Site icon nuga.co

Berat Badan, Diet dan Rasa Lapar

Berat badan?

Siapa yang bisa membantah ia tidak merupakan problem “kejiwaan.”

Tanyakanlah kepada setiap wanita.

So pasti jawabannya bisa santai, mengerundel atau bersinyinyir.

Dan berat badan tentu punya hubungan langsung dengan  diet, terutama bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan.

Dampaknya tahu?

Yang “berperang” dengan  rasa lapar.

Makanya tak heran jika tak semua orang bisa tahan menjalani usaha penurunan berat badan.

Padahal, sebenarnya, prinsip diet sangat sederhana. Mengurangi asupan kalori dan memperbanyak aktivitas fisik. Dan jika  disiplin menjalankannya berat badan pasti akan turun.

Namun, biasanya penurunan itu bertahan sebentar.

Kebanyakan orang akan kembali ke berat badan semula, bahkan bisa lebih.

Dr.David Ludwig, ahli endokrinologi dan profesor nutrisi dari Harvard School of Public Health, menjelaskan mengapa fenomena diet yoyo itu bisa terjadi.

Ketika kita mengurangi kalori dari makanan sehari-hari, tubuh akan melawan balik. Yang utama adalah timbulnya rasa lapar.

“Rasa lapar itu sangat kuat dan mendasar. Kita bisa saja mengabaikannya selama beberapa hari, minggu, atau sebulan, atau menyiasatinya dengan minum air putih dan berjalan kaki. Tapi, rasa lapar sulit diabaikan selamanya,” katanya.

Ketika kita kelaparan, laju metabolik tubuh juga menurun karena tubuh sedang mengirit energi.

Ini berarti, secara alami kalori yang dibakar lebih sedikit, sehingga kita harus mengurangi lebih banyak lagi dari pola makan agar berat badan tetap stabil.

Jika pola itu kita lakukan cukup lama, otak akan mengira kita sedang kelaparan. Hal itu memicu respon biologi agar sel lemak mulai menyimpan kalori lebih banyak lagi. Padahal kita sedang berupaya mengurangi lemak tubuh.

“Dengan kata lain, diet tradisional menyebabkan kita melawan tubuh dan sistem biologi kita. Seharusnya kita bekerja sama dengan tubuh untuk penurunan berat badan yang tahan lama,” kata penulis buku Always Hungry? ini.

Ludwig menjelaskan, daripada membatasi ini-itu, seharusnya kita mengonsumsi makanan yang tepat.

Menurutnya, lemak yang sehat, misalnya alpukat, minyak zaitun, susu full lemak, kacang-kacangan, cokelat hitam murni, serta dressing salad, adalah makanan sahabat orang yang sedang diet.

Selama dua minggu, cobalah mengasup makanan-makanan tersebut dan mengurangi karbohidrat yang dihaluskan seperti terigu, nasi, cookies, serta camilan yang diproses lainnya. Termasuk juga sayuran mengandung pati seperti kentang.

“Rasa lapar biasanya akan reda karena tubuh kehilangan motivasi untuk menyimpan lemak. Kita boleh makan sepuasnya sayuran tak berpati, buah, ikan, kacang-kacangan, dan makanan utuh,” ujarnya.

Para ahli sepakat bahwa lemak yang sehat akan meningkatkan rasa puas dan kenyang, serta mengurangi rasa lapar.

“Lemak sehat membuat penurunan berat badan jadi nyaman. Gantilah karbohidrat tidak sehat dengan lemak sehat,” kata Dr.Lydia Bazzano profesor nutrisi dari Universitas Tulane.

Setelah dua minggu menjalani pola makan itu, kita bisa kembali mengonsumsi sayuran berpati dan serelia utuh seperti oat, quinoa, dan sebagainya, dalam jumlah sedikit.

Penelitian terhadap orang yang menjalani metode diet ini menunjukkan penurunan bobot tubuh hampir satu kilogram setiap minggu, tanpa tersiksa lapar atau pembatasan makan yang ketat.

Begitu berat badan berubah, tentu maksudnya menurun, Anda boleh kembali mengonsumsi karbohidrat yang diproses dalam jumlah sedikit.

Pola makan tersebut tidak radikal atau ekstrem. Tetapi, target kita untuk mendapatkan penurunan berat badan yang bertahan lama, sehat, dan sehat, bisa tercapai.

Bagaimana dengan olahraga?

Aktivitas fisik yang teratur memang penting untuk kebugaran dan kesehatan jiwa.

Tetapi, hanya melakukan olahraga saja tanpa melakukan perubahan pola makan tak akan berhasil menurunkan berat badan.

Untuk mempercepat penurunan berat badan, disarankan melakukan olahraga intensitas tinggi.

Walau semua jenis latihan olahraga bagus, tetapi olahraga dengan itnensitas tinggi terkait dengan perubahan gula darah yang membantu penurunan berat badan.

Semakin dewasa usia, metabolisme tubuh kian menurun. Pembakaran lemak menjadi energi tak lagi secepat dulu, apalagi di kantor Anda hanya duduk manis di depan layar komputer.

Tubuh rasanya makin melebar. Baju dan celana rasanya tak cukup lagi. Inilah waktu tepat untuk diet.

Memang, porsi makanan mulai dikurangi, gorengan dan makanan berlemak dihindari. Pun, olahraga rajin ditekuni. Tapi, setelah beberapa lama rutinitas ini dilakoni, berat badan tak kunjung turun.

Exit mobile version