Site icon nuga.co

Ini Dia Penyebab Orang Sulit Tidur

Academy of Sleep Medicine dan the Sleep Research Society, seperti ditulis laman kesehatan media Inggris terkenal “mirror,” Jumat, 30 September 2016, berhasil  mengungkapkan penyebab yang membuat banyak orang sulit tidur malam

Ya, selama ini para peneliti fokus pada studi bahwa pikiran yang tidak kunjung memberikan jalan keluar, acap kali membuat Anda susah tidur.

Kurang tidur, tak hanya membuat Anda mengantuk di kantor, tetapi juga bisa mengganggu penampilan.

Peneliti melihat kebiasaan ratusan  responden yang mendokumentasikan pola tidur mereka selama enam bulan.

Sebagian mereka  dianggap memiliki pola tidur yang baik,  dan lainnya  menderita insomnia ringan.

Ada di antara mereka yang diklaim menderita insomnia jangka panjang.

Peneliti melihat bahwa responden yang tidur dengan baik selalu tidur di jam yang sama setiap malam.

Mereka yang menderita insomnia ringan menghabiskan waktu lebih sedikit di atas kasur. Umumnya, mereka memilih menonton televisi atau kegiatan apa pun yang berada di luar kamar.

Kemudian, mereka yang berada dalam kelompok insomnia berat ditemukan menghabiskan banyak waktu di atas kasur.

Alhasil, pola tidur sangat berantakan.

Peneliti pun menyimpulkan bahwa banyak melakukan kegiatan, seperti misalnya, bekerja, membaca buku, dan menonton televisi di atas kasur menyebabkan Anda semakin sulit mengantuk dan tidur malam.

“Orang-orang insomnia tidur lebih cepat, bangun telat, dan mereka tidur siang,” jelas Michael Perlis, PhD, penulis studi dalam siaran pers.

Perlis mengatakan bahwa kebanyakan tidur dan beraktivitas di atas kasur membuat pola tidur serta keinginan mengantuk menjadi berantakan.

 

Tidur malam yang berkualitas harus menjadi gaya hidup Anda sehari-hari.

Sebenarnya, yang Anda perlukan adalah menciptakan kebiasaan yang bermanfaat untuk membuat Anda cepat tidur.

“Waktu tidur merupakan investasi waktu yang penting. Tak penting berapa banyak waktu yang Anda investasikan karena kuncinya adalah kapan waktu tidur Anda,” kata Shawn Stevenson

Menurut Stevenson, waktu ideal untuk tidur adalah pukul 22.00 malam hingga pukul 02.00 pagi.

Berdasarkan riset, pada jam-jam tersebut, terjadi sekresi pada sejumlah hormon penting dalam tubuh manusia.

Jadi, tertidur antara pukul 22.00 malam dan 02.00 pagi memudahkan tubuh untuk memproduksi hormon dalam jumlah yang dibutuhkan.

“Sangat penting untuk tertidur pada waktu yang sama. Bukan soal berapa jam, melainkan lebih kepada kualitas tidur yang lelap pada malam hari,” katanya.

“Satu hal paling buruk yang Anda lakukan pada diri sendiri adalah bekerja di atas tempat tidur di dalam kamar Anda. Tubuh Anda semestinya sudah beristirahat, tetapi pikiran terus bekerja. Ini sangat buruk,” katanya.

Terbiasa membawa pekerjaan ke rumah dan menyelesaikannya di dalam kamar, membangun kebiasaan terhadap pikiran untuk terus aktif dan bekerja.

“Banyak orang zaman sekarang yang sulit menenangkan pikiran pada malam hari. Pikiran yang terus bekerja tidak membuat tidur Anda berkualitas,” katanya.

Oleh karena itu, pastikan Anda mengerjakan segalanya di tempatnya.

Terbiasa menyelesaikan pekerjaan dalam kamar hanya akan membuat suasana kamar seperti ruang kerja di kantor yang merefleksikan target pekerjaan serta stres.

Sementara itu menurut penelitian terbaru seorang ibu yang menjalani peran sebagai orangtua tunggal, adalah golongan wanita yang kurang tidur malam.

Reportase tersebut merupakan rangkuman dari studi Centers for Disease Control anda Prevention

Hasil studi memaparkan bahwa sebanyak empat puluh empat persen ibu tunggal dengan anak berusia di bawah delapan belas tahun, tidak mendapatkan tidur malam berkualitas minimal tujuh jam setiap hari.

Rata-rata, sebanyak lima pulouh dua persen ibu tunggal yang menjadi responden mengatakan bahwa mereka benar-benar tidur nyenyak hanya dua hingga tiga hari setiap pekan.

Lalu, ketika mereka memiliki kesempatan untuk tidur lebih lama, mereka mengaku sulit terlelap dan sulit mendapatkan tidur yang nyenyak.

Kondisi ini tak hanya terjadi pada ibu tunggal. Sebab, ayah yang menjalani peran sebagai orangtua tunggal, mengaku, jarang tidur malam lebih dari tujuh malam.

Namun, jumlahnya ayah tunggal yang kekurangan tidur, tidak sebanyak ibu tunggal.

Lebih kurang, tiga puluh empat persen ayah tunggal yang mengalami kesulitan tidur nyenyak dan tidur berkualitas di malam hari.

“Hasil studi ini tidak mengejutkan,” ujar Der Stuart Quan, seorang pakar medis di Brigham dan Women’s Hospital in Boston, kepada Live Science.

“Umumnya, banyak orangtua mengorbankan waktu tidur untuk mengurus anak dan kebutuhan rumahtangga. Mereka merasa tidur, mengurangi waktu mereka dalam menyelesaikan segala hal yang mereka anggap sebagai prioritas,” urainya.

Exit mobile version