Site icon nuga.co

Bau Mulut Mengindikasi Kanker Lambung

Betulkah bau mulut sebagai gejala dari kanker lambung? Sebuah studi yang dipublikasikan “British Journal of Cancer” mengungkapkan bau mulut merupakan indikasi paling kuat untuk menyimpulkan penderita memiliki penyakit kanker lambung. Menurut jurnal kesehatan yang mengutip sebuah hasil penelitian, bau mulut memiliki akurasi yang sangat tinggi untuk menentukan diagnosis bahwa si pasien sudah terkena kanker lambung. Akurasiny, menurut jurnal itu, mencapai sembilan puluh persen.

Namun begitu, penelitian yang dilakukan dalam durasi waktu yang sangat panjang dan telah disepakati oleh para ilmuwan kesehatan sebagai tonggak sejarah temuan paling maju dalam mendeteksi kanker lambung, tidak menjawab hubungan bau mulut bagi orang muslim yang menjalankan ibadah puasa.

Para pemeluk muslim yang melaksanakan ritual puasa selama bulan ramadhan, sering diindikasikan mengalami bau mulut. Bahkan, menurut kepercayaan pemeluk muslim, bau mulut itu adalah bagian dari ibadahnya. Dan tidak pernah ada penelitian apakah bau mulut itu punya hubungan dengan kanker lambung.

Toh, selama ini, kanker lambung merupakan salah satu jenis kanker yang paling sulit didiagonosis secara efektif. Namun studi baru itu, menurut para ahli kesehatan, akan bisa memberi jawaban yang tuntas untuk pengobatan penyakit lambung dimasa mendatang. Dalam studi yang dirilis oleh British Journal of Cancer diungkapkan para peneliti telah mengambil “sample” pada 130 pasien berpenyakit lambung dan menentukan sudah seberapa jauh perkembangan kanker tersebut.

Tes napas dilakukan dengan sebuah sensor nanomaterial untuk menganalisis zat kimia yang dikeluarkan dari napas. Zat kimia unik yang menyebabkan bau mulut mengindikasikan adanya perkembangan dari kanker lambung. Sejauh ini, metode ini adalah metode yang paling sederhana, tetapi akurat. Jika disetujui untuk dipergunakan secara luas, metode ini akan menjadi sebuah langkah besar bagi dunia kedokteran karena dapat mendeteksi kanker lambung dengan lebih akurat sedari dini.

Tes napas ditemukan oleh tim yang diketuai Dr Hossam Haick dari Technion-Israel Institute of Technology dengan sensor yang mengandung nanomaterial mikroskopik untuk menemukan partikel biomarker dari udara yang keluarkan dari napas. Metode tes napas ini disebut discriminant factor analysis (DFA) pattern recognition atau pengenalan pola analisis faktor diskriminan. Deteksi pola zat kimia dari napas dapat membedakan bau napas yang disebabkan oleh makanan yang baru saja dimakan ataupun dari konsumsi tembakau.

“Studi awal ini menyiratkan bahwa tes napas dapat menjadi alternatif untuk mendiagnosis kanker lambung, menggantikan endoskopi yang mahal dan butuh waktu lama,” kata Haick.

Selama ini, kanker lambung sangat sulit ditemukan pada stadium dini. Ia baru bisa terdeteksi setelah mencapai stadium lanjut sehingga terlambat untuk mendapatkan pengobatan yang efektif.

Kita bisa mengambil contoh pada perancang mode terkenal Ramli, yang kanker lambungnya baru terdeteksi ketika sudah mencapai stadium empat. Ramli mencari pengobatan ke banyak rumah sakit terkenal di dunia, tapi tidak menolong. Dan dia telah berpulang beberapa waktu lalu.

Kesulitan menemukan kanker lambung pada periode dini disebabkan gejala awalnya hampir mirip dengan gejala sakit pencernaan lainnya, misalnya sakit perut atau mulas. Kalau sudah memasuki stadium lanjut hanya operasi yang menjadi alternatif penyembuhannya.

“Dan hanya satu dari lima orang (penderita kanker lambung) yang dapat melakukan operasi sebagai bagian dari pengobatan. Sisanya biasanya sudah terlambat,” ujar Kate Law, direktur penelitian klinis di Cancer Research.

Menurut Law, temuan hubungan antara bau mulut dengan kanker lambung ini terus dikembangkan untuk memastikan validitasnya guna dapat digunakan secara luas. “Tes yang dapat membantu untuk mendiagnosis dini kanker lambung akan membuat harapan hidup pasien lebih besar,” ujar Law.

Sumber: Medical daily

Exit mobile version