome Biology.

Beaumont dan tim menemukan ketika kondisi bakteri pencernaan kurang beragam maka keberadaan lemak visceral pada seseorang semakin banyak.

Artinya, semakin besar peluang terjadi perut buncit yang diikuti faktor risiko penyakit metabolisme dan kardiovaskular.

“Temuan kunci yang kami temukan adalah hubungan antara mikrobiom lebih kuat terkait lemak visceral dibandingkan dengan parameter lain penyebab obesitas,” kata Beaumont.

“Dan karena lemak visceral punya banyak implikasi untuk penyakit jantung dan metabolisme, mungkin penelitian harus mulai meninjau pengukuran sesungguhnya dari lemak dibandingkan sekadar bobot tubuh,” lanjutnya.

Meski telah menemukan hubungan antara keberadaan bakteri dengan lemak visceral, namun belum jelas apakah pengubahan kondisi bakteri pencernaan akan berdampak pada bobot tubuh seseorang.

Exit mobile version