Site icon nuga.co

Campuran Koktail dan Ganja Merusak Otak

Laman situs “Live Science,” hari ini, Selasa pagi WIB, menuliskan tentang fakta yang ditemukan peneliti bahwa minuman koktail yang dibuat dengan mencampurkan minuman energi dengan alkohol bisa merusak fungsi otak

Para peneliti itu  mendapati bahwa minuman racikan dengan kombinasi seperti itu memiliki efek yang sama dengan kokain.

Seperti ditulis “Live Science,” Selasa, 08 November 2016,  para peneliti  dari Purdue University di Indiana, Amerika Serikat, mendapatkan hasil tersebut setelah melakukan serangkaian percobaan menggunakan tikus.

Awalnya peneliti ingin melihat dampak campuran alkohol dengan minuman energi pada kesehatan manusia, terutama anak muda sebagai penikmat jenis minuman ini.

Namun atas pertimbangan etika, para peneliti menggunakan tikus sebagai bahan uji coba.

Mereka menemukan kombinasi kedua minuman itu dapat menyebabkan kemampuan otak dalam merespon senyawa tertentu, dan perubahan tersebut dapat bertahan hingga dewasa.

“Kami jelas melihat dampak kombinasi minuman yang kami yakin tidak terlihat jika hanya mengonsumsi satu jenis minuman,” kata Asisten Profesor Kimia Medis di Purdue University, Richard van Rijn.

“Tampaknya komposisi dua senyawa bersama-sama mendorong tikus muda berprilaku melebihi batasan otak mereka yang kemudian menyebabkan perubahan pada perilaku dan neurokimia otak mereka,” lanjutnya.

Para peneliti sebelumnya mengadakan pengujian terhadap tikus berupa asupan minuman, yaitu air minum dan alkohol dalam beberapa varian percobaan.

Mereka tidak menemukan hal signifikan dari percobaan ini.

Kemudian, peneliti memisahkan tikus menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama diberi minum campuran kafein tingkat tinggi seperti minuman energi dan alkohol. Kelompok lainnya hanya diberi alkohol, dan sisanya hanya diberi air.

Setelah sebulan percobaan, para peneliti mengamati kondisi otak masing-masing kelompok. Mereka menemukan bahwa tikus yang minum campuran kafein dan alkohol menunjukkan kadar protein tertentu sebagai tanda terjadinya perubahan kimia otak.

Perubahan ini jelas terlihat dibandingkan kelompok tikus yang hanya minum alkohol atau air semata.

Ketika dibandingkan dengan percobaan lewat kokain, perubahan kimia otak pada kelompok tikus yang mengonsumsi campuran kafein dan alkohol memiliki tanda protein yang sama.

Melalui pengujian tambahan, para peneliti menemukan tikus yang telah diberi campuran kafein dan alkohol menjadi kurang sensitif terhadap efek kokain.

Mereka membandingkannya dengan kelompok tikus peminum air dan alkohol.

Dengan kata lain, tikus yang mengonsumsi kafein dan alkohol membutuhkan kokain lebih banyak dibandingkan kelompok tikus lainnya untuk mendapat efek ‘menyenangkan’ dari kokain.

“Tikus yang terpapar minuman alkohol berkafein tinggi merasakan kokain tidak lagi memberikan dampak signifikan pada mereka,” kata van Rijn.

“Mereka kemudian cenderung menambah kadar kokain untuk merasakan efeknya.”

Rijn pun menegaskan bahwa minuman campuran seperti ini membuat tikus mati rasa terhadap efek kokain.

Melalui temuan ini peneliti mengindikasikan adanya peluang kecanduan dari konsumsi alkohol dan minuman kafein tinggi seperti minuman energi.

Serta dibutuhkan penelitian lebih lanjut dan kepastian apakah temuan ini bekerja dengan cara yang sama pada manusia.

Minuman energi banyak dijadikan bahan campuran untuk minuman alkohol dan sering dijual kepada remaja.

Menurut para ilmuwan, minuman energi terkandung kafein sepuluh kali lebih besar dibandingkan soda. Namun belum banyak diketahui dampak kesehatan dari minuman ini terhadap remaja.

Sebelumnya, seperti ditulis laman situs “huffington post,” mengonsumsi alkohol dan ganja secara bersamaan dianggap berisiko tinggi bagi tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Meenakshi Subbaraman dari Alcohol Research Group mengingatkan kecerobohan ini bisa fatal

Penelitian tersebut dilakukan dalam kurun satu tahun dan secara acak, peneliti di Alcohol Research Group melakukan pengujian terhadap pengguna alkohol dan ganja yang tinggal di Washington D.C.

Hasil penelitian tersebut, sebagimana dilansir laman Huffington Post, membuktikan bahwa konsumsi alkohol dan ganja secara bersamaan kemungkinan  berisiko tinggi.
Pasalnya, menurut Subbaraman, orang yang memiliki alkohol dan ganja kemungkinan akan mengonsumsi keduanya sekaligus di tempat-tempat tertentu, seperti rumah.

Sehingga mereka bisa memperkirakan apa yang terjadi bila mereka melakukannya.

Saat penelitian, responden mengaku mengonsumsi alkohol sejak satu tahun lalu.

Sebanyak  tujuh puluh persen di antaranya menyatakan hanya mengonsumsi alkohol saja.

Di negara bagian Washiongton, penggunaan ganja sudah dilegalkan.

Tak heran bila banyak warga Washington yang mengonsumsi obat psikotropika dari tumbuhan Cannabis sativa syn. Cannabis indica yang mengandung zat tetrahidrokanabinol dan membuat pemakainya mengalami euforia.

Konsumsi alkohol sekaligus ganja mungkin tidak berisiko tinggi.

Namun harga keduanya juga tidak rendah.

Pengguna harus mengeluarkan banyak uang untuk membelinya.

Exit mobile version