Site icon nuga.co

Berjalan, Kreatifitas Anda Pasti Meningkat

Melangkahlah. Berjalanlah dengan teratut dan terukur. Anda pasti mendapatkan hasil yang sensasional. Paling tidak, itulah yang dikemukakan oleh Marily Oppezzo dan Daniel Schwartz, yang mereka tulis dalam Journal of Experimental Psychology.

“Berjalan kaki dengan teratur dan terukur dapat membuka jalan pikiran terhadap ide, dan ini merupakan solusi sederhana dan nyata terhadap peningkatkan kreativitas.”

Untuk menggerakan otak, tulis kedua ilmuwan itu, salah satunya dapat dilakukan dengan menggerakan kaki.

Ilmuwan dari Stanford University mengungkapkan, berjalan kaki memiliki saling memiliki keterkaitan dengan pengembangan otak manusia. “Journal of Experimental Psychology,” media yang dikutip “nuga.co,” dengan tandas mengatakan, berjalan kaki dapat membuka jalan pikiran terhadap ide, dan ini merupakan peningkatkan kerja otak.”

Menurut kedua peneliti ini, terdapat keuntungan nyata saat tubuh bergerak. Bahkan usaha yang dibutuhkan tak perlu terlalu berlebihan dan tidak menyebabkan kelelahan.

Seperti disebutkan, berjalan hanya sekitar empat menit seminggu, dapat meningkatkan daya ingat dan cara berpikir kognitif secara signifikan. Sedangkan berjalan kaki setidaknya sepuluh menit sehari diketahui dapat meningkatkan kemampuan kreatif seseorang.

Meski belum terungkap alasan pasti di balik hal ini, para peneliti menemukan bahwa berjalan kaki mengalihkan korteks pre-frontal otak sehingga membiarkan ide baru masuk.

Tak hanya itu, berjalan kaki dapat meningkatkan mood seseorang menjadi lebih baik, memberikan perasaan lebih bebas untuk menelsurui ide-ide baru.

Menguatkan pendapat dua ilmuwan Stanford University itu, peneliti dari “Proceeding of the National Academy of Sciences” menjawabnya, ternyata otak mendapat manfaat karena sel-sel saraf di otak bisa dipacu pertumbuhannya oleh jalan kaki teratur atau tepatnya olehraga.

Lansia yang rajin olahraga, tulis ilmuwan Stanford seperti yang dirilis situs kesehatan “menshealth.com,” terbukti bisa menjawab tes psikologi dengan lebih baik.

Sebagian besar orang memiliki jumlah sel saraf yang konstan saat dewasa. Ketika bertambah tua, sel-sel saraf perlahan mati.

Sampai pertengahan tahun sembilan puluh-an para ilmuan berpikir bahwa kehilangan sel-sel saraf di otak itu tak mungkin tergantikan. Namun, percobaan pada hewan membalikkan asumsi itu dan membuktikan bahwa neurogenesis di otak dapat dipacu lewat olahraga.

Setelah berolahraga selama tiga bulan, semua responden tampak memiliki tunas-tunas sel saraf baru. Yang paling banyak adalah yang melakukan olahraga kebugaran kardiovaskular.

Ini juga dipercaya merupakan hasil pengubahan stem cell atau sel punca menjadi sel-sel saraf yang fungsional.

“Sangat menarik untuk melihat efek olahraga terhadap manusia untuk pertama kalinya,” ujar Scott Small, ahli ilmu saraf dari Columbia University Medical Center, yang juga menulis laporan bersama Fred Gage dari Salk Institute Neurobiologi.

Langkah pertama untuk memahami proses itu adalah dengan mencari tahu sel otak mana yang baru tumbuh dan apakah itu bagian otak yang perlu diremajakan. Dalam eksperimen Small dan Gage, sel-sel saraf baru tumbuh di bagian otak yang berfungsi mengatur pembelajaran dan memori. Daerah ini membantu otak mencocokkan nama dan wajah, satu keterampilan yang sangat mungkin berkurang ketika kita beranjak tua.

Olahraga tampaknya merestorasinya menjadi lebih sehat dan muda. “Ini bukan soal memperlambat proses penuaan, tetapi mengembalikan kemudaan,” kata Arthur Kramer, psikolog dari University of Illinois, AS.

Hasil penelitian Kramer juga menunjukkan efek pada frontal lobes, bagian otak yang melakukan tugas eksekutif seperti membuat keputusan, merencanakan dan melakukan banyak pekerjaan. Dengan teknologi pemindaian, ia menemukan frontal lobes membesar karena olahraga.

Dalam banyak penelitian sebelumnya ditemukan pria dan wanita usia enam puluh-an tahun yang rajin jalan kaki atau olahraga aerobik lain mengalami perbaikan fungsi luhur. Mereka berhasil menjalani tes psikologi dengan baik, menjawab lebih banyak pertanyaan dengan akurat dan cepat.

Walau pun olahraga bisa menumbuhkan sel-sel otak kembali, tapi para ilmuan, teutama di bawah terik matahari, ada risiko yang harus dihadapi, dari mulai dehidrasi hingga stroke.

Michael Bergeron, direktur Sanford Sports and Science Institute mengatakan, jika panas, lembab, dan tidak berangin, maka keringat tidak dapat berevaporasi sehingga tubuh tidak dapat efektif dalam mengeluarkan panas yang diproduksi tubuh dari olahraga.

“Ketika pengeluaran panas tubuh tidak efektif, maka suhu tubuh akan meningkat ke level yang berbahaya secara cepat,” kata dia.

Kendati demikian, olahraga di bawah terik matahari tidak perlu dihindari. Karena bagaimana pun olahraga itu baik dan risikonya bisa dihindari dengan cara yang tepat. Inilah beberapa kondisi yang mungkin bisa terjadi saat berolahraga di luar ruangan dan cara terbaik untuk mengatasinya.

sumber : www.menshealth.com

Exit mobile version