Site icon nuga.co

Batasi Garam, Usia Bisa Lebih Panjang

Ternyata benar apa yang dianjurkan selama ini. Membatasi asupan garam akan menghasilkan umur panjang plus menjauhkan kita dari penyakit jantung.

Seperti ditulis “daily mail,” hari ini, Rabu, 11 Januari 2017, muncul analisis baru terhadap kebiasaan pola makan gram setiap hari yang harus dibatasi.

Menurut “mail,” kebiasaan makan garam yang setara dengan sebungkus keripik kentang ternyata dapat mencegah ribuan kematian tak perlu.

Periset dari Tuft University, Boston percaya bahwa mengurangi asupan garam sampai empat ratus miligram bahkan dapat menyelamatkan uang tiga miliar dolar untuk biaya perawatan kesehatan.

Di seluruh dunia diperkirakan terdapatsatu koma enam juta kematian setiap tahun karena penyakit jantung.

Para peneliti mengklaim membatasi asupan garam merupakan cara yang lebih efektif secara biaya daripada menggunakan obat-obatan.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, sebuah tim peneliti berbasis di AS dan Inggris mengukur keefektifan regulasi pengurangan garam sampai sepuluh persen lebih dari sepuluh tahun pada seratus delapan puluh tiga negara.

Pertama, mereka mengestimasi jumlah jumlah DALY (disability-adjusted life years atau tahun kehidupan yang disesuaikan dengan kecacatan – ukuran tahun yang hilang karena sakit) yang harus diatasi dengan kebijaksanaan di setiap negara.

Mereka menemukan, sebuah kebijakan global dapat menyelamatkan kurang lebih 5,8 juta DALY setiap tahun – khususnya melalui pengurangan drastis jumlah orang yang terkena penyakit jantung.

Mereka kemudian menentukan berapa banyak garam yang dikurangi yang bakal menyelamatkan uang atau biaya suatu negara.

Akhirnya mereka menemukan intervensi satu dekade dapat menyelamatkan stau koma dua belas dolar per orang, mengubah biaya menjadi dolar internasional, setara kemampuan daya beli negara tersebut terhadap mata uang dolar.

Peneliti Dariush Mozaffarian, seorang profesor gizi dari Tufts University Boston mengatakan,”Kami tahu kelebihan garam menyebabkan ratusan ribu kematian penyakit jantung dan pembuluh darah setiap tahun.”

“Pertanyaannya, bagaimana memulai mengurangi garam dan berapa banyak biaya yang dikeluarkan untuk usaha itu.”

“Hasil penelitian kami bersama studi-studi sebelumnya di negara-negara terpilih memberikan bukti bahwa kebijakan nasional pengurangan asupan garam sangat efektif dari segi biaya dan pada dasarnya merupakan strategi pencegahan penyakit yang sangat berbiaya efektif,” tambahnya.

WHO mengatakan kadar garam tinggi meningkatkan tekanan darah dan membuat penderitanya berisiko tinggi terkena penyakit jantung dan stroke.

Kelebihan konsumsi garam pun diketahui menyebabkan gagal ginjal dan kanker perut.

Salah satu cara mengurangi garam bisa juga ditempuh lewat diet DASH.

Diet Dietary Approaches to Stop Hypertension  dikenal sebagai metode diet yang menyehatkan.

Manfaat utama dari diet ini adalah untuk menurunkan risiko hipertensi hingga penyakit jantung.

Lalu, seperti apa aturan makan dalam diet DASH?

Spesialis penurunan berat badan dan pemerhati gaya hidup , Dr. Grace Judio-Kahl, MSc, MH, CHt, menjelaskan ciri khas diet DASH adalah membatasi asupan garam.

Dalam sehari asupan garam tak boleh lebih dari dua ribu tiga ratusmiligram atau setara satu sendok teh.

“Garam kalau terlalu tinggi kan enggak baik untuk kesehatan jantung dan bisa hipertensi,” katanya.

Grace mengatakan, diet ini juga menganjurkan kita pantang konsumsi keripik asin, aneka kue yang dibuat dengan pengembang kue, hingga junk food, karena rata-rata makanan tersebut tinggi sodium.

“Rasa asin dari garam bisa diganti dengan kaldu atau penyedap alami dari daun-daunan. Kalau di Indonesia mungkin bisa dengan daun jeruk atau sereh,” kata Grace.

Kemudian, diet DASH juga merekomendasikan asupan tinggi serat, daging, ikan, sayur dan buah-buahan, kacang-kacangan, hingga minyak yang sehat.

Menu diet DASH pun sudah dihitung kandungan sodiumnya sehingga sesuai dengan batasan yang dianjurkan

Grace mengatakan, untuk di Indonesia, menu yang mirip dengan diet DASH misalnya, makan pagi dengan telur dadar, keju rendah lemak, dan sayuran.

Kemudian makanan camilannya dengan yogurt rendah lemak dan buah.

Untuk makan siangnya, bisa dengan nasi merah, ayam atau ikan dengan sedikit minyak, dan sayuran. “Kalau karbohidrat pilih yang memiliki indeks glimkemik rendah,” kata Grace.

Makanan camilan kedua atau camilan siang misalnya buah-buahan dan kacang edamame. Untuk makan malamnya, sama seperti menu makan siang, yaitu ikan atau ayam, atau tahu dan tempe, sayuran, dan nasi merah.

Exit mobile version