Site icon nuga.co

Batuk Anak

Polusi udara. Cucu saya batuk. Ini merupakan kondisi yang umum terjadi, terutama ketika si kecil sedang menderita flu atau penyakit tertentu.

Namun, apabila anak mengalami batuk secara terus-menerus, apakah orangtua perlu mengkhawatirkan kondisi tersebut?

Batuk seperti apa yang harus mendapatkan perhatian lebih dari orangtua?

Penyebab anak batuk terus-menerus

Batuk yang tidak kunjung sembuh, berulang, bahkan hingga mengganggu aktivitas atau tumbuh kembang anak tentu merupakan suatu hal yang tidak kita harapkan sebagai orangtua.

Salah satu hal terpenting yang harus dipastikan adalah penyebab dari anak batuk terus-menerus, sehingga rencana terapi dan pengobatannya bisa disesuaikan.

Biasanya jenis jenis batuk yang mungkin dapat dialami oleh si kecil berdasarkan banyak penyebab.

Bisa akibat fisiologis

Yang dimaksud dengan batuk fisiologis adalah bagian dari mekanisme pertahanan tubuh manusia untuk mengeluarkan sesuatu yang asing dari saluran napas, seperti kotoran, lendir, dan sebagainya.

Batuk ini umumnya bersifat spontan dan tidak disertai dengan gejala-gejala lain.

Karena sifatnya yang spontan, batuk fisiologis hanya terjadi sesaat dan akan hilang dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan atau penanganan khusus.

Lainnya bisa patologis

Batuk berjenis patologis merupakan bagian dari gejala-gejala penyakit tertentu. Umumnya, intensitas dari batuk jenis ini semakin meningkat seiring dengan berjalannya waktu.

Selain itu, batuk patologis biasanya disertai dengan gejala lain dari suatu penyakit. Batuk ini dapat mengganggu aktivitas penderita dan tidak dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus.

Apabila anak mengalami batuk secara terus-terusan, bisa jadi batuk merupakan gejala dari alergi, asma, atau batuk karena  penyakit tbc.

Penyakit-penyakit itu menunjukkan gejala yang tidak jauh berbeda, yaitu batuk yang berulang.

Detailnya, pada anak yang memiliki alergi atau asma, tipe batuk yang dialami cenderung bersifat mudah kambuh dan selalu ada pencetus atau riwayat alerginya.

Apabila kondisi anak batuk terus-menerus berkaitan dengan penyakit tb, biasanya terdapat sumber penularan di rumah, terutama orang dewasa yang juga mengidap tbc.

Penularan lebih mudah terjadi apabila orang tersebut batuk secara aktif dan memiliki hasil kultur dahak yang positif mengandung bakteri.

Di samping batuk yang berulang, anak akan mengalami beberapa gejala tambahan seperti berat badan menurun dan suhu tubuh meningkat tanpa sebab yang jelas untuk beberapa waktu.

Untuk memastikan penyakit yang memicu anak mengalami batuk terus-menerus, dibutuhkan pemeriksaan yang tepat dan teliti agar kedua penyakit bisa dibedakan dan anak mendapatkan terapi pengobatan yang tepat.

Demam anak yang tak kunjung turun tentunya membuat ibu khawatir, apalagi bila si kecil sudah minum obat penurun panas.

Sambil memantau kondisi anak dan menjaga makan dan minumnya, sebaiknya cari tahu apa yang menyebabkan demam anak tidak kunjung turun dan cara mengatasi kondisi ini.

Yuk, simak tulisan ini.

Mengenai demam anak tidak turun.Penyebabnya

Gejala yang perlu diwaspadai saat anak batuk terus-terusan

Jika intensitas batuk yang dialami anak semakin sering dan tidak kunjung membaik, Anda perlu mengecek apakah terdapat gejala lain yang menyertai.

Beberapa tanda dan gejala yang harus diperhatikan orangtua ketika anak batuk terus-menerus  disertai demam tinggi sesak napas. muntah, nafsu makan dan minum berkurang, anak jadi kurus dan menjadi lemas dan tidak berdaya

Kondisi-kondisi tersebut harus ditindaklanjuti dan anak membutuhkan pertolongan sesegera mungkin. Usahakan Anda tidak menunda waktu untuk memeriksakannya.

Dengan demikian, dokter dapat memberikan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan anak Anda.

Sebelum membawa anak ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat, Anda dapat mengikuti beberapa tips di bawah sebagai pertolongan pertama.

Agar anak terhindar dari batuk berulang, kebersihan di dalam rumah wajib Anda jaga, terutama jika anak memiliki riwayat alergi tertentu.

Saat batuk sedang kambuh, jauhkan anak dari benda-benda yang mudah berdebu dan kotor, seperti karpet dan boneka berbulu.

