Site icon nuga.co

Bukan Kulit Mangga

Dua bulan terakhir kulit saya mengalami flek. Warnanya hitam. Bintik-bintik halus, Sedikit gatal.  Di betis dan lengan. Terakhir muncul dibagian paha.

Sepekan terakhir flek hitam iu bermutasi sedikit putih. Woouu.. macam mutasi virus aja.

Saya santai saja menanggapinya. Padahal istri saya udah memaksa harus ke dokter kulit. Saya menganggap kasus ini sangat biasa dan bisa hilang sendiri.

Alasan saya lainnya sangat sederhana. Dulu juga pernah begini.

Kata buku bacaan saya flek hitam biasanya muncul karena peningkatan melanin di kulit. Terpapar sinar matahari atau sinar ultra violet.

Saya tahu melanin adalah pigmen alami yang menentukan warna kulit seseorang. Flek hitam bisa dialami semua orang. Lainnya saya nggak tahu. Setahu saya sembuh sendiri.

Ada juga tahu saya dari bacaan tentang penyakit kulit yang dapat memicu kemunculan flek hitam, seperti hiperpigmentasi pasca-inflamasi, yaitu perubahan warna kulit setelah mengalami goresan, ruam, atau jerawat.

Bisa juga karena melasma yang sering dikenal atau chloasma adalah masalah kulit yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak cokelat.

Lainnya linea nigra. Kkondisi kulit di mana muncul garis vertikal yang berwarna gelap di area perut hingga tulang kemaluan.

Entah apa lainnya. Entahlah.

Pokoknya nggak mau tahu.

Nggak juga ketika seorang teman jogging “maksa” periksa ke dokter. Dengan tambahan setory menakutkan. Bisa “mutih.”  Saya cuma menganggukkan ceritanya.

“Itu flek bung. Harus ke dokter,” katanya begitu saya nggak ngah. Lantas ia nambah cerita “flek anda itu disebut freckles. Mungkin lentigo. Sering muncul di usia tua.”

Yeeeiiihh… apa tahunya ia tentang flek.

Tak mendapatkan respon di hari itu, besoknya ia memberi saya satu bundel. Isinya, usai saya buka, sebuah buku. “Baca ya,” katanya.

Bukunya: “Real World Skin Solutions.”  Penulisnya Ahmed Al-Kahtani. Asli arab. Uni emirate. Seorang dokter dan dokter yang doktor. Lulusan tiga universitas. Irlandia, Amerika dan Australia.

Anjuran dari buku itu: agar kita lebih mencintai kulit kita. Dengan cara mengenali kulit kita lebih dalam.

Waktu terbaiknya: saat mandi.

Usai memamah isi al Kahtani saya sadar, kulit manusia itu penting Apalagi untuk wanita. Seperti istri saya yang sebulan sekali rutin treatmen dengan cream macam-macam.

Untuk itu jangan samakan kulit Anda dengan kulit bawang. Atau kulit mangga. Yang Anda anggap sebagai sampah. Harus dikupas. Lalu dibuang.

Kita lupa bahwa mangga itu enak karena ada kulitnya.

Anda dan saya pasti akan hihihi… kalau tanpa kulit. Dilanjutkan haahaa…seperti yang di bawah itu. Yang tersembunyi di koteka itu. Ternyata gagah tanpa kulit.

Takut gagah tanpa kulit kemarin saya ke dokter. Dokter kulit. Di sebuah mall.  Mall summarecon. Yang tempat prakteknya bermerk “ZAP.”

Sang dokter seorang perempuan. Namanya: Ghita Rachmayunita. Biasalah dokter kecantikan. Kan harus wanita, cantik. Yang nggak biasa, dulunya, di kampung saya dokter kulitnya lelaki.

Namanya Gharli. Mirip dengan Ghita sama-sama memulai huruf gh di pangkal namanya tapi beda eranya.

Ah..hanya guyon. Maafkan dok Ghita.

Saya tak tahu apakah konsultasi saya dengan dokter yang “nyi” di sore itu dinamakan treatment. Entahlah.

Tapi ia mencecar saya dengan banyak pertanyaan yang kemudian menyuruh saya duduk sembari menjulurkan kaki. Ia mengambil selembar tisu. Melipatnya dalam bentuk segi tiga.

Ujung tisu itu dia sapukan ke kulit flek dan nggak flek. Lantas si dokter bertanya.

“Apa rasanya beda. Terasa atau sedikit terasa,” katanya mengulang-ulang sembari menggeser ujung tisu di kulit yang flek dan non flek.

Jawaban saya hanya itu ke itu saja : biasa .. dan nggak.. Yang nggak biasanya pemeriksaan itu pakai media tisu/ Semudah itu. Entah juga ya…

Ghita sedikit bingung membuat kesimpulan diagnosanya. Karena jawaban saya stagnan di kata biasa dan nggak.

Saya nggak tahu apa yang ada dikepalanya menghadapi si gaek yang nyinyir ngoceh di sepanjang konsultasi itu.

Dalam gumam saya berkata, mungkin si dokter berpikir si pasiennya ini termasuk jenis homosapience tak mencintai kulit. Abai terhadap kesehatan kulit

Maklum saya datang dari daerah terpencil. Yang manusianya  banyak sakit kulit. Alasannya karena tidak punya uang.

Lain dengan di kota besar banyak yang sakit kulit. Karena kelebihan uang.

Kasus-kasus sakit kulit di kota besar justru akibat kosmetik. Beli kosmetik sudah mengalahkan kebutuhan apa pun.

Pedagang kosmetik sangat canggih. Yang berbasis organik punya cara organik. Yang berbasis dna terlihat lebih futuristik. Yang berbasis stemcell terasa lebih modern.

Tidak perlu memikirkan: bagaimana logikanya. Seperti apa ilmiahnya.

Yang bisa menjawabnya mungkin Nurhayati Subakat. Pemilik kosmetika wardah. Yang kayanya ampun. Dan produknya sudah melanglang buana ke manca negara.

Nurhayati yang asal minang dan punya laboratorium lengkap. Yang kini menguasai pangsa pasar kosmetika dalam negeri. Dan wardah menguasai papan iklan dihampir seluruh media online.

Usai konsultasi yang treatment itu dokter Ghita menuliskan resep ke saya.

Dengan anjuran: pakai sabun bayi ketika mandi dan oleskan krem ke tubuh untuk menjaga kelembaban kulit.

Sebelum bye..bye.. saya tersadar kalau kulit saya memang suda tua. Sudah tujuh pula tiga tahun dipakai tak pernah dapat jatah dioles dan disabuni secara pas.

Dokter Ghita menyadarkan saya mesin kulit si pasiennya ini sudah out model.

Masih untung si dokter nggak memberi ulasan tentang stemcell. Istilah  keren yang menjadi bagian dari marketing.Kata ‘organik’ atau ‘dna’ atau juga ‘stemcell’ memang sudah seperti mantra.

Selain Ghita, buku  al-Kahtani  itu membawa saya menyadari fungsi kulit itu luar biasa hebatnya. Untuk kesehatan tubuh kita. Juga untuk kecantikan makhluk wanita.

”Jagalah kulitmu. Seperti menjaga uang,” kata buku itu. Jangan pernah mengharap hasil cepat untuk perawatan kulit.

Saya seperti kena tembak. Saya telah mengabaikan kulit saya seumur hidup saya.

Bahkan ketika hutan flek hitam itu datang. Ketika dulu di masa kanak-kanak kami hanya punya sabun batu digosok-gosokkan ke kulit. Tangan. Kaki. Dada. Dipakai dipakai bergantian. Ketika mandi di lubuk.

Saling menggosokkan batu ke punggung.

Padahal era sekarang seharusnya Anda dan saya peduli dengan kulit tipe a,b,c atau tipe gabungan. Seperti golongan darah yang juga ada a dan b-nya. Atau gabungan, ab.

Perawatannya? Bisa berbeda.

Kosmetiknya? Tidak sama.

Masih ada lagi pemakaian aturan kosmetiknya  Tipe normal, berminyak atau kering. Atau gabungan antara tiga itu.

Seperti saya. Ketika memakai sabun bayi ada sesuatu yang membuat risih. Licin. Walaupun disiram dengan air satu bak. Belum lagi usai diolesi cream. Ah.. nggaklah.

Rupanya untuk merawat kulit itu ada undang-undangnya. Harus melewati tiga tahapan. Membersihkan, membasahi-melembabkan dan melindungi.

Exit mobile version