Site icon nuga.co

Bagi Diabetasi Penyakit Bisa Jadi Bencana

Anda pernah tahu tubuh kita memiliki mekanisme untuk menjaga keseimbangan kondisi badan dan kebutuhan zat-zat pendukung aktivitasnya?

Nah, hormon glukagon, misalnya, akan otomatis mengatur kadar gula darah, menyesuaikan kondisi vitalitas badan.

Untuk Anda tahu kala daya tahan  tubuh menurun, kadar gula darah akan meningkat didorong peningkatan produksi hormon glukagon ini.

Dalam kondisi normal, mekanisme tersebut bertujuan memastikan badan tidak kehabisan energi atau terpuruk terlalu dalam oleh penyakit.

Namun, cerita menjadi berbeda ketika mekanisme tersebut tetap terjadi pada penderita diabetes.

Lonjakan kadar gula darah akan memicu dampak yang tak diharapkan pada penderita penyakit ini.

Merujuk situs web diabetes.org, American diabetes Association mengulas bahwa pengidap diabetes butuh manajemen tubuh yang lebih ketat.

Artinya, penderita harus mengatur agar dirinya terhindar dari segala penyakit, seringan apa pun tampaknya.

Stres saja, misalnya, bisa jadi masalah besar bagi penderita diabetes

Reaksi hormonal akan membuat penderita diabetes hiperglikemia—kadar gula darah melebihi normal—karena reaksi hormonal terpicu oleh stres itu.

Karenanya, penderita diabetes harus pintar mengantisipasi semua kemungkinan terkait kondisi kesehatan dan mekanisme internal badan.

Meski sudah ditunjang dengan obat-obatan, kadar gula darah yang tinggi membuat tubuh pengidap lebih rentan terhadap penyakit.

American diabetes Association menyarankan pengidap diabetes lebih peka saat merasa gula darahnya tinggi.

Pemeriksaan darah secara rutin menjadi mutlak dilakukan. Terlebih lagi, pengidap diabetes kerap tak sadar saat kadar gula dalam darah tinggi.

Bila daya tahan tubuh terlanjur berada pada kondisi buruk, konsultasi ke dokter sebaiknya tak ditunda-tunda.

Ya, ada baiknya menyimpan daftar nomor telepon dokter atau ahli gizi untuk konsultasi sederhana sewaktu-waktu.

Nah, saat tubuh pengidap diabetes kurang sehat, makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi pun bisa jadi bencana besar.

Maka, menjaga pola makan harus dilakukan agar tetap sehat.

Misalnya mengganti nasi putih dengan nasi merah, juga mengubah cara memasak sayuran tumis menjadi direbus atau dikukus.

Harus menjadi catatan pula, sejumlah penyakit ringan nyaris tak bisa dihindari sekalipun segala pencegahan dilakukan.

Batuk atau demam pada hari-hari pergantian musim, misalnya.

Di saat-saat seperti itu, imun penderita diabetes akan semakin lemah. Risikonya, lagi-lagi, kadar gula yang naik.

Sudah begitu, mereka tak boleh sembarangan minum obat.

Untuk obat batuk, misalnya, ada pabrikan yang telah mengeluarkan varian sirup untuk mengatasi penyakit ini tetapi tidak memicu kadar kenaikan gula darah.

HerbaKOF, misalnya, adalah obat batuk yang menggunakan beragam bahan herbal alami.

Pertanyaan lantas muncul.

Apakah menjaga pola makan seperti itu sudah cukup bagi penderita diabetes?

Ketika seseorang sudah terlanjur terkena diabetes, apalagi tipe II, membenahi pola makan dan cara makan akan menjadi salah satu hal pertama yang harus dilakukan.

Namun, menu sehat tiap orang tak bisa disamaratakan.

Tiap orang punya kebutuhan nutrisi yang beragam, tergantung kondisi tubuhnya. Hal tersebut akan mempengaruhi jumlah dan takaranan makanan yang harus dikonsumsi.

Keunikan itu akhirnya membuat menu makanan sehat yang diterapkan penderita diabetes mestinya berbeda-beda pula.

Untuk mengetahui takaran makanan sehat sesuai kebutuhan, penderita sebaiknya melakukan cek kesehatan rutin.

Hasil dari cek kesehatan tersebut yang kemudian dijadikan acuan untuk mengetahui apa saja nutrisi dan seberapa takaran yang dibutuhkan oleh tubuh penderita.

Perlu diperhatikan, tingkat kadar gula darah selalu berkaitan dengan Kolesterol, dan tekanan darah.

Sehingga jika gula darah dan tekanan darah tinggi, kadar Kolesterol biasanya juga tinggi.

Nah, bila hasil cek kesehatan menunjukkan hasil seperti itu, sesuaikan menu makanan sehat untuk menggantikan menu-menu yang tidak hanya berisiko meningkatkan kadar gula darah tetapi juga kadar Kolesterol dan tekanan darah.

Exit mobile version