Site icon nuga.co

Diet Tinggi Lemak Bisa Bikin Panjang Umur

Laman “national geographic,” hari ini, 12 September, menulis tentang hasil studi terbaru yang menun jukkan diet ketogenik ternyata dapat memperpanjang usia dan meningkatkan kekuatan fisik

Untuk Anda tahu det  ketogenik atau diet keto, merupakan salah satu cara populer yang dilakukan banyak orang untuk menurunkan berat badan.

Jika umumnya diet menghindari lemak, diet ketogenik justru menekankan asupan tinggi lemak, protein sedang, dan rendah karbohidrat.

Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari University of California menemukan bahwa diet ketogenik tidak hanya dapat menurunkan berat badan, tetapi juga meningkatkan kekuatan fisik dan membuat pelakunya lebih panjang umur.

Tim tersebut melakukan uji coba pada tiga kelompok tikus.

Kelompok pertama, tikus dengan diet tinggi karbohidrat; kelompok kedua, tikus dengan diet rendah karbo dan tinggi lemak; kelompok terakhir, tikus dengan diet ketogenik.

“Hasil ini agak mengejutkan. Kami mengira hanya ada sedikit perbedaan, tetapi saya terkesan dengan besarnya perbedaan yang kami amati,” kata ahli nutrisi Jon Ramsey, penulis senior studi yang diterbitkan di jurnal Cell Metabolism tersebut.

Dari hasil percobaan, Ramsey dan timnya menemukan adanya tiga belas persen peningkatan masa hidup pada tikus yang menjalani diet tinggi lemak dibanding tikus dengan diet tinggi karbohidrat.

“Pada manusia, waktu tersebut bisa berkisar antara tujuh hingga sepuluh tahun, dan yang paling penting, tikus-tikus dengan diet tinggi lemak mengalami peningkatan kualitas kesehatan,” jelas Ramsey.

Para peneliti mengamati, diet ketogenik meningkatkan memori, fungsi motorik, dan mencegah peningkatan tanda-tanda penuaan.

Bahkan, diet ini juga berdampak pada kemunculan tumor.

“Dalam kasus ini, banyak hal yang kami amati  tidak banyak berbeda dari manusia. Pada tingkat dasar, manusia mengikuti perubahan yang sama dan mengalami penurunan fungsi keseluruhan organ selama penuaan,” kata Ramsey.

Studi serupa yang diterbitkan oleh Buck Institute for Research on Aging dalam jurnal yang sama menunjukkan bahwa diet ketogenik dapat memperpanjang umur dan memperbaiki ingatan pada tikus yang sudah menua.

Selain itu, anggapan selama ini bahwa gula rendah kalori dapat menurunkan berat badan ternyata tidak seluruhnya benar.

Seperti di tulis dari jurnal “canadaian medical association journal”  penggunaan  gula rendah kalori ternyata tidak efektif untuk menurunkan berat badan

Diungkapkan  gula rendah kalori  bahkan berpotensi meningkatkannya.

Meghan B Azad dari Universitas Manitoba di Kanada bersama timnya menganalisis hasil dari  tiga puluh tujuh studi  dalam periode sepuluh tahun.

Menerangkan hasil studinya, Meghan seperti dikutip NPR hari ini mengatakan, “Tidak jelas manfaat gula rendah kalori pada penurunan badan, malah ada potensi pemanis artifisial itu memicu kenaikan berat badan, diabetes, serta penyakit kardiovaskuler.”

Dalam studinya, Azad menganalisis studi yang menggunakan dua pendekatan, percobaan secara langsung serta observasi.

Kedua studi memiliki kelebihan dan kekurangan.

Pendekatan percobaan memungkinkan peneliti mengetahui dampak senyawa pemanis artifisial tertentu secara pasti.

Namun, pendekatan itu hanya bisa dilakukan dalam waktu singkat dan obyek studi terbatas.

Pendekatan observasi bisa mengamati obyek studi dalam jangka waktu lebih lama, tetapi kesimpulan hasil studi biasanya kurang memuaskan sebab tak bisa mengaitkan secara langsung dampak senyawa pada kesehatan.

Lewat kajian ulang yang diharapkan bisa memberi gambaran menyeluruh tentang pengaruh gula rendah kalori itu, peneliti menemukan bahwa gula rendah kalori justru bisa meningkatkan indeks massa tubuh dan meningkatkan peluang diabetes tipe 2

Tidak hanya itu. Kajian ulang juga mengungkap, konsumsi pemanis artifisial bisa meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler hingga tiga puluh dua persen.

Sejumlah studi yang dijadikan bahan kajian ulang juga menemukan, pemanis buatan bisa membingungkan tubuh.

Pasalnya, biasanya tubuh menganggap makanan manis berkalori. Ketika menemui rasa manis yang tak berkalori, tubuh bingung dalam memetabolismenya.

Pemanis buatan juga membuat tubuh ingin terus-terusan memakan manis. Akhirnya, jumlah pemanis buatan dan mungkin juga gula yang dikonsumsi justru lebuh besar.

Azad mengatakan, masih butuh studi lanjut untuk menegaskan pengaruh pemanis buatan pada tubuh. Namun, ia meminta siapa pun untuk mempertimbangkan lagi konsumsinya.

Ia menyarankan, lebih baik menghindari makanan manis baik yang memakai gula maupun gula rendah kalori.

Exit mobile version