Site icon nuga.co

Ingat, Stress Bukan Hanya Masalah Psikis

Apakah Anda termasuk yang setuju dengan pernyataan bahwa stress adalah sebuah gejala psikis?

Kalau jawabannya iya maka ubahlah persepsi itu

Sebab  stres  ternyata bukan hanya urusan psikis, tapi juga fisik.

Saat stres, tubuh akan memberikan respons terhadap bahaya atau hal yang tak menyenangkan dengan lebih banyak memproduksi kortisol.

Akibatnya, detak jantung menjadi cepat dan hati melepas lebih banyak glukosa untuk mengganti energi tubuh.

Faktanya, secara tidak langsung, stres berdampak pada kondisi kesehatan fisik manusia. Berikut beberapa dampak stres pada kesehatan tubuh.

Dan apakah Anda pernah merasa ngilu di bagian usus?

Atau merasa ada kupu-kupu yang beterbangan di perut?

Jika pernah, maka Anda tentu tahu bahwa stres berdampak pada sistem pencernaan.

Otak dan usus saling terhubung dan secara konstan berkomunikasi satu sama lain. “Stres bisa memengaruhi setiap bagian di sistem pencernaan,” ujar ahli gastroentrologi dari Wake Forest University, AS, dr Kenneth Koch, mengutip EverydayHealth.

Koch mengatakan bahwa stres mampu meningkatkan asam lambung, mual, dan diare atau sembelit.

Dalam kasus yang lebih serius, stres dapat menyebabkan penurunan aliran darah dan oksigen menuju perut yang dapat menyebabkan kram, peradangan, atau ketidakseimbangan bakteri usus.

Usus dikendalikan dalam bagian sistem saraf pusat di otak dan tulang belakang. Selain itu, usus juga memiliki jaringan neuron sendiri yang dikenal sebagai sistem saraf enterik dan intrinsik.

Sistem saraf di usus juga disebut memiliki pengaruh yang besar. Tak heran jika para ilmuwan menganggapnya sebagai ‘otak kedua’ sebagaimana yang tercatat di Scientific American.

Stres menyebabkan respons kimia dalam tubuh yang membuat kulit lebih sensitif dan reaktif. Pada kondisi tertentu, kondisi itu juga bisa mempersulit penyembuhan masalah kulit.

Sebagaimana kita ketahui, stres memicu produksi hormon kortisol yang bakal menghasilkan lebih banyak minyak. Dalam kondisi itu, kulit juga akan lebih rentan terhadap jerawat dan masalah kulit lainnya.

Mengutip WebMD, stres bisa menimbulkan beberapa masalah kulit seperti psoriasis, rosacea, dan eczema. Selain itu, stres juga bisa menyebabkan gatal-gatal dan ruam.

“Selain itu ada juga perilaku-perilaku lain yang merusak kulit dan dilakukan saat stres,” ujar ahli dermatologi Brigham and Women’s Hospital, Boston, AS, dr Abigail Waldman, mengutip Allure.

Dia mencontohkan seperti kebiasaan menggaruk kulit atau menarik-narik rambut saat stres.

Tak cuma pada pencernaan dan kulit, stres juga berdampak pada kesehatan jantung.

Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada 2014 lalu memberikan penjelasan tentang hubungan antara stres psikologis dan kerusakan jantung.

Mengutip Times, peneliti memperhatikan kadar sel darah putih dalam tubuh. Setelah sepekan bekerja dengan penuh tekanan, jumlah sel darah putih meningkat.

Penelitian lain yang dilakukan Harvard University pada setahun lalu menyebutkan bahwa mereka yang memiliki aktivitas tinggi di bagian amygdala  atau bagian otak pembentuk emosi berisiko terkena serangan jantung.

Saat stres, tubuh merangsang sistem kekebalan tubuh untuk bekerja. Dalam kondisi itu, tubuh akan melepaskan hormon kortisol yang akan menghambat pelepasan histamin dan respon peradangan untuk melawan zat asing.

Mengutip MayoClinic, dengan begitu tubuh akan lebih rentan terserang penyakit.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada jurnal Leukocyte Biology menyebutkan bahwa jenis stres tertentu dapat berinteraksi dengan sel kekebalan tubuh yang merespons sel alergen hingga menimbulkan gejala fisik.

Exit mobile version