Anda juga sebaiknya mengganti seprei dan membersihkan kasur anak secara rutin untuk menghindari  hewan tungau dan penumpukan debu.

Apabila rumah Anda menggunakan pendingin ruangan atau air condition, pastikan Anda memiliki jadwal rutin untuk membersihkan air conditioning agar debu tidak menumpuk.

Biarkan sinar matahari masuk ke dalam ruangan secukupnya agar tidak terlalu lembap.

Selain menjaga kebersihan di dalam rumah, Anda dapat memberikan makanan dan jajanan yang sehat untuk anak.

Pastikan bahan makanan yang dipilih tidak akan memicu alergi dan anak tidak sensitif dengan bahan tersebut.

Apabila anak masih batuk secara terus-menerus, Anda bisa memberikan obat batuk anak yang dijual bebas di pasaran tanpa resep dokter.

Batuk adalah cara tubuh melindungi diri dari bakteri dan mikroba penyebab infeksi dan penyakit.

Batuk sangat mungkin timbul dari iritasi terhadap lingkungan yang memicu si kecil sensitif (berdebu atau udara dingin).

Selain itu, batuk juga bisa timbul karena virus atau infeksi bakteri.

Terkadang batuk pada anak terdengar begitu keras dan kuat. Batuk yang kuat dapat berakibat muntah pada si kecil.

Kenapa bisa?

Pada umumnya, anak bisa muntah begitu saja setelah ia batuk amat keras. Batuk yang keras ini memicu kontraksi otot pada perut sehingga memungkinkan anak untuk muntah. 

Berikut beberapa penyebab anak terbatuk sampai muntah.

Dari laman kesehatan center for disease control and prevention, pertusis bisa menjadi penyebab anak batuk sampai muntah.

Pertusis atau batuk rejan bisa terjadi pada usia bayi, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Pertusis bisa berkembang setelah 5-10 setelah terkena paparan.

Gejala awal pertusis hidung meler, demam ringan, batuk ringan sesekali, dan apnea dikenal dengan henti napas.

Awalnya, pertusis tampak seperti batuk pilek biasa. Namun, jika tidak disembuhkan segera, bisa berlanjut lebih serius.

Gejala bisa berkembang ke arah paroxysms, batuk berulang yang cepat diikuti suara “whoop” saat batuk dengan nada yang tinggi. Disertai muntah saat atau setelah batuk pluselelahan setelah batuk.

Pada gejala batuk pilek biasa terkadang bisa jadi penyebab anak batuk sampai muntah. Si kecil yang sering batuk bisa memicu reflek muntah

Terkadang refleks ini hanya menimbulkan rasa mual saja, tetapi adapun yang membuatnya muntah.

Di samping itu, anak sakit batuk alergi yang memang memiliki asma, bisa memicu ia muntah.

Hal ini dikarenakan banyak lendir atau mukus yang mengalir ke dalam perutnya, sehingga menimbulkan rasa mual dan muntah. 

Rsv merupakan infeksi yang menyerang sistem pernapasan manusia. Gejala yang timbul juga mirip dengan batuk pilek.

Sebagai contoh, demam, hidung terseumbat, batuk-batuk, mengi, napas pendek, kulit pucat berwarna biru.

Penyakit ini tidak berbahaya, tetapi perlu ditangani segera. Rsv juga menjadi penyebab anak mengalami batuk yang berulang sehingga memengaruhi refleks muntah.

Rsv perlu segera ditangani karena bisa mengakibatkan komplikasi yang merambat pada pneumonia pada anak dan bronkitis

Ada beragam penyebab batuk sampai muntah. Namun, sebelum anak sampai pada tahap batuk dengan intensitas serius, seperti terlalu sering dan kuat, ada baiknya segera diobati.

Ibu bisa membawanya ke dokter langsung atau mengobatinya secara mandiri dengan obat yang dijual di apotek.

Dengan begitu, gejala dan keluhan anak bisa segera ditangani.

Bila si kecil mengalami gejala seperti batuk, pilek, demam, ataupun flu ibu memberikannya obat dengan kandungan phenylephrine.

Kandungan tersebut membantu melegakan hidung tersumbat akibat batuk pilek, alergi, ataupun hay fever. 

Seperti ditulis laman medicine plus, konsumsi phenylephrine juga dapat mempercepat pemulihan batuk pilek.

Selalu baca aturan pakai pada kemasan obat agar obat bisa bekerja secara optimal.

Jangan lupa ingatkan si kecil untuk istirahat, sehingga ia bisa cepat sembuh dan gejalanya berangsur menghilang.

Namun, bila Anda ingin memastikan diagnosis mengenai batuk yang dialami si kecil, ada baiknya konsultasikan ke dokter.

Exit mobile version