Site icon nuga.co

Disfungsi Ereksi? Jangan Tunda Konsultasi

Pada laki-laki, disfungsi ereksi alias impotensi sering dikaitkan dengan riwayat diabetes atau kencing manis. Pada perempuan, diabetes juga memicu gangguan pada fungsi seksualnya. Seperti apa? “Ada sih! Diabetes  menyebabkan neuropati pada perampuan. Dampaknya adalah gangguan perangsangan secara seksual,” kata dr Dyah Purnamasari, SpPD dari Fakultas Kedokteran UI.

Gangguan neuropati atau persarafan, menurut Dyah, bisa menyebabkan sensitivitas perempuan terhadap rangsang seksual jadi berkurang. Dampaknya, perempuan menjadi susah terangsang, libido atau gairah seks meredup dan akhirnya susah mencapai orgasme.

Lubrikasi atau pelumasan pada wanita  juga terganggu, sehingga hubungan seks terasa tidak nyaman. Secara alami, lubrikasi hanya terjadi bila perempuan mendapatkan cukup rangsangan sementara gangguan neuropati membuat sensitivitas terhadap rangsang seksual berkurang.

Meski demikian, Dyah mengatakan pengaruh secara fisik seperti ini sangat kecil sehingga bisa dikatakan kurang terlalu signifikan. Diabetes justru lebih banyak mempengaruhi fungsi seksual secara psikis, bukan secara fisik seperti disfungsi ereksi pada laki-laki.

“Paling banyak sih faktor psikis, karena diabetes meningkatkan risiko depresi. Kita tahu depresi pada diabetes itu lebih tinggi dibandingkan pada orang sehat. Tidak hanya perempuan, laki-laki juga mengalami. Karena mereka kan tahu komplikasinya apa saja,” kata Dyah.

Oleh karenanya, Dyah menyarankan pada para pasien untuk selalu terbuka menceritakan masalahnya. Meskipun urusan seksual sering dianggap sebagai hal yang ‘private’ dan tabu untuk dibicarakan, kenyataannya masalah ini lebih sering dipicu hanya oleh masalah psikis.

Sehubungan dengan ereksi ini, laki-laki  memang dikenal memiliki gairah dan kemampuan seks yang tinggi. Bahkan melebihi perempuan. Namun tidak semua laki-laki dengan muda mengalami  ereksi. Untuk ituj jika seorang lelaki sudah lima kali dalam sebulan tak  bisa ereksi,  segerakan lah konsultasi ke dokter.

Disfungsi erektil atau erectile dysfunction (ED) adalah kondisi ketidakmampuan pria untuk memulai atau mempertahankan ereksinya, Kondisi ini berakibat tidak bisa memuaskan pasangannya.

“Hampir semua laki-laki pernah mengalami kegagalan dalam hal ereksi, namun jika terjadi secara terus-menerus akan dicurigai sebagai ED,” ujar Dr. Rupin Shah, konsultan andrologi di Lilavati Hospital, India seperti dikutip dari “Times” surat kabar terkemuka di India.

“Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lima kali atau lebih dalam setiap periode per bulan, maka harus segera diperiksakan ke dokter,” lanjutnya.

Sebuah asosiasi dokter di Delhi, Alpha One Andrology, mengungkapkan hasil studi dari 2.500 responden laki-laki dengan masalah ED di India, sekitar 50 persen berusia 40 tahun ke atas, sedangkan 10 persen berusia 40 tahun ke bawah.

“Kurang olahraga, kurang tidur, memiliki pola makan yang buruk, serta sering stres membuat laki-laki di perkotaan menjadi rentan terkena ED,” ujar Dr. Anup Dhir, pemimpin peneliti.

Selain itu, ED juga bisa menjadi dampak akibat berbagai penyakit, seperti kolesterol tinggi, diabetes, dan penyakit jantung.

Kehidupan seks yang gagal tidak hanya bisa membuat suami maupun istri kehilangan kepercayaan diri, namun efeknya juga bisa membahayakan keharmonisan rumah tangga. Dr. Dhir melanjutkan ED bahkan bisa membuat beberapa pasangan suami istri bercerai. Dari 2.500 responden, 1 dari 5 pasangan telah berpisah dari pasangannya.

Saat konsultasi ke dokter, maka dokter akan memberi tindakan untuk membantu mengurangi krisis kepercayaan diri laki-laki. Jika kondisi ini memang diakibatkan oleh gangguan pada pembuluh darah penis, maka dokter akan memberikan pengobatan medis tertentu. Sementara dokter memberikan pengobatan medis, pasangan bisa memperbaiki komunikasinya.

Membisikkan kata-kata manis mungkin tidak akan bekerja dengan baik. Mengingat tingginya ego laki-laki, kondisi ini akan menjadi masalah yang sangat besar bagi dirinya. Saat hal ini terjadi sang istri perlu tetap menunjukkan bagaimana dia mencintai suami apapun kondisinya. Hal ini penting karena dinilai secara bertahap akan mengembalikan kondisi mental sang suami.

Exit mobile version