Site icon nuga.co

Ingat Bahaya Makan Sebelum Lapar

Laman situs “women’s health,” dalam tulisan kesehatannya hari ini, Kamis, 12 Januari 2017, mengingatkan bahaya yang bisa datang kala seseorang makan sebelum merasakan lapar.

Untuk diketahui, rasa lapar itu biasanya muncul  sebagai sinyal tubuh membutuhkan energi sehingga kita harus makan.

Namun, dengan makanan yang tersedia setiap saat seperti sekarang, berapa banyak dari kita yang hanya makan ketika lapar?

Menurut pemikiran tradisional, kebiasaan makan saat perut tidak lapar bisa membuat kegemukan, karena kelebihan kalori akan disimpan dalam tubuh menjadi lemak.

Di luar soal berat badan, sebenarnya ada alasan lain yang lebih berbahaya mengapa kita sebaiknya membatasi asupan makanan, yaitu peningkatkan kadar gula darah.

Setiap kali kita makan, tubuh akan menghadapi lonjakan nutrisi

Sebagai respon, tubuh akan mengeluarkan perlindungan berupa hormon untuk menarik semua nutrisi itu dari peredaran darah dan membuatnya bermanfaat bagi tubuh, atau disimpan agar bisa dipakai saat diperlukan.

Dalam kondisi normal, kadar gula darah akan naik setelah makan, namun lonjakannya akan ditekan oleh hormon yang dikeluarkan organ pankreas itu, yakni insulin.

Jumlah gula setelah makan memiliki arti penting bagi kesehatan.

Jika ada dua orang yang memiliki kadar gula darah sama, maka orang yang memiliki lonjakan gula darah lebih tinggi biasanya akan rentan terkena gangguan kesehatan.

Peningkatan kadar gula darah setelah makan dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari seberapa banyak kalori yang kita asup, kadar indeks glikemin makanan, metabolisme tubuh, dan kapan kita makan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Gal dari University of Illinois-Chicago, saat orang makan ketika perutnya tidak lapar, ia akan mengalami lonjakan gula darah lebih tinggi dibanding dengan saat makan ketika lapar walau jumlah kalorinya sama.

Kabar baiknya, jika kita makan saat level laparnya moderat, tubuh akan bekerja lebih baik menangani nutrisi yang masuk.

Memang hasil penelitian David Gal ini baru salah satu teori yang masih bisa dibantah oleh penelitian lain. Walau begitu, tak ada salahnya menunggu perut lapar untuk makan.

Makanya, jika Anda ingin ngemil saat lapar, pilihlah jenis makanan yang memiliki indeks glikemik rendah, seperti kacang-kacangan, buah yang tidak terlalu manis, atau yogurt rendah lemak.

Pankreas Anda akan sangat berterima kasih.

Seperti yang kita tahu, sarapan sangat penting dikonsumsi, sehingga tak boleh terlewatkan. Melewatkan sarapan, akan membuat perut  terasa lebih lapar di siang hari. I

nilah yang kemudian akan membuat kita makan lebih banyak.

Sayangnya, tak sedikit orang sarapan “seadanya”.

Meski menu sarapan yang dikonsumsi terlihat sehat dan mengenyangkan, seperti roti panggang, granola bar, sepotong buah ataupun bubur ayam, belum tentu makanan itu bisa memenuhi kebutuhan energi kita untuk beraktivitas.

“Apapun menunya, sebaiknya dalam satu piring Anda berisi setengah buah-buahan dan sayuran, seperempat gandum, dan seperempat protein,” ujar Dietitian and CEO of Family Food Krista Yoder Latortue, M.P.H., R.D.

Asupan protein seringkali dilupakan saat sarapan, padahal ini penting.

Protein tak hanya memberikan bahan bakar bagi tubuh untuk beraktivitas. “Jika Anda hanya mengonsumsi karbohidrat saat sarapan, ini akan mengganggu metabolisme tubuh dalam sehari,” ujar Yoder.

Seberapa laparnya Anda, tergantung dari dua faktor: berapa banyak Anda makan dan apa yang Anda makan.

Jika Anda tidak mengonsumsi protein saat sarapan, Anda akan merasa lebih lapar.

Ketika Anda merasa lebih lapar, Anda akan memilih apapun untuk dimakan.

Ada efek buruk lainnya jika tak mengonsumsi protein saat sarapan, yaitu mengganggu sistem metabolisme tubuh yang membutuhkan tiga puluh gram protein untuk pengolahan.

“Jika nutrisi di pagi hari tak mencukupi, maka akan menarik cadangan pada tubuh. Rata-rata wanita membutuhkan protein, meski jumlah tepatnya harus disesuaikan dengan berat badan dan tingkat aktivitas,” ujar Yoder.

Anda tak harus mengonsumsi steak dan telur saat sarapan untuk mendapatkan asupan protein yang cukup.

“Telur, keju, dan buah-buahan bisa jadi pilihan menu sarapan,” papar Yorde.

Perlu diingat bahwa konsumsi protein terbaik adalah dari sumber makanan murni, bukan dari makanan bubuk yang telah melalui berbagai proses.

“Sumber protein terbaik dri hewan adalah ayam, daging, telur, susu, keju, yoghurt. Sedangkan sumber protein nabati adalah kacang-kacangan dan biji-bjian. Tofu dan edamame juga bisa jadi pilihan,” tambah Yorde.

 

Exit mobile version