Site icon nuga.co

Sembilu Duka Si Lida dari Jati Warna

Hari itu ada sembilu duka yang membuat simpul nostalgia saya terurai dari sebuah rumah duka. Sebuah rumah duka di Jati Warna. Bekasi.

Rumah duka kakak sepupu saya si Lida.  Yang hari itu berduka karena suaminya berpulang. Berpulang setelah sakit menahun.

Si Lida yang saya sapa Uteh. Yang semua saudara dan sepupu dekat dan jauh juga memanggilnya Uteh. Uteh Lida.

Uteh yang sudah lama pergi dari sisi kami secara fisik. Tapi nggak pernah pergi di hati kami. Di kenanganan kami.

Kenangan yang utuh tentang lesek dan bisainya. Kenangan culete hebohnya.

Bisai,  lesek dan culetenya yang dihari suaminya, Mas Budi Rahadi berpulang, masih belum berkedip. Masih belum berkedip di usia ketujuh puluh lima tahunnya.

Bisai, lesek dan culete di hari suaminya berpulang lebih kosmopolitan. Kosmo karena perjalanan hidupnya. Perjalanan hidup yang panjang,

Perjalanan hidup yang bersentuhan dengan banyak kultur. Banyak strata sosial tanpa melunturkan Si Lida yang Tapaktuan.

Si Lida anak Alimuddin dan Nurafifah. Anak Abah dan Ibuk. Anak untuk sebutan di trah kami terhadap orang tuanya.

Sebutan yang sama disapakan untuk para gaek di trah keluarga besar kami

Saya sendiri, di hari duka itu, tak ingin melepas pandang  ke arah Si Lida yang bergarak lincah dalam balutan lesek dan bisainya menyapa setiap pelayat.

Pelayat heterogen dari berbagai starata kehidupan. Strata kehidupan dari pergaulan dari Si Lida,

Si Lida yang mampu menempatkan dirinya secara pas untuk berbagai starata itu sendiri.

Saya mendengar sendiri sapanya terhadap setiap pelayat. Sapa hangat. Sapa yang saya sendiri terperangah oleh hangatnya dan akrabnya. Juga tulusnya.

Dan untuk semuanya ini saya berdesah. Berdesah untuk membenarkan apa yang selama ini saya dengar dari pergaulan Si Uteh Lida.

Si Uteh Lida yang telah menempuh jalan panjang dengan Mas Budy.

Jalan hidupnya dengan Mas Budy yang humble.

Jalan hidup yang ia rentang sejak kanak-kanak, remaja dan berkeluarga

Jalan masa kanak-kanak yang aktif hingga di balut  bisai, lesek dan culete. Yang terus menjalar hingga  remajanya. Bisai dan lesek mamanjek batang jambu kaliang di gunung paraluang,

Atau pun mandi laut di pantai Lhok Keutapang dengan si Kaini anak toke Mak Suni. Ayah Ismail Suni dan mertua Yuliddin Away. Yang semua nama ini sudah berjirat.

Si Lida memang cosmo metropol dari kanak-kanaknya.

Ikut lomba nyanyi di lapangan dakek nagari batuah, Taluak nan Tapaktuan.

Jadi juara dari panggung ke panggung. Juara mendendangkan lagi milik P.Ramli. “Engkau Laksana Bulan.”  Melantunkan syair kepunyaan Said Efendi, Tinggi Gunung Seribu Janji.

Bahkan, kala gudang batu dekat boom di carocok Si Lida nggak mau kalah dengan culetenya. Culete banyanyi.

Banyanyi ketika tonel Oesman Gumanti membuncah Taluak.

Antahlah Lida. Lida yang Uteh kami.

Uteh yang mempertautkan dusanak. Uteh yang mancitok gulai si Piaah. Gulai si Midjah. Dan mambawok pinggan si Pipah, sang ibuknya, untuk duduk di palanta rumah tua.

Terlalu [anjang untuk saya tulis tentang si Lida sebagai potret remaja yang lincah. Si Lida yang berijazah es-er dan basikola es-em-pe antah  tamat atau indak inyolah yang tahu.

Itulah Si Lida dalam cuplikan tulisan ini. Bukan sebuah tulisan utuh. Sebab kalau ditulis utuh terlalu panjang untuk episode pembuka ini.

Dan saya berjanji akan menulis Si Lida di episode yang banyak nantinya.

Epiisode Tisahani maupun episode entah apa.

Dan di hari suaminya perpulang sangat elegan. Elegan dalam sikap kala menyapa tamunya. Kala cipika cipika dalam salam pelukan teman-temannya

Salam hangat yang silih berganti antara urai air mata dan sendatan kalimat yang terurai dalam bsisik. Kalimat tentang keikhlasan atas kepergian Mas Budy-nya.

Mas Budy yang di awal pernikahannya menerima si Lida apa adanya. Si Lida yang datang dari negeri di “naca” sana dan tak pernah canggung datang ke lingkungan seorang perwira.

Tak pernah tersendat dan tertatih dalam menata hidup yang heterogen.

Hidup bersama Mas Budy seorang tentara di angkatan udara.

Tentara yang berpindah asrama. Berpindah kota dan berpindah tugas.

Berpindah klas jabatan hingga berada di elitisme ketentaraan. Ketika suaminya menyandang pangkat perwira tinggi.

Saya sendiri terperangah melihat kemampuan si Lida menempatkan dirinya yang tak ada canggungnya di hari itu. Melihat kemampuannya untuk menjadi “kota” tanpa ada bilur-bilur norak di wajah dan geraknya.

Semuanya alami.

Alami apa adanya.

Exit mobile